Tidak pernah terbayang saya akan bisa menginjakkan kaki dinegeri yang dirindukan Umat Islam itu. Bahkan tak pernah terpikir saya akan memeluk agama yang tadinya saya benci itu. Sebab, sejak kecil saya dan istri saya biasa hidup dilingkungan adat yang sama sekali bertentangan dengan ajaran Islam.
Memang, didalam masyarakat Dayak terdapat beberapa anak suku, yaitu Kenyah, Iban, Kayan, Bahau dan sejumlah kelompok kecil yang tersebar hampir diseluruh Kalimantan termasuk Sabah dan Serawak diwilayah Malaysia Timur. Namun akar budaya dan kepercayaan kami snyaris tidak berbeda.
Dulu suku Dayak dikenal sebagai pengayau tengkorak manusia. Cerita itu bukan dongeng semata. Memburu kepala musuh, baik sesama suku Dayak maupun suku lain, merupakan pilar utama budaya dan kepercayaan kami lantaran kepala yang baru dipenggal sangat penting bagi terciptanya kesejahteraan seisi kampung, sementara tengkorak lama makin luntur kekuatan magisnya. Untuk itu dibutuhkan perburuan terus menerus yang menyebabkan sering terjadinya peperangan, baik antar suku ataupun dengan masyarakat luar.
JASA PENGINJIL
Sebetulnya agama Islam sudah tersiar dari Tanah Jawa sejak abad ke-15, terutama di Kutai dalam wilayah kerajaan Hindu Mulawarman yang kini termasuk Provinsi Kalimantan Timur. Namun masyarakat Dayak tidak tertarik untuk menganut agama Islam karena kami dilarang berternak babi atau berburu celeng dan memakan dagingnya. Islam juga tidak membolehkan umatnya memelihara anjing. Padahal, babi dan anjing sudah menyatu dengan kehidupan kami dan tidak mungkin terpisahkan dari upacara adat dan ritus-ritus nenek moyang. Tak seorang pun penganjur Islam yang pernah memberi tahu bahwa ada keringanan-keringanan yang tidak terlalu keras menajiskan anjing dan babi, serta tidak terlalu memaksa seseorang yang baru membaca syahadat agar segera dikhitan. Seakan-akan keringanan itu sengaja disembunyikan. Yang kami ketahui, kalau memeluk agama Islam kami harus berpisah dari adat-istiadat dan kebiasaan lama. Sedikit saja menyimpang dan tetap melaksanakan tradisi para orang tua, kabarnya kami akan dituduh musryik dan wajib masuk neraka (?!? - pen). Bukankah itu sungguh menyakitkan dan mengerikan ?
Berbeda dengak sikap para penginjil, baik dari kalangan agama Katolik maupun Protestan. Sesudah Perang Dunia berakhir mereka datang berduyun-duyun membawa hadiah, ilmu dan pengetahuan baru yang dapat mengubah cara hidup kami tanpa mengharu biru adat istiadat dan upacara ritual nenek moyang. kekawasan-kawasan terpencil. Perang antar suku tidak pernah terjadi lagi berkat jerih payah mereka. Kebiasaan mengayau kepala manusia sudah lama kami tinggalkan, juga agama asli. Dan hal itu terjadi tanpa memunahkan upacara adat yang oleh gereja tidak dilarang untuk dilakukan.
Sungguh mereka banyak berbuat untuk suku dayak, termasuk saya dan seluruh keluarga saya, yang sebagai pengikut Yesus dan Bunda Maria, segala kebutuhan hidup kami selalu dipenuhi. Oleh karena itu, untuk menanggung delapan orang anak dan seorang istri saya tidak pernah mengeluh walaupun selama lima belas tahun saya sepenuhnya hanya mengabdi kepada agama Katolik selaku penginjil. Sudah tak terhitung banyaknya penduduk yang dapat saya ajak masuk gereja. Apalagi sejak saya dianugerahi amanat memimpin umat Katolik didesa Bangkal oleh gereja Sampit. Makin menggebu-gebu semangat saya untuk mengibarkan panji-panji sang juru selamat dan menegakkan palang salib diberbagai penjuru. Saya tanamkan iman Kristiani kepada masyarakat kecamatan Danau Sembuluh tanpa pandang bulu. Malah cita-cita saya tidak saja menasranikan rakyat Sampit, ibu kota Kabupaten Kotawaringin timur, melainkan seluruh pelosok Provinsi Kalimantan Tengah.
MIMPI YANG MENAKJUBKAN (BERTEMU DENGAN NABI MUHAMMAD SAW)
Tiga tahun saya menerbangkan ayat-ayat Injil dimimbar gereja dan diberbagai persekutuan doa didesa bangkal dan desa-desa lainnya. Kemudian saya dipercayai pula untuk mengumandangkan misi gereja dikecamatan Cempaga sejak tahun 1978. Berkat kegigihan saya, hingga hampir segenap waktu saya tersita oleh kegiatan pelayanan rohani, saya berhasil mengajak umat dan berbagai pihak untuk bersama-sama membangun gereja yang besarnya lumayan, lengkap dengan asramanya.
Dua tahun saya mengucurkan keringat, memeras tenaga dan pikiran demi kejayaan agama Katolik melalui gereja yang saya dirikan itu. Sungguh bangga hati saya, sungguh mantap kaki saya. Namun dibalik kepuasan batin itu ada sesuatu yang terngiang-ngiang jauh didasar sanubari saya. Entah mengapa dan dari mana datangnya tuntutan itu tidak pernah terungkap sama sekali, yaitu tanda tanya yang tak mampu saya menjawabnya meskipun telah saya gali lewat firman-firman suci. Apakah betul yang saya tempuh berasal dari Tuhan ? Tidak kelirukah saya menyerahkan diri bulat-bulat dalam keyakinan itu ?
Kebimbangan tersebut betul-betul sangat menyiksa hidup saya dan senantiasa mengusik ketentraman batin saya. Seolah-olah ada sebuah lubang pada diri saya yang tidak mampu saya tutupi, malah saya rasa makin lama makin dalam dan lebar. " Ya Tuhan, kalau Engkau Maha Kuasa dan Maha Penyayang, tunjukkanlah kebenaran yang sempurna," demikian ratap saya tiap malam tatkala suasana sedang lengang dan kesunyian sedang mencekam sambil saya genggam rosario (kalung salib-pen) erat-erat.
Saya menggapai-gapai bagaikan hampir tenggelam ditengah-tengah samudera kehampaan. Saya berteriak nyaring ditengah gurun kesunyian. Saya merasa ditinggalkan sendirian dalam sebuah lorong gelap dan pengap setelah seberkas cahaya yang tadinya saya jadikan pedoman kian buram dan hampir padam. Saya merindukan sinar terang yang tidak menipu saya dengan bercak-bercak fatamorgana. Saya mendambakan jalan lurus menuju haribaan Tuhan yang Sejati dan Hakiki.
Tiba-tiba, pada suatu malam menjelang akhir Oktober 1980, ketika kesibukan untuk mengabarkan Injil dan menawarkan kerajaan surga tengah mencapai puncaknya, saya didatangi mimpi yang sangat aneh. Seorang lelaki berjenggot rapi mengunjungi saya antara tidur dan jaga. Pundak saya ditepuk dan tangan kanan saya ditariknya, Saya menoleh. Betapa takjub saya melihat sosok manusia yang begitu tampan dalam usia bayanya. Berpakaian serba putih dengan rambut berombak tertutup selembar kain halus yang juga berwarna putih, Ia tampak sangat agung dan anggun. Saya merasa damai oleh sentuhan pandang dan senyumnya.
Dituntunnya saya menjelajahi hamparan tanah yang tandus menuju sebuah gurun pasir yang luas dan gersang. Anehnya, meskipun matahari terik membakar, saya justru terlena oleh kesejukan yang indah dan menawan. Seolah gumpalan awan besar menaungi kami berdua.
Ketika tiba ditempat tujuan, entah dimana saya tidak tahu, ia mempersilahkan saya masuk kesuatu kawasan yang asing dan sakral. Saya lihat ribuan manusia berselimut putih-putih bergerak bak busa ombak mengelilingi sebuah bangunan hitam berbentuk kubus menjulang keatas membelah langit sambil berlari-lari kecil. Diantara mereka ada yang sedang bersujud dengan khusuk, banyak pula yang berebutan mengecup batu hitam kebiruan yang menempel di dinding kubus itu. begitu saya datang, kerumunan manusia tadi menyibakkan diri dan memberikan kesempatan kepada saya untuk memeluk dan mencium batu berkilat itu sepuas hati. Amboi, alangkah harumnya, alangkah tenteramnya.
Setelah itu Ia mengarak saya bersama gemawan ketempat lain yang pemandangannya amat berbeda, tetapi suasanannya sama, penuh keagungan. Saya bertanya, " Bangunan apa yang teduh ini ?" Ia menjawab, " Ini yang dinamakan Masjid Nabawi."
Sebagai penginjil saya pernah mengenal istilah itu, sebab mempelajari agama-agama lain adalah modal untuk membeberkan kebenaran kami dan membongkar kelemahan mereka. Oleh karena itu saya terkejut. mengapa saya dibawa kemari ?
" Gundukan tanah yang ditengah itu untuk apa ?" kembali saya bertanya. " Itu makam Nabi Muhammad," sahutnya.
Mendengar penjelasan itu saya pun makin kaget. Nabi Muhammad adalah pembawa ajaran Islam. Ada hubungan apa dengan saya sampai diajaknya saya berziarah kesini ?
Meski beribu kebingungan menyemak dihati saya dan berbagai tanda tanya merimbun dibenak saya, sekonyong-konyong, tanpa dimintanya saya bersimpuh didepan kuburan yang sederhana itu. Air mata saya menetes. Saya terharu walau pun tidak tahu mengapa bisa terharu. Saya cuma membayangkan betapa mulianya pemimpin kaum Muslimin itu yang pengikutnya ratusan juta orang, tetapi makamnya begitu bersahaja, yang ajarannya ditaati umatnya, namun kematiannya tidak boleh diratapi. Saya terpana sangat lama sehingga tatkala saya sadar kembali, lelaki yang mengantar saya tadi telah menghilang kedalam kuburan itu.
PANGGILAN HATI
Saya ceritakan mimpi saya kepada istri dan anak-anak saya. Mereka terkesima. Istri saya berkaca-kaca; saya tidak mengerti apa sebabnya. Barulah pada malam harinya, ketika kami cuma berdua, ia berkata :
"Saya yakin itu bukan sekadar mimpi. Itu panggilan. Dan kita berdosa kepada Tuhan apabila tidak mau mendatangi panggilan-Nya."
" Maksudmu ?" saya tidak paham akan maksud istri saya.
" Kita tanya kepada orang yang ahli agama Islam. Siapakah lelaki baya yang mengajak Abang itu. Dan bagaimana makna mimpi itu. Kalau memang benar merupakan panggilan Tuhan, berarti kita harus masuk Islam," jawab istri saya tanpa ragu-ragu.
Sayalah yang justru dilanda kebimbangan, terombang-ambing dalam iman Kristiani yang makin goyah. Apalagi tiap kali teringat akan salah satu surah Al-Quran yang pernah saya pelajari bahwa :
" Tuhanmu adalah Allah Yang Maha Tunggal, Yang Tidak Beranak dan Tidak Diperanakkan ..."
Saya ingin lari menghindari dengungan batin itu. Namun keyakinan saya tak cukup kuat untuk menahan deburan ayat-ayat itu.
Untungnya pada tahun 1983 gereja Sampit memindahkan saya ke Medan, tugas saya kedesa Resettlement untuk mengobarkan semangat Injil pada masyarakat setempat. Saya terima tugas itu dengan setengah hati sebab semangat Injil saya sendiri sedang meluntur ketitik paling rawan. Anehnya, saya merasa bahagia menerima keadaan itu, lebih-lebih ucapan istri saya yang tak pernah lenyap dari pendengaran saya.
" Kalau mimpi itu merupakan panggilan Tuhan, kita berdosa jika tidak mendatangi-Nya. Kita harus masuk Islam. "
Akhirnya, pada awal Maret 1990 saya sekeluarga mengunjungi Kantor Urusan Agama Kecamatan Mentawa Baru ketapang, sesudah lebih dulu mendapat penjelasan dari seseorang yang saya percayai memiliki pengetahuan mendalam tentang agama islam. Ia mengatakan bahwa lelaki dalam mimpi saya adalah Nabi Muhammad. Diterangkannya lebih lanjut bahwa tidak semua orang, termasuk kaum Muslimin, bisa memperoleh kehormatan bertemu dengan Nabi dalam mimpi. Dia meyakinkan saya bahwa mimpi itu bukan dusta, bukan kembang tidur, sebab Iblis pun tak sanggup menyerupai Nabi walaupun ia bisa menyamar sebagai Malaikat.
Itulah yang kian memantapkan tekad saya sekeluarga untuk memeluk ajaran Islam. maka dengan bimbingan Mahali, B.A. Kami mengucapkan dua kalimah syahadat disaksikan oleh para pendahulu kami, Arkenus Rembang dan Budiman Rahim, dari Kantor Departemen Agama Sampit. Nama saya, Iselyus Uda, diganti dengan Muhammad Taufik; istri saya menjadi Siti Khadijah. Begitu pula kedelapan anak saya yang memperoleh nama baru yang diambilkan dari Al-Quran.
Sepulang dari upacara persaksian itu dada saya terasa sangat lapang dan dunia makin benderang. Tengah malam saya mengangkat kedua tangan dan menggumam :
" Ya Tuhan, terpujilah nama-Mu telah datang kerajaan-Mu. Syukur kepada-Mu, Ya Allah, untuk anugerah kebenaran ini."
MENEBUS MIMPI
Sejak hari paling bahagia itu saya mulai berangan-angan kapankah pemandangan dalam mimpi saya dulu itu bisa terwujud. Saya merindukan Tanah Suci tempat kelahiran Nabi dan tempat Jenazahnya dimakamkan, yaitu Mekkah dan Madinah. Kecuali dengan Kuasa Allah, rasanya mustahil terlaksana mengingat kemampuan ekonomi saya tidak secerah semasa menjadi penginjil. Akan tetapi saya tidak mengeluh. Memang disegi materi terjadi penurunan, tetapi disegi yang lain kehidupan kami bertambah makmur dan sejahtera.
Kekurangan kami sedikit kami anggap biasa, itulah ujian iman. Sebab ternyata materi bukan segala-galanya. Yang penting, anak-anak dapat melanjutkan pendidikan mereka dan kebutuhan sehari-hari kami tercukupi. Adapun hidup berlebihan bukan tujuan utama. Buat kami sudah puas dengan kaya dihati dan rezeki yang halal.
Saya tidak tahu apakah keikhlasan itu diterima Tuhan, ataukah lantaran sudah tertulis didalam Takdir-Nya bahwa saya sekeluarga harus menjadi Muslim dan Muslimat yang kuat. Peristiwa yang terjadi dua pekan setelah kami masuk Islam membuat saya makin bersyukur kepada Allah, yaitu ketika Kakandepag Kotawaringin Timur, Drs. H. Wahyudi A. ghani, bertamu kerumah saya di No.19 Desa Resettlement. Ia tidak hanya bertandang, tetapi mengantarkan tebusan mimpi.
Ia mengabarkan bahwa Menteri Agama, H. Munawir Syadzali, M.A. menaruh simpati kepada saya dan berkenan memberangkatkan kami suami istri untuk menjalani ibadah Umrah. MasyaAllah, alangkah akbarnya Engaku, alangkah luasnya kasih sayang Engkau. Sungguh saya tidak mampu menggoreskan pena atau menggerakkan lidah guna menggambarkan kegembiraan dan kebahagiaan saya.
Tidak bisa lain yang menggugah hati Menteri Agama, seorang petinggi negara diantara 170 juta lebih bangsa Indonesia, pasti Allah yang Maha Kuasa. Tanpa kehendak-Nya mana mungkin perhatiannya terlintas kepada seorang warga desa terpencil di Kalimantan Tengah ini, padahal kegiatannya selaku menteri tidak kepalang sibuknya.
Saya dan istri langsung melakukan sujud syukur walaupun kepergian kami tertunda beberapa bulan. Sedianya kami akan diberangkatkan pada Juli 1990; namun karena terhalang oleh musibah Mina, terpaksa diundur ke bulan Januari 1991.
Akhirnya kami kesampaian mewujudkan pemandangan dalam mimpi dengan melaksanakan tawaf mengelilingi Ka'bah, menunaikan sai antara Shafa dan Marwah, serta berziarah kemakam Rasulullah Saw. Dikaki Tuhan, ditengah dekapan Tanah Haram ,kami memohon agar diberi kekuatan dan kenikmatan iman dalam Islam. Juga kami meminta supaya Tuhan menunjuk kami untuk menyebarkan janji-janji-Nya.
Agaknya doa kami ditempat-tempat mustajab di Mekkah dan Madinah mulai dikabulkan-Nya. Buktinya, setiba kembali dari Tanah Suci ada seorang hartawan yang tidak ingin disebut namanya, mewakafkan sebidang tanah kepada saya. Luasnya lebih dari cukup untuk mendirikan madrasah dan sarana-sarana pendidikan lainnya.
Saya berniat menghabiskan sisa umur saya untuk membayar dosa-dosa pada masa silam tatkala lima belas tahun lamanya saya bekerja keras memurtadkan umat Islam dan merayu semua orang agar mengikuti keyakinan saya kala itu. Mudah-mudahan saya mampu menerapkan pengetahuan dan pengalaman saya bagi kejayaan agama yang baru saya peluk secara resmi dalam setahun ini (pada saat cerita ini diceritakan pertama kalinya-pen). Semoga ALlah menerima tobat saya dan memudahkan jalan bagi saya, juga istri dan anak-anak saya, untuk mematuhi segala perintah-Nya dan menghindari semua larangan-Nya.
======================== Akhir cerita ==========================
Penutup, dari penulis :
Akhirnya Apa yang bisa kita ambil dari cerita diatas? Semoga saja banyak hal-hal positif yang dapat ditauladani serta dijadikan pelajaran sebagai penguat keimanan kita semua yang setiap harinya selalu dibayangi dengan kehidupan kota yang "sumpek" dan "memuakkan". Mohon maaf atas panjangnya rangkaian tulisan saya diatas, sebenarnya pada mulanya akan saya bagi menjadi dua bagian, namun setelah saya telaah kembali maka takutnya akan mengurangi makna dan "sentuhan" aslinya.
Terakhir, ada baiknya saya kutipkan beberapa ayat Al-Quran dibawah ini :
" Dan Kami naungi kamu dengan awan, dan Kami turunkan kepadamu "manna" dan "salwa". Makanlah dari makanan yang baik-baik yang telah Kami berikan kepadamu. Dan tidaklah mereka menganiaya Kami, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. "
(QS. 2:57)
" Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun.Dan didapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amalnya dengan cukup dan Allah sangat cepat perhitungan Nya. "
(QS. 24:39)
" Dan memberinya rezki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. "
(QS. 65:3)
Wassalamualaikum Wr. Wb.
TERTAWA DI DUNIA MENANGIS DI AKHIRAT
Dalam satu hadith, Nabi saw bersabda'Banyak tertawa dan tergelak-gelak itu mematikan hati'.
Banyak tertawa menjadikan hati semakin malap dan tidak berseri. Lampu hati tidak bersinar dan akhirnya terus tidak menyala. Hati tidak berfungsi lagi.
Nabi Muhammad melarang ummatnya darigelak-ketawa yang melampuai batas. Menurut hadith, banyak ketawa menghilangkan akal dan ilmu. Barangsiapa ketawa tergelak-gelak, akan hilang satu pintu daripada pintu ilmu.
Kenapa dilarang ketawa berdekah-dekah? Dalam keadaan suka yang keterlaluan, hati kita lalai dan lupa suasana akhirat dan alam barzakh yang bakal kita tempuhi kelak. Sedangkan dahsyatnya alam tersebut tidak dapat dinukilkan dalam sebarang bentuk media. Kita sedangmenuju ke satu destinasi yang belum tentu menjanjikan kebahagiaan abadi.Sepatutnya kita berfikir bagaimana kedudukan kita di sana nanti, sama adaberbahagia atau menderita. Berbahagia di dunia bersifat sementara tetapidi akhirat berpanjangan tanpa had. Penderitaan di dunia hanya seketikatetapi di akhirat azab yang berterusan dan berkekalan. Merenung dan memikirkankeadaan ini cukup untuk kita menghisab diri serta menyedarkan diri kitatentang bahaya yang akan ditempuh.
"Tertawa-tawa di masjid menggelapkansuasana kubur". Demikian ditegaskan oleh Nabi saw. Kita sedia maklum, kuburialah rumah yang bakal kita duduki dalam tempoh yang panjang. Kita keseorangandan kesunyian tanpa teman dan keluarga. Kubur adalah satu pintu ke syurgaatau neraka. Betapa dalam kegelapan di sana, kita digelapkan lagi dengansikap kita yang suka terbahak-bahak di dunia.
Ketawa yang melampaui batas menjadikankita kurang berilmu. Apabila kurang ilmu, akal turun menjadi kurang. Kepekaanterhadap akhirat juga menurun. Nabi saw pernah bersabda: "Barangsiapa tertawa-tawanescaya melaknat akan dia oleh Allah (Al-Jabbar). Mereka yang banyak tertawadi dunia nescaya banyak menangis di akhirat."
Saidina Ali sentiasa mengeluh '....jauhnya perjalanan ... sedikitnya bekalan ....' Walaupun hebat zuhud dan ibadatbeliau, namun merasakan masih kurang lagi amalannya. Betapa kita yang kerdil dan malas beribadat ini sanggup bergembira 24 jam.
Dalam hadith lain, Nabi saw bersabda"Barangsiapa banyak tertawa-tawa, nescaya meringankan oleh api neraka."Maksudnya mudah dimasukkan ke dalam neraka.
Kita tidak pula dilarang menunjukkan perasaan suka terhadap sesuatu. Cuma yang dilarang ialah berterusan gembiradengan ketawa yang berlebihan. Sebaik-baik cara bergembira ialah sepertiyang dicontohkan oleh Nabi saw. Baginda tidak terbahak-bahak tetapi hanyater senyum menampakkan gigi tanpa bersuara kuat.
Para sahabat pernah berkata "Ketawa segala nabi ialah tersenyum, tetapi ketawa syaitan itu tergelak-gelak."
BANGUNAN YANG TIDAK RUSAK DAN PEMILIK YANG TIDAK BISA MATI
Diriwayatkan seorang raja berhasil membangunkan kota dengan segala keperluannya yang cukup megah. Kemudian raja itu mengundang rakyatnya untuk berpesta ria menyaksikan kota itu. Pada setiap pintu, penjaga diperintahkan untuk menanyai setiap pengunjung adakah cela dan kekurangan kota yang dibangunnya itu.
Hampir seluruh orang yang ditanyai tidak ada cacat dan celanya. Tetapi ada sebahagian pengunjung yang menjawabnya bahwa kota itu mengandungi dua cacat celanya. Sesuai dengan perintah raja, mereka ditahan untuk dihadapkan kepada raja.
"Apa lagi cacat dan cela kota ini?" tanya raja.
"Kota itu akan rosak dan pemiliknya akan mati." Jawab orang itu. Tanya raja, "Apakah ada kota yang tidak akan rosak dan pemiliknya tidak akan mati?"
"Ada. Bangunan yang tidak boleh rosak selamanya dan pemiliknya tidak akan mati." Jawab mereka.
"Segera katakan apakah itu." Desak raja.
"Surga dan Allah pemiliknya," jawabnya tegas.
Mendengar cerita tentang syurga dan segala keindahannya itu, sang raja menjadi tertarik dan merinduinya. Apa lagi ketika mereka menceritakan tentang keadaan neraka dan azabnya bagi manusia yang sombong dan ingin menandingi Tuhan. Ketika mereka mengajak raja kembali ke jalan Allah, raja itu pun ikhlas mengikutinya. Ditinggalkan segala kemegahan kerajaannya dan jadilah ia hamba yang taat dan beribadah kepada Allah.
CINTA SEJATI
Seorang hamba sahaya bernama Tsauban amat menyayangi dan merindui Nabi Muhammad saw. Sehari tidak berjumpa Nabi, dia rasakan seperti setahun. Kalau boleh dia hendak bersama Nabi setiap masa. Jika tidak bertemu Rasulullah, dia amat berasa sedih, murung dan seringkali menangis. Rasulullah juga demikian terhadap Tsauban. Baginda mengetahui betapa hebatnya kasihsayang Tsauban terhadap dirinya.
Suatu hari Tsauban berjumpa Rasulullah saw. Katanya "Ya Rasulullah, saya sebenarnya tidak sakit, tapi saya sangat sedih jika berpisah dan tidak bertemu denganmu walaupun sekejap. Jika dapat bertemu, barulah hatiku tenang dan bergembira sekali. Apabila memikirkan akhirat, hati saya bertambah cemas, takut-takut tidak dapat bersama denganmu. Kedudukanmu sudah tentu di syurga yang tinggi, manakala saya belum tentu kemungkinan di syurga paling bawah atau paling membimbangkan tidak dimasukkan ke dalam syurga langsung. Ketika itu saya tentu tidak bersua muka denganmu lagi."
Mendengar kata Tsauban, baginda amat terharu. Namun baginda tidak dapat berbuat apa-apa kerana itu urusan Allah. Setelah peristiwa itu, turunlah wahyu kepada Rasulullah saw, bermaksud "Barangsiapa yang taat kepada Allah dan RasulNya, maka mereka itu nanti akan bersama mereka yang diberi nikmat oleh Allah iaitu para nabi, syuhada, orang-orang soleh dan mereka yang sebaik-baik teman." Mendengarkan jaminan Allah ini, Tsauban menjadi gembira semula.
MORAL & IKHTIBAR
§ Cinta kepada Rasulullah adalah cinta sejati yang berlandaskan keimanan yang tulen
§ Mencintai Rasul bermakna mencintai Allah
§ Kita bersama siapa yang kita sayangi. Jika di dunia sayangkan nabi, insyallah kita bersama nabi di akhirat nanti
§ Hati yang dalam kecintaan terhadap seseorang akan merasa rindu yang teramat sangat jika tidak bertemu
§ Pasangan sahabat yang berjumpa dan berpisah kerana Allah semata-mata akan mendapat naungan Arasy di hari akhirat kelak
§ Rasulullah amat mengetahui mana-mana umatnya yang mencintai baginda, meskipun baginda sudah wafat.
§ Rasulullah memberi syafaat kepada sesiapa di antara umatnya yang mengasihi baginda
Sebaik-baik sahabat ialah mereka yang berkawan di atas landasan keagamaan dan semata-mata kerana Allah.
BATU TERLEPAS DARI NERAKA
Pada zaman dulu, seorang nabi bertemu seketul batu kecil di tengah jalan. Beliau hairan dan tercengang melihat air mencurah-curah keluar dengan banyak melalui serkahan batu itu. Dengan izin Allah, batu itu boleh berkata-kata. "Semenjak aku dengar Firman Tuhan bahawa bahan bakar neraka ialah manusia dan batu, aku selalu menangis ketakutan!" Nabi itu bermohon supaya batu itu terlepas dari neraka.
Beberapa lama kemudian, nabi itu menjumpai batu itu sekali lagi dalam keadaan menangis seperti dulu. Beliau bertanya batu itu kenapa dia menangis lagi sedangkan dia terselamat dari menjadi bahan bakar api neraka. "Dulu aku mengangis kerana ketakutan tetapi sekarang aku menangis kerana bersyukur dan gembira!!"
MORAL & IKHTIBAR
o Batu adalah juga makhluk Allah yang mempunyai perasaan
o Batu menjadi bahan bakar api neraka selain manusia
o Makhluk jumud boleh berkata jika diizinkan Allah
o Orang yang kasyaf yakni mereka yang dibukakan oleh Allah pintu hijab dapat mendengar dan melihat perkara yang tersirat
o Hati manusia seperti batu yang keras - sukar menerima nasihat dan petunjuk kecuali mereka yang diizinkan
o Hati manusia bisa dilembutkan dengan cara tangisan seperti batu tadi. Menangis kerana takut akan azab Allah dan juga kerana rasa syukur dan gembira akan nikmat kurniaan Allah
o batu yang tidak mempunyai akal pun takut dibakar dalam neraka, betapa dengan manusia yang diberikan akal
o Manusia yang berhati batu tidak akan mendapat kurniaan dan rahmat Allah
o Ada batu yang terkecuali dari menjadi bahan bakar neraka seperti batu giling Siti Aisyah yang tidak henti-henti menggiling demi untuk menolongnya mengisar tepung.
BENCIKU BERBUNGA CINTA
Assalamu'alaikum w.w
Sambil menikmati dialog rekan-rekan tentang kristenisasi dan seluk beluknya, ada baiknya saya selipkan sebuah kisah nyata pengakuan seorang yang dulunya penganut KRISTEN fanatik, benci dengan Islam - namun kini telah kembali kepada FITRAH-nya dalam rangkulan ISLAM yang kini sangat di-CINTA-inya. Selamat membaca.
Oleh : Jendri Marisi Tamba
Anda mungkin pernah dengar benci asal dari sebuah kecintaan. Bila kita benci pada sesuatu, maka kebencian itu akan terus menghantui kita dan makin menggerogoti saja, tapi bisa juga kita tepis dari hati kita atau bisa juga menimbulkan kecintaan. Pendapat ketiga ini yang mungkin saya alami.
Lahir di Simalungun, 17 Mei 1972, dalam keluarga yang memeluk agama kristen. Sampai saya hijrah ke kota pendidikan ini untuk menimba ilmu, ajaran ini tetap saya pegang teguh. Walau pada akhirnya semua itu sekarang tinggal menjadi kenangan pahit saja bagi saya yang melepaskan beberapa tahun umur saya tanpa faedah dengan tidak memeluk agama Islam.
Sebelum timbulnya rasa kecintaan saya kepada Islam dan masukmenjadi penganutnya, yang ada dalam hati saya hanyalah rasa bencikepada Islam. Rasa kebencian itu merasuki jiwa saya yang sebenarnya belum mendalami tentang Islam. Yang saya ketahui hanyalah bahwa orang non-Kristen (bukan pengikut Kristus yang mengakuinya sebagai Anak Allah) ialah merupakan orang KAFIR. Dan di hari penghakiman nanti Yesus Kristus juga tidak akan mengakuinya, demikian juga dengan Bapa yang ada di Surga. Secara logika Kristen mengemukakan bahwa tiada agama yang lebih baik selain agama Kristen sehingga hanya penganutnyalah yang menjadi calon penghuni surga kelak.
Ajaran ini terus merasuk dalam hati saya, sehingga bilamana melihat orang non kristen maka hanya pikiran jelek yang merasuki pikiran saya, dan beranggapan bahwa orang itu ialah calon sahabat Luciver nanti di penyiksaan Neraka. Karena itu maka saya memilih milih teman bermain. Interaksi dengan non kristen saya jaga batas batasnya. Apalagi menurut anggapan kami (umat Kristen) orang Islam itu memebelotkan isi Al-Kitab, khususnya tentang Yesus yang tidak diakui sebagai Sang Penebus Dosa umat manusia.
Pada kenyataan selanjutnya saya ternyata tak bisa mempertahankan dan menegakkan pendapat saya itu. Berawal dari persahabatan dengan teman Muslim yang tidak dapat saya hindari, karena tak adanya alasan memusuhinya secara jasamaniah. Berawal dari berteman dan akhirnya terjadi dialog-dialog tentang agama masing-masing.
"Tuhan itu ialah Trinitas" itulah yang saya ungkapkan dalam banyak dialog tapi dia menyangkalnya dengan mengatakan bahwa Tuhan itu Esa, Dia zat yang Maha Agung, tidak beranak dan tidak diperanakkan. Logikanya bila Tuhan itu punya keturunan, berarti Tuhan itu tak ubahnya seperti kita. Sifat manusia ialah berketurunan, maka jika Yesus itu anak Allah, berarti Yesus pun akan memiliki keturunan. Hal yang kedua yang membuat `goyah' pendirian saya ialah Yesus itu Tuhan dan Tuhan itu ialah Trinitas berarti dalam pengertian Tuhan yang saya anut ada TIGA ZAT yang berkuasa atas umat manusia, maka akan ada perebutan pengaruh dari ketiganya terhadap umat mereka. Dan mereka tentu akan berbeda di beberapa ..... kenyataannya diri sebagai Roh Kudus maka hal itu bila kita terapkan pada sistem pemerintahan akan muncul dualisme. Apa ini bisa anda terima, begitupun saya. Bingung menelaahnya. Ditambah lagi dengan keterangan dari Dia (lihat Yohannes, 20:17). Dari keterangan-keterangan itu akhirnya timbul satu fikiran dalam otak saya yaitu ternyata ISLAM itu lebih masuk akal. Tuhannya hanya SATU, tidak beranak dan tidak diperanakkan. Al-Qur'an itu ialah benar dan asli karena dijaga sendiri oleh Tuhan sampai akhir jaman tanpa dibumbui oleh logika orang-orang pintar yang akhirnya malah menyesatkan ajaran yang sesungguhnya.
Murtad memang merupakan dosa besar, tapi akankah saya katakan yang salah itu benar, sedang yang benar itu salah ? Alhamdulillah, ternyata hati saya belum sekotor itu. Pertama kali mengucapkan dua kalimah syahadat tanggal 2 Februari 1993 membuat haru hati saya. Seolah saya dilahirkan kembali bak kertas putih, yang belum berisi tulisan-tulisan perbuatan saya yang telah lalu. Karena hakekatnya manusia lahirnya itu suci dan segala dosanya dia tanggung sendiri.
Mungkin kawan-kawan seagamaku dulu menganggap bahwa aku ialah orang yang berdosa dan mungkin paling berdosa karena murtad. Namun semua itu dapat saya tepis dengan keyakinan akan agama yang H A Q ini. Dan saya berkeyakinan bahwa justeru sayalah yang telah diberi cahaya Tuhan. Saya terima dengan lapang dada semua gunjingan tentang diri saya, apalagi ketika pulang kampung. Saya kasihan kepada mereka yang belum menemukan kebenaran jalan hidupnya. Belum mengerti akan apa yang mereka `benci' itu sebenarnya ialah suatu kebenaran yang mutlak. Semoga mereka di kelak kemudian harijuga diberikan cahaya (=hidayah; wasi'an) kebenaran yang sudah saya dapat kan sekarang. Dan semoga kebenaran Islam akan semakin menyertai segenap gerak langkah dalam hidup saya selanjutnya. dari isnet.
Berkat Kejujuran
Syeikh Abdul Kadir semasa berusia 18 tahun meminta izin ibunya merantau ke Baghdad untuk menuntut ilmu agama. Ibunya tidak menghalang cita-cita murni Abdul Kadir meskipun keberatan melepaskan anaknya berjalan sendirian beratus-ratus batu. Sebelum pergi ibunya berpesan supaya jangan berkata bohong dalam apa jua keadaan. Ibunya membekalkan wang 40 dirham dan dijahit di dalam pakaian Abdul Kadir. Selepas itu ibunya melepaskan Abdul kadir pergi bersama-sama satu rombongan yang kebetulan hendak menuju ke Baghdad.
Dalam perjalanan, mereka telah diserang oleh 60 orang penyamun. Habis harta kafilah dirampas tetapi penyamun tidak mengusik Abdul Kadir kerana menyangka dia tidak mempunyai apa-apa. Salah seorang perompak bertanya Abdul Kadir apa yang dia ada. Abdul Kadir menerangkan dia ada wang 40 dirham di dalam pakaiannya. Penyamun itu hairan dan melaporkan kepada ketuanya. Pakaian Abdul Kadir dipotong dan didapati ada wang sebagaimana yang diberitahu.
Ketua penyamun bertanya kenapa Abdul Kadir berkata benar walaupun diketahui wangnya akan dirampas? Abdul Kadir menerangkan yang dia telah berjanji kepada ibunya supaya tidak bercakap bohong walau apa pun yang berlaku. Apabila mendengar dia bercakap begitu, ketua penyamun menangis dan menginsafi kesalahannya. Sedangkan Abdul Kadir yang kecil tidak mengingkari kata-kata ibunya betapa dia yang telah melanggar perintah Allah sepanjang hidupnya. Ketua penyamun bersumpah tidak akan merompak lagi. Dia bertaubat di hadapan Abdul Kadir diikuti oleh pengikut-pengikutnya.
MORAL & IKHTIBAR
Ilmu Agama perlu dituntut meskipun terpaksa berjalan jauh.
Kata-kata ibu menjadi pendorong dan perangsang dalam hidup.
Berkata benar adalah satu kekuatan yang boleh memberi keinsafan kepada orang lain.
Niat yang baik dan ikhlas mendapat keberkatan daripada Allah.
BERKAT REZEKI KERANA SEDEKAH
Kekayaan tidak membawa erti tanpa ada keberkatan. Dengan adanya keberkatan, harta/rezeki yang sedikit akan dirasakan seolah-olah banyak dan mencukupi. Sebaliknya tanpa keberkatan akan dirasakan sempit dan susah meskipun banyak harta.
Dalam kisah Nabi, ada diceritakan Nabi Ayub ketika sedang mandi tiba-tiba Allah datangkan seekor belalang emas dan hinggap di lengannya. Baginda menepis-nepis dengan bajunya. Lantas Allah berfirman 'Bukankah Aku lakukan begitu supaya kamu menjadi lebih kaya?' Nabi Ayub mejawab 'Ya benar, demi keagunganMu apalah makna kekayaan tanpa keberkatanMu'. Kisah ini menegaskan betapa pentingnya keberkatan dalam rezeki yang dikurniakan oleh Allah.
Cara untuk mendapatkan keberkatan daripada Allah.
1. Bersyukur atas apa yang diberikan oleh Allah.
2. Belanjakan harta pada jalan yang diredhai oleh Allah.
3. Berusaha untuk mendapatkan rezeki yang halal
4. Keluarkan sedekah wajib (zakat) jika sampai nisab dan berikan sedekah sunat kepada orang miskin dan anak yatim.
5. Bersedekah kepada anak yatim/miskin kalau boleh setiap hari. (cari anak-anak yatim untuk diberikan). Insyallah akan diganti oleh Allah tanpa kita sedari.
6. Ikhlaskan pemberian/sedekah hanya kepada Allah bukan mengharapkan pujian dan sebagainya. (Pemberian tangan kanan tanpa diketahui tangan kiri). Sedekah mulakan dengan keluarga sendiri dahulu selepas itu barulah kepada jiran dan orang-orang yang lebih jauh. Jangan anggap pemberian itu hak kita sebenarnya dalam harta kita ada hak mereka.
7. Hulurkan pemberian sunat secara rahsia - tetapi pemberian wajib (zakat) perlu diberi secara terangan sebagai menegakkan syiar Islam.
8. Konsep sedekah : berikan sesuatu yang kita sayangi. Ini jelas dalam ayat Quran Ali Imran ayat 92
9. Cari harta dunia untuk dijadikan bekalan akhirat. (Dunia untuk akhirat - bukan dunia untuk dunia)
10. Amalan yang diberkati ialah hasil peluh sendiri dan juga melalui jualbeli (perniagaan). Menurut Nabi 9/10 (90%) daripada sumber rezeki ialah berpunca daripada perniagaan. Makan gaji mungkin 1/10 sahaja (10%). Nabi Muhammad sendiri sebelum diutus menjadi rasul adalah seorang ahli perniagaan yang jujur, cekap dan amanah. Peniaga yang amanah akan dibangkitkan bersama para nabi dan rasul di akhirat kelak. Perniagaan merupakan amalan fardu kifayah. Barang makanan orang Islam sepatutnya dikeluarkan sendiri oleh orang Islam. Kalau tidak ada menjalankan aktiviti ini, seluruh umat Islam berdosa.
11. Hulurkan bantuan kepada janda yang ketiadaan suami.
Dalam satu hadith, Nabi menerangkan setiap awal pagi, semasa terbit matahari ada dua malaikat menyeru kepada manusia di bumi. Yang satu menyeru 'Ya Tuhanku, kurniakanlah ganti kepada orang yang membelanjakan hartanya kerana Allah. Yang satu lagi menyeru 'Musnahkanlah orang yang menahan hartanya (lokek)'
Orang yang bakhil tidak manfaatkan hartanya untuk dunia dan akhiratnya. Menginfaqkan (Belanjakan) harta adalah berkat, sebaliknya menahannya adalah celaka. Dalam hadith lain, nabi bersabda takutilah api neraka walaupun dengan sebelah biji tamar. Dan sabdanya lagi Sedekah itu penghapus dosa sebagaimana air memadam api.
Sedekah walaupun kecil tetapi amat berharga di sisi Allah. Dan digalakkan memberi sedekah pada awal pagi.
Sekiranya dapat diamalkan perkara-perkara di atas, insyallah rezeki yang dikurniakan oleh Allah akan kekal walaupun telah digunakan. Allah akan membalas atau menggantikan apa yang telah dibelanjakan. Amalkan ilmu yang ada, nanti Allah akan menambahkan ilmu lagi. Begitu juga harta - belanjakan harta yang ada, Allah akan tambahkan lagi dari sumber yang kita tidak ketahui.
Sekian, wallahualam. Semoga yang baik datang daripada Allah dan yang buruk dari kesilapan sendiri.
KISAH BERKAT DI SEBALIK MEMBACA BISMILLAH
Ada seorang perempuan yang taat beragama, tetapi suaminya seorang yang fasik dan tidak mau mengerjakan kewajipan agama dan tidak mau berbuat kebaikan.
Perempuan itu sentiasa membaca Bismillah setiap kali hendak berbicara dan setiap kali dia hendak melakukan sesuatu sentiasa didahului dengan Bismillah. Suaminya tidak suka dengan sikap isterinya dan sentiasa memperolok-olokkan isterinya.
Suaminya berkata sambil mengejak, "Asyik Bismillah, Bismillah. Sekejap-sekejap Bismillah."
Isterinya tidak berkata apa-apa sebaliknya dia berdoa kepada Allah S.W.T. supaya memberikan hidayah kepada suaminya. Suatu hari suaminya berkata : "Suatu hari nanti akan aku buat kamu kecewa dengan bacaan-bacaanmu itu."
Untuk membuat sesuatu yang mengejutkan isterinya, dia memberikan uang yang banyak kepada isterinya dengan berkata, "Simpan duit ini." Isterinya mengambil duit itu dan menyimpan di tempat yang aman, di samping itu suaminya telah melihat tempat yang disimpan oleh isterinya. Kemudian dengan sembunyi sembunyi suaminya itu mengambil duit tersebut dan mencampakkan duit ke dalam sumur di belakang rumahnya.
Setelah beberapa hari kemudian suaminya itu memanggil isterinya dan berkata, "Berikan padaku uang yang aku berikan kepada engkau dahulu untuk disimpan."
Kemudian isterinya pergi ke tempat dia menyimpan duit itu dan diikuti oleh suaminya dengan berhati-hati dia menghampiri tempat dia menyimpan duit itu dia membuka dengan membaca, "Bismillahirrahmanirrahiim." Ketika itu Allah S.W.T. menghantar malaikat Jibrail A.S. untuk mengembalikan duit itu dan menyerahkan duit itu kepada suaminya kembali.
Alangkah terperanjat suaminya, dia merasa bersalah dan mengaku segala perbuatannya kepada isterinya, ketika itu juga dia bertaubat dan mulai mengerjakan perintah Allah, dan dia juga membaca Bismillah apabila dia hendak mengerjakan sesuatu kerja.
SAIDINA ALI DAN PEMINTA SEDEKAH
Siti Fatimah, isteri Saidina Ali didatangi seorang peminta sedekah. Ketika itu Saidina Ali mempunyai 50 dirham. Setelah menerima wang, pengemis itu pun balik. Di tengah jalan, Saidina Ali bertanya berapa banyak yang diberi oleh Saidatina Fatimah. Apabila diberitahu 25 dirham, Saidina Ali menyuruh pengemis itu pergi sekali lagi ke rumahnya. Pengemis itu pun pergi dan Fatimah memberikan baki 25 dirham kepada pengemis itu.
Selang beberapa hari, datang seorang hamba Allah berjumpa Saidina Ali dengan membawa seekor unta. Orang itu mengadu dalam kesusahan dan ingin menjualkan untanya. Saidina Ali tanpa berlengah menyatakan kesanggupan untuk membelinya, meskipun ketika itu dia tidak berwang. Dia berjanji akan membayar harga unta itu dalam masa beberapa hari.
Dalam perjalanan pulang, Saidina Ali berjumpa dengan seorang lelaki yang ingin membeli unta itu dengan harga yang lebih tinggi daripada harga asal. Saidina Ali pun menjualkan unta itu kepada orang itu. Setelah mendapat wang, Saidina Ali pun menjelaskan hutangnya kepada penjual unta.
Beberapa hari kemudian, Rasulullah saw berjumpa Saidina Ali lalu bertanya "Ya Ali, tahukah kamu siapakah yang menjual dan membeli unta itu?" Apabila Saidina Ali mengatakan tidak tahu, Nabi menerangkan yang menjual itu ialah Jibril dan yang membelinya ialah Mikail.
MORAL & IKHTIBAR
o Allah membalas atau memberi ganjaran berlipat ganda jika kita menolong orang yang dalam kesusahan.
o Memberikan bantuan kepada orang yang susah merupakan satu aset yang balasannya akan diterima di dunia lagi.
o Berikanlah bantuan kepada orang yang berada di dalam kesempitan kelak Allah akan melepaskan kita semasa kita berada dalam kesusahan.
o Keyakinan kepada balasan baik Allah merangsang kita untuk melakukan amalan dan kebajikan dengan lebih banyak.
SI-SOPAK, SI-BOTAK DAN SI-BUTA
Pada suatu hari Allah memerintahkan malaikat bertemu dengan tiga orang Bani Israil. Ketiga-tiga mereka cacat; seorang botak, seorang sopak dan seorang lagi buta.
Malaikat yang menyamar seperti manusia itu bertanya si-sopak "Jika Allah hendak kurniakan sesuatu untuk kamu, apakah yang kamu mahu?" Si-sopak menjawab, "Saya mahu kulit saya sembuh seperti biasa dan diberi kekayaan yang banyak." Dengan takdir Allah, kulitnya kembali sembuh dan dikurniakan rezeki yang banyak.
Kemudian malaikat bertanya si-botak soalan yang sama. Si-botak menjawab, "Saya mahu kepala saya berambut semula supaya kelihatan kacak dan diberikan harta yang banyak." Tiba-tiba, dengan kurnia Allah si-botak itu kembali berambut dan diberikan harta yang banyak.
Selepas itu malaikat bertanya si-buta pertanyaan yang sama. Si-buta menjawab, "Saya hendak mata saya dicelikkan semula dan diberikan harta yang banyak." Dengan takdir Allah, mata si-buta menjadi celik dan dikurniakan kekayaan yang melimpah.
Selang beberapa bulan, Allah memerintahkan semula malaikat untuk berjumpa dengan ketiga-tiga orang cacat itu. Kali ini malaikat menyamar sebagai peminta sedekah. Dia berjumpa dengan orang pertama yang dulunya sopak dan meminta sedikit wang. 'Si-sopak' itu tidak menghulurkan sebarang bantuan malah mengherdik malaikat. Malaikat berkata, "Saya rasa saya kenal kamu. Dulu kamu sopak..dan miskin. Allah telah menolong kamu." Si-sopak tidak mengaku. Dengan kuasa Allah, si-sopak yang sombong itu bertukar menjadi sopak semula dan bertukar menjadi miskin.
Kemudian malaikat berjumpa dengan si-botak yang telah menjadi kaya dan berambut lebat. Apabila malaikat meminta bantuan, si-botak juga enggan membantu, malahan dia tidak mengaku bahawa dia dulu botak. Oleh sebab sombong dan tidak sedar diri, Allah menjadikan kepalanya botak semula dan bertukar menjadi miskin.
Malaikat berjumpa dengan orang buta yang telah diberikan penglihatan. Apabila malaikat meminta bantuan, si-buta memberikan keseluruhan hartanya dan berkata, "Ini semua harta pemberiaan Allah. Ambillah kesemuanya. Mata saya yang kembali celik ini adalah lebih berharga daripada kesemua harta ini." Malaikat tidak mengambil pemberian itu. Dia memberitahu bahawa dia adalah malaikat yang pernah datang dulu. Kedatangannya kali ini ialah untuk menguji siapa di antara mereka bertiga yang bersyukur.
Si-buta yang bersyukur itu terus dapat menikmati kekayaan dan penglihatannya. Manakala si-sopak dan si-botak kekal dengan keadaannya yang asal.
MORAL & IKHTIBAR
o Allah mengurniakan kesenangan dan keselesaan adalah sebagai ujian untuk melihat siapakah di antara mereka yang bersyukur
o Manusia yang bersyukur Allah akan tambah kurniaan sebaliknya manusia yang kufur akan diazab oleh Allah
o Manusia seringkali lupa daratan apabila diberikan kemewahan dan kesenangan
o Sangat sedikit hamba Allah yang bersyukur
o Siapa yang tidak bersyukur kepada manusia, dia tidak akan bersyukur kepada Allah
o Allah memberi kurnia kepada sesiapa yang dikehendakiNya dan menarik nikmat daripada siapa sahaja yang dikehendakiNya
Sifat syukur adalah satu sifat yang terpuji, sebaliknya kufur (kufur nikmat) adalah sifat yang dicela oleh Allah.
ULAMA LAHIR & ULAMA BATIN
Seorang ulama Fiqh, Ibrahim Ar-Raqi mengunjungi seorang ulama Sufi, Abul Khair. Ketika itu azan Maghrib sedang berkumandang. Abul Khair terus mengimami jemaah termasuk Ibrahim. Semasa mendengar bacaan Fatehah Abul Khair yang mendatar dan tidak begitu sempurna, terdetik di hati Ibrahim tentang kekurangan pada Abul Khair dan sia-sia saja datang ke situ.
Selepas memberi salam, Ibrahim terasa hendak buang air lalu keluar dari rumah Abul Khair. Tiba-tiba dia ternampak seekor singa ganas menuju ke arahnya. Dia cepat-cepat berlari dan masuk semula ke rumah memberitahu Abul Khair tentang peristiwa tersebut.
Abul Khair segera turun ke halaman rumahnya dan berteriak dengan kuat kepada singa yang masih ada di situ, "Bukankah telah aku katakan jangan ganggu tetamu yang menziarahiku." Singa itu segera berlalu pergi seolah-olah faham akan apa yang didengarinya.
Ketika berada di rumah, Abul Khair berkata kepada Ibrahim, "Kamu asyik membetulkan amalan lahir sehingga kamu takut akan seekor singa. Kami pula asyik membetulkan amalan batin, maka singa yang ganas takut kepada kami."
MORAL & IKHTIBAR
o Ziarah-menziarahi adalah dituntut oleh agama Islam
o Keakraban hubungan bisa dibina melalui ziarah
o Allah tidak melihat kecantikan zahir tetapi mengambil kira kecantikan batin
o Amalan batin lebih berkesan dan bermanfaat daripada amalan zahir
o Amalan zahir masih belum dapat jaminan Allah selagi tidak diperbaiki amalan batinnya
o Ulama Sufi diberikan keistimewaan memandang sesuatu dengan mata hati (kasyaf) dan dapat melihat alam bathin yang Ulama Fiqh (zahir) tidak dapat menaglaminya
o Taqwa adalah amalan hati. Mereka yang taqwa disegani oleh manusia dan ditakuti oleh haiwan serta makhluk lain
o Nasihat yang ikhlas dan jujur hendaklah diterima dengan rasa ikhlas dan jujur juga.
NELAYAN MUKMIN DAN NELAYAN KAFIR
Pada zaman dulu, ada dua orang nelayan, seorang mukmin dan seorang lagi kafir. Pada suatu hari kedua-duanya turun ke laut untuk menangkap ikan. Semasa menebar jala, nelayan kafir menyebut nama tuhan berhalanya. Hasil tangkapannya amat banyak. Berlainan pula dengan nelayan mukmin. Apabila menebar jalanya, si-mukmin itu menyebut nama Allah. Hasilnya tidak ada seekor pun ikan yang tersangkut pada jaringnya. Hingga ke lewat senja, nelayan mukmin tidak berjaya mendapat sebarang ikan manakala si-kafir itu kembali dengan membawa ikan yang sangat banyak.
Meskipun pulang dengan tangan kosong, namun nelayan mukmin itu tetap bersabar serta redha dengan apa yang Allah takdirkan. Si-kafir yang membawa berbakul-bakul ikan pulang dengan rasa bangga dan bongkak.
Malaikat yang melihat keadaan nelayan mukmin ini berasa simpati lalu mengadu kepada Allah. Allah memperlihatkan kepada malaikat tempat yang disediakan olehNya untuk nelayan mukmin itu; iaitu sebuah syurga. Berkata malaikat "Demi Allah, sesungguhnya tidak memberi erti apa-apa pun penderitaan di dunia ini jika dia mendapat tempat di syurga Allah."
Setelah itu Allah memperlihatkan tempat yang disediakan untuk nelayan kafir. Berkata malaikat "Alangkah malangnya nasib si-kafir. Sesungguhnya tidak berguna langsung apa yang dia dapat di dunia dulu sedangkan tempat kembalinya adalah neraka jahannam."
MORAL & IKHTIBAR
o Kediaman mukmin adalah di syurga manakala kediaman kafir adalah di neraka
o Dunia adalah syurga orang kafir
o Kekayaan dan kemewahan di dunia tidak semestinya berkekalan di akhirat
o Kesusahan orang mukmin di dunia tidak seberapa jika dibandingkan dengan kenikmatan yang disediakan di syurga
o Kesenangan orang kafir di dunia tak berbaloi jika dibandingkan dengan azab seksa yang disediakan di neraka
o Kesenangan atau kesusahan seseorang bukan menjadi kayu ukur bagi keredhaan Allah; yang menjadi penentu ialah keimanan terhadapNya
o Kesusahan di dunia bukan bermakna Allah tidak menyukai seseorang
o Begitu juga kemewahan yang Allah berikan kepada seseorng bukan bermakna Allah meredhainya
o Redha di atas takdir Ilahi adalah sifat mukmin sejati
o Jangan berputus asa, kecewa atau sedih apabila melihat orang kafir senang dan mewah dalam kehidupan di dunia
o Keimanan seseorang adalah lebih mahal daripada dunia dan isinya.
Apalah maknanya kemewahan jika tidak mensyukuri dan beriman dengan Allah
TAUBAT SEORANG PEMINUM ARAK
Pada suatu hari, Khalifah Umar ibni Khattab berjalan-jalan di lorong-lorong dalam kota Madinah. Apabila sampai di persimpangan jalan, beliau terserempak dengan seorang pemuda yang membawa kendi. Ini menimbulkan sangkaan buruk Umar terhadap pemuda itu. Lantas Umar menyoal, "Apa yang engkau bawa itu?" Dalam keadaan ketakutan pemuda itu terketar-ketar menjawab, "Madu, wahai Umar.." Sebenarnya pemuda itu sedang membawa kendi arak.
Selepas berkata demikian, timbul perasaan insaf di hatinya untuk bertaubat dari minum arak. Dia menyesal melakukan perbuatan yang ditegah agama. Dia benar-benar berharap sambil berdoa supaya Khalifah Umar tidak memeriksa isi kendi itu. Namun Khalifah Umar tidak berpuas hati dengan jawapan yang diberikan oleh pemuda itu; lalu mengambil kendi itu untuk diperiksa.
Doa pemuda itu dikabulkan Allah. Apabila diperiksa, Baginda Umar dapati di dalamnya terdapat madu. Allah menukarkan arak menjadi madu. Dengan demikian pemuda itu terselamat dari tindakan Khalifah. Semenjak peristiwa itu, pemuda itu bertaubat dan berjanji tidak akan meminum arak lagi.
MORAL & IKHTIBAR
· Allah Taala sentiasa memperkenankan doa orang yang bertaubat ikhlas kepadaNya
· Setiap pemimpin mestilah bertanggungjawab terhadap apa yang dilakukan oleh rakyat yang dipimpinnya.
· Setiap pemimpin akan disoal mengenai kepimpinannya
· Kebajikan yang dibuat ikhlas kepada Allah menghapuskan dosa kejahatan yang dibuat sebelumnya
Dialog Abu Hanifah Dengan Ilmuan Kafir Tentang Ketuhanan
Imam Abu Hanifah pernah bercerita : Ada seorang ilmuwan besar, Atheis dari kalangan bangsa Rom, tapi ia orang kafir. Ulama-ulama Islam membiarkan saja, kecuali seorang, yaitu Hammad guru Abu Hanifah, oleh kerana itu dia segan bila bertemu dengannya.
Pada suatu hari, manusia berkumpul di masjid, orang kafir itu naik mimbar dan mahu mengadakan tukar fikiran dengan sesiapa saja, dia hendak menyerang ulama-ulama Islam. Di antara shaf-shaf masjid bangunlah seorang laki-laki muda, dialah Abu Hanifah dan ketika sudah berada dekat depan mimbar, dia berkata: "Inilah saya, hendak tukar fikiran dengan tuan". Mata Abu Hanifah berusaha untuk menguasai suasana, namun dia tetap merendahkan diri kerana usia mudanya. Namun dia pun angkat berkata: "Katakan pendapat tuan!". Ilmuwan kafir itu heran akan keberanian Abu Hanifah, lalu bertanya:
Atheis : Pada tahun berapakah Rabbmu dilahirkan? Abu Hanifah : Allah berfirman: "Dia (Allah) tidak dilahirkan dan tidak pula melahirkan"
Atheis : Masuk akalkah bila dikatakan bahawa Allah ada pertama yang tiada apa-apa sebelum-Nya?, Pada tahun berapa Dia ada? Abu Hanifah : Dia berada sebelum adanya sesuatu. Atheis : Kami mohon diberikan contoh yang lebih jelas dari kenyataan! Abu Hanifah : Tahukah tuan tentang perhitungan? Atheis : Ya. Abu Hanifah : Angka berapa sebelum angka satu? Atheis : Tidak ada angka (nol). Abu Hanifah : Kalau sebelum angka satu tidak ada angka lain yang mendahuluinya, kenapa tuan heran kalau sebelum Allah Yang Maha satu yang hakiki tidak ada yang mendahuluiNya?
Atheis : Dimanakah Rabbmu berada sekarang?, sesuatu yang ada pasti ada tempatnya.
Abu Hanifah : Tahukah tuan bagaimana bentuk susu?, apakah di dalam susu itu keju? Atheis: Ya, sudah tentu. Abu Hanifah : Tolong perlihatkan kepadaku di mana, di bahagian mana tempatnya keju itu sekarang? Atheis : Tak ada tempat yang khusus. Keju itu menyeluruh meliputi dan bercampur dengan susu diseluruh bahagian. Abu Hanifah : Kalau keju makhluk itu tidak ada tempat khusus dalam susu tersebut, apakah layak tuan meminta kepadaku untuk menetapkan tempat Allah Ta'ala?, Dia tidak bertempat dan tidak ditempatkan!
Atheis : Tunjukkan kepada kami zat Rabbmu, apakah ia benda padat seperti besi, atau benda cair seperti air, atau menguap seperti gas? Abu Hanifah : Pernahkan tuan mendampingi orang sakit yang akan meninggal? Atheis : Ya, pernah. Abu Hanifah : Sebelumnya ia berbicara dengan tuan dan menggerak-gerakan anggota tubuhnya. Lalu tiba-tiba diam tak bergerak, apa yang menimbulkan perubahan itu?
Atheis : Kerana rohnya telah meninggalkan tubuhnya. Abu Hanifah : Apakah waktu keluarnya roh itu tuan masih ada disana?
Atheis : Ya, masih ada.
Abu Hanifah : Ceritakanlah kepadaku, apakah rohnya itu benda padat seperti besi, atau cair seperti air atau menguap seprti gas?
Atheis : Entahlah, kami tidak tahu.
Abu Hanifah : Kalau tuan tidak boleh mengetahui bagaimana zat mahupun bentuk roh yang hanya sebuah makhluk, bagaimana tuan boleh memaksaku untuk mengutarakan zat Allah Ta'ala?!!
Atheis : Ke arah manakah Allah sekarang menghadapkan wajahnya? Sebab segala sesuatu pasti mempunyai arah?
Abu Hanifah : Jika tuan menyalakan lampu di dalam gelap malam, ke arah manakah sinar lampu itu menghadap?
Atheis : Sinarnya menghadap ke seluruh arah dan penjuru.
Abu Hanifah : Kalau demikian halnya dengan lampu yang cuma buatan itu, bagaimana dengan Allah Ta'ala Pencipta langit dan bumi, sebab Dia nur cahaya langit dan bumi.
Atheis : Kalau ada orang masuk ke syurga itu ada awalnya, kenapa tidak ada akhirnya? Kenapa di syurga kekal selamanya?
Abu Hanifah : Perhitungan angka pun ada awalnya tetapi tidak ada akhirnya.
Atheis : Bagaimana kita boleh makan dan minum di syurga tanpa buang air kecil dan besar?
Abu Hanifah : Tuan sudah mempraktekkanya ketika tuan ada di perut ibu tuan. Hidup dan makan minum selama sembilan bulan, akan tetapi tidak pernah buang air kecil dan besar disana. Baru kita melakukan dua hajat tersebut setelah keluar beberapa saat ke dunia.
Atheis : Bagaimana kebaikan syurga akan bertambah dan tidak akan habis-habisnya jika dinafkahkan?
Abu Hanifah : Allah juga menciptakan sesuatu di dunia, yang bila dinafkahkan malah bertambah banyak, seperti ilmu. Semakin diberikan (disebarkan) ilmu kita semakin berkembang (bertambah) dan tidak berkurang.
"Ya! kalau segala sesuatu sudah ditakdirkan sebelum diciptakan, apa yang sedang Allah kerjakan sekarang?" tanya Atheis. "Tuan menjawab pertanyaan-pertanyaan saya dari atas mimbar, sedangkan saya menjawabnya dari atas lantai. Maka untuk menjawab pertanyaan tuan, saya mohon tuan turun dari atas mimbar dan saya akan menjawabnya di tempat tuan", pinta Abu Hanifah. Ilmuwan kafir itu turun dari mimbarnya, dan Abu Hanifah naik di atas. "Baiklah, sekarang saya akan menjawab pertanyaan tuan. Tuan bertanya apa pekerjaan Allah sekarang?". Ilmuwan kafir mengangguk. "Ada pekerjaan-Nya yang dijelaskan dan ada pula yang tidak dijelaskan. Pekerjaan-Nya sekarang ialah bahawa apabila di atas mimbar sedang berdiri seorang kafir yang tidak hak seperti tuan, Dia akan menurunkannya seperti sekarang, sedangkan apabila ada seorang mukmin di lantai yang berhak, dengan segera itu pula Dia akan mengangkatnya ke atas mimbar, demikian pekerjaan Allah setiap waktu". Para hadirin puas dengan jawapan yang diberikan oleh Abu Hanifah dan begitu pula dengan orang kafir itu.
Kisah ini didapati dalam dua versi yang berbeda sedikit, satu mengatakan Atheis dan yang lain mengatakanya ilmuan kafir, persoalan-persoalan yang dikemukakannya adalah hampir sama, lalu saya gabungkan dan menyusunnya sekali.
KERA DENGAN TUKANG GUNTING
Bismillahir Rahmanir Rahim
Melihat remaja kita yang suka meniru-niru budaya asing, teringat saya satu cerita yang pernah dikisahkan oleh seorang guru semasa saya kecil dulu. Ceritanya begini:
Seekor kera berada di atas sepohon pokok. Dia ternampak seorang tukang gunting sedang menggunting rambut seorang budak di bawah pokok. Dia tertarik hati dan asyik melihat gelagat tukang gunting yang menggunakan gunting dan pisau cukur. Pekerjaan tukang gunting itu menarik perhatiannya sehinggalah selesai tukang gunting itu menggunting rambut budak itu.
Setelah selesai, tukang gunting itu pun beredar dari situ untuk makan. Dia meninggalkan perkakasannya di bawah pokok itu. Sang Kera segera turun dari pokok untuk melihat gunting dan cukur yang digunakan oleh tukang gunting tadi. Tergerak di hatinya untuk meniru perbuatan tukang gunting. Dia pun mengambil gunting lalu menggunting bulu/rambut di badan dan kepalanya. Setelah itu dia mengambil pisau cukur pula. Cepat-cepat dia meraut bulu di badannya. Dalam kegopohannya pisau cukur itu memotong sebahagian hidungnya. Kera menjerit kesakitan. Darah bercucuran mengalir dari mukanya. Sang Kera mula menyesal atas perbuatannya meniru perbuatan tukang gunting itu.
MORAL DAN PENGAJARAN:
1. Meniru perbuatan orang tanpa mengetahui baik buruknya boleh merosakkan diri sendiri
2. Jangan mudah terpengaruh dengan sesuatu budaya yang bercanggah dengan norma kehidupan kita
3. Mengambil hak orang lain tanpa memberitahunya terlebih dulu adalah satu kesalahan yang boleh menjadi sebab kepada kerosakan diri sendiri
4. Meniru budaya yang asing dalam kehidupan kita adalah bertentangan dengan naluri dan sunnatullah atau fitrah semulajadi.
Bukanlah dinamakan kebijaksanaan mereka yang suka meniru-niru sesuatu dari orang lain.
TAUBAT SEORANG PEMINUM ARAK
Pada suatu hari, Khalifah Umar ibni Khattab berjalan-jalan di lorong-lorong dalam kota Madinah. Apabila sampai di persimpangan jalan, beliau terserempak dengan seorang pemuda yang membawa kendi. Ini menimbulkan sangkaan buruk Umar terhadap pemuda itu. Lantas Umar menyoal, "Apa yang engkau bawa itu?" Dalam keadaan ketakutan pemuda itu terketar-ketar menjawab, "Madu, wahai Umar.." Sebenarnya pemuda itu sedang membawa kendi arak.
Selepas berkata demikian, timbul perasaan insaf di hatinya untuk bertaubat dari minum arak. Dia menyesal melakukan perbuatan yang ditegah agama. Dia benar-benar berharap sambil berdoa supaya Khalifah Umar tidak memeriksa isi kendi itu. Namun Khalifah Umar tidak berpuas hati dengan jawapan yang diberikan oleh pemuda itu; lalu mengambil kendi itu untuk diperiksa.
Doa pemuda itu dikabulkan Allah. Apabila diperiksa, Baginda Umar dapati di dalamnya terdapat madu. Allah menukarkan arak menjadi madu. Dengan demikian pemuda itu terselamat dari tindakan Khalifah. Semenjak peristiwa itu, pemuda itu bertaubat dan berjanji tidak akan meminum arak lagi.
MORAL & IKHTIBAR
· Allah Taala sentiasa memperkenankan doa orang yang bertaubat ikhlas kepadaNya
· Setiap pemimpin mestilah bertanggungjawab terhadap apa yang dilakukan oleh rakyat yang dipimpinnya.
· Setiap pemimpin akan disoal mengenai kepimpinannya
· Kebajikan yang dibuat ikhlas kepada Allah menghapuskan dosa kejahatan yang dibuat sebelumnya
BEDA KEINGINAN DAN KEBUTUHAN
( Cerita Abu Khubaisy kepada para muridnya )
Abdullah bin Umar, khalifah yang terkenal sebagai pembangun Bait al Maqdis, suatu hari terserang oleh suatu penyakit. Para asistennya, sangat mengkhawatirkan umur khalifah karena penyakitnya itu.
Ternyata Allah SWT belum berkenan memanggil Abdullah keharibaanNya. Khalifah berangsur-angsur pulih. Setelah agak mendingan keadaannya, Abdullah berniat hendak menyantap ikan panggang. Khalifah kemudian mengutarakan keinginannya itu kepada salah seorang asistennya.
Asisten yang setia itu, segera berusaha untuk memenuhi selera junjungannya. Ia pergi mencari ikan dan setelah mendapatkannya segera dipanggangnyalah ikan tersebut.
Abdullah bin Umar menghadapi ikan panggang yang baru saja diturunkan dari panggangannya. Aromanya begitu memikat, sehingga bertambah seleranya dan ingin segera menyantapnya.
Dalam keadaan yang siap santap itu, tiba-tiba muncul seorang musafir yang tampak sangat kelaparan. Serta merta Abdullah menyuruh pembantunya untuk segera mengangkat hidangan yang ada di hadapannya itu kepada sang musafir. Merasa jerih payahnya tidak dinikmati oleh Abdullah, asisten itu protes. Ia keberatan kalau makanan tersebut diberikan kepada musafir tadi. " Tapi ini makanan yang dengan sengaja saya buatkan untuk tuan dan sesuai dengan pesanan tuan." " Wahai, pembantuku ! Tahukah kamu bila aku memakan makanan ini, maka sebetulnya itu aku lakukan karena aku suka. Karena aku menyenanginya. Tetapi, bila musafir itu memakannya, maka itu ia lakukan karena memang ia butuh. Jadi makanan itu lebih berharga bagi dia daripada untukku. Jangan lupa, Allah SWT berfirman : " Kalian sekali - kali tidaklah memperoleh kebajikan sehingga kalian menyedekahkan apa - apa ysang kalian senangi ".
HAK SEORANG ISTRI
Ada sepasang suami istri yang dihadirkan ke hadapan Hakim Ka`ab Al As`adi. Perkara suami istri itu diajukan kepada Hakim karena pengaduan sang istri terhadap suaminya sendiri.
Maka ketika sidang mulai digelar, dengan meratap, si istri mengadukan hal-nya kepada sang Hakim.
" Tuan Hakim yang terhormat, aku mengadu kepadamu , memintamu untuk memberikan keadilan kepadaku ".
" Ya baiklah. Tapi jelaskan dahulu perkara apa yang hendak kamu ajukan kepadaku !".
" Aku mengadukan suamiku. Aku benar-benar tidak suka dengan cara hidupnya selama ini. Setiap hari kerjanya cuma sibuk beribadah. Tempat tidurnya adalah masjid. Ia jarang sekali untuk datang tidur bersamaku di tempat tidur kami dirumah. Setiap malam kerjanya cuma sholat melulu. Kalau siang hari terus menerus puasa. Aku hampir-hampir tak pernah ia perdulikan. Aku betul-betul tida senang dengan cara hidup yang seperti ini terus-menerus ".
Mendengar pengaduan si istri, hakim Ka`ab Al As`adi mengkonfirmasikan perihal tersebut kepada suaminya.
" Betulkah pengaduan oleh istrimu barusan itu ?"
" Benar, Pak Hakim !".
" Kalau begitu, apa maksudmu dengan semua kegiatanmu yang terus menerus seperti itu ?"
" Aku ingin menjadi ahli ibadah, Pak Hakim !".
Setelah tahu duduk persoalannya, Hakim Ka`ab lalu merenungkannya. Setelah mempertimbangkan jawaban-jawaban yang diutarakan sang suami secara mendalam, kemudian hakim memberikan keputusannya.
" Sebagai suami darinya, istrimu mempunyai hak atas dirimu. Kamu wajib memenuhi haknya itu. Allah SWT telah menghalalkan bagimu dua wanita, tiga wanita, atau sampai empat wanita untuk dapat kamu jadikan istrimu. Sekarang, istrimu kan hanya seorang. Itu berarti dalam empat hari berturut-turut kamu mempunyai waktu tiga hari untuk melakukan ibadah dan sehari dapat kamu gunakan untuk memenuhi kebutuhan biologis istrimu".
Keputusan hakim Ka`ab Al As`adi yang menetapkan tiga hari sekali untuk mengumpuli istri membuat khalifah Umar bin Khattab terkagum-kagum. Atas kebijaksanaannya yang mengagumkan itu, kemudian khalifah mengangkat Ka`ab sebagai hakim di Basrah.
Dikutip: Mutiara Hikmah 1001 kisah/1
Mencari Jodoh yang Islami
Pengasuh yang saya hormati,
Sebagai seorang pemuda yang sibuk mencari nafkah sambil kuliah, terus terang saya tak memiliki banyak kesempatan untuk bergaul dengan teman-teman lawan jenis. Alhamdulillah, sisa waktu kosong yang masih ada lebih senang saya habiskan untuk mengurusi masjid kampus bersama kawan-kawan.
Beberapa bulan lagi, insya Allah kuliah saya sudah akan berakhir. Beberapa orang kawan yang melihat kemapanan ekonomi saya (karena sudah bekerja sejak dua tahun lalu), mengajak saya mendatangi ustadz kami untuk berupaya mencari jodoh yang baik). Dari pihak saya pribadi, sebenarnya tidak terlalu besar dorongan untuk sesegera mungkin menikah, namun ajakan ini tetap saya hargai, sebab saya pikir tak ada salahnya juga.
Ustadz tersebut mengajak saya berdiskusi hingga akhirnya menyodorkan sebuah biodata disertai foto dari seorang akhwat yang telah siap menikah. Menurut beliau, akhwat tersebut sudah menyerahkan seratus persen kesdiaannya kepada sang ustadz untuk mencarikan jodohnya, sehingga ia sudah pasti bersedia dengan siapa saja yang akan disarankan ustadz. Maka tinggal keputusan dari pihak saya, apakah menerima atau menolak tawaran tersebut.
Sekarang, sudah dua pekan lebih biodata tersebut ada pada saya, namun hati saya masih juga ragu-ragu. Bukannya saya tak percaya kepada niat baik kawan-kawan dan ustadz, tetapi dari saya pribadi merasa sangat asing dengan pribadi yang disodorkan lewat biodata di tangan saya itu. Dalam hati saya selalu bertanya-tanya, seperti inikah cara terbaik bagi kita untuk mencari pasangan hidup? Tidakkah kita diberi kesempatan terlebih dahulu untuk sekedar bertemu dan mengenal calon pasangan sedikit lebih jauh? Beginikah cara Rasulullah menikahkan sahabat-sahabatnya di jaman beliau dahulu?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini yang masih menumbuhkan keragu-raguan dalam hati saya sebelum menentukan keputusan.
Dapatkan Bapak Pengasuh mmeberikan jalan keluarnya?
Pry di Sm
Jawab:
Saudara Pry yang dirahmati Allah,
Anda kini sedang berada dalam satu situasi yang mengharuskan Anda memilih satu pilihan yang nantinya akan sangat menentukan kehidupan Anda selanjutnya, dunia dan akhirat. Sudah selayaknya jika dalam persoalan ini kita berhati-hati dan beristiqamah untuk tetap berada pada jalur syariah.
Alhamdulillah, perjalanan kehidupan Anda telah dituntun oleh Allah dengan terpeliharanya kesucian pergaulan Anda, hingga saatnya menentukan calon istri. Tindakan Anda untuk mencari pasangan melalui ustadz sebagai orang ketiga adalah pilihan bijaksana, karena dalam pemilihan ini, pandangan orang ketiga yang obyektif akan sangat Anda butuhkan.
Namun kami memahami benar bagaimana perasaan Anda menjadi ragu-ragu karena belum bertemu langsung dengan akhwat yang dicalonkan menjadi pasangan hidup Anda itu. Perasaan ini adalah wajar dan bahkan secara syar'i memang telah diatur penyelesaiannya.
Bertemu dan melihat kondisi lahiriah calon istri memang tidak dilarang dalam Islam, bahkan dianjurkan oleh Rasulullah, asalkan sesuai dengan bingkai syariah yang telah ditetapkan. Anjuran seperti ini telah beliau sampaikan kepada para sahabat yang hendak menikah.
Rasulullah saw bersabda dalam sebuah hadis, “Jika kamu melamar pada wanita, maka jika bisa melihat pada wanita tersebut untuk dinikahi, maka laksanakanlah.” (Riwayat Jabir)
Mughirah bin Syu'bah meriwayatkan, suatu ketika ia melamar seorang wanita yang juga telah diketahui oleh Nabi. Maka Nabi pun bertanya, “Apakah kamu melihat pada calon istrimu itu?” Mughirah lalu menjawab, “Belum ya Rasulullah.” Maka Nabi pun mengatakan kepadanya, “Lihatlah wanita tersebut, karena yang demikian lebih banyak untuk mengekalkan persetujuan antara kamu berdua.” (hadits).
Anjuran Rasulullah untuk saling melihat antara calon suami istri, memang ada manfaatnya. Pertama, untuk mengetahui kondisi fisik calon istri secara garis besar, seperti wajah dan postur tubuhnya. Tak dapat dipungkiri, kecantikan dan ketampanan seseorang dapat turut berperan melanggengkan pernikahan. Benar bahwa pilihan pasangan hidup terbaik bagi kita adalah pertimbangan agamanya, tetapi dari sekian banyak yang agamanya bagus, maka kita dipersilakan memilih yang wajahnya lebih kita sukai, bukan?
Dengan diberikannya kesempatan untuk saling melihat sebelum menikah, maka masing-masing pihak diberi kesempatan untuk memilih. Tak ada alasan untuk kemudian kecewa setelah pernikahan berlangsung. Bukankah itu sudah hasil pilihannya?
Abu Hurairah meriwayatkan sebuah hadis, ketika datang seorang lelaki yang melamar seorang wanita Anshar dari Madinah. Lalu Rasulullah saw mengatakan pada calon suami itu, “Apakah engkau sudah melihat pada wanita tersebut?” Lelaki tersebut menjawab, “Belum.” Maka Nabipun berkata padanya, “Pergilah untuk melihat wanita tersebut, sebab pada mata orang-orang Anshar ada ciri khusus.” Maksudnya kemungkinan ada yang bermata sipit.
Selain diberikannya kesempatan untuk memilih, maka manfaat berikutnya dari pertemuan sebelum pernikahan itu adalah untuk menambah kebahagiaan masing-masing calon suami istri. Seperti juga Anda, banyak laki-laki saleh yang dalam perjalanan hidupnya mereka sangat menjaga pergaulan dengan lawan jenis, dan menghindari pertemuan-pertemuan yang tak penting. Akibatnya, hingga saat mereka siap menikah pun perasaan mereka biasa-biasa saja.
Keadaan akan menjadi lain jika si pemuda diberi kesempatan untuk bertemu langsung dengan calon istrinya, sehingga dalam dadanya mulai tumbuh gairah dan getar-getar cinta. Perasaan ini akan lebih membuatnya berharap-harap agar segera melaksanakan pernikahan. Dan masa pernikahan pun kemudian menjadi saat paling berarti dalam kehidupannya. Jabir bercerita, “Aku melamar seorang wanita bani Salamah, maka aku sembunyi secara diam-diam untuk melihat wanita tersebut, sehingga aku menyenanginya.”
Karena dianggap pentingnya melihat calon istri sebelum menikah, sehingga walau dengan diam-diam pun diperbolehkan. Namun begitu Islam memberi kesempatan pertemuan yang lebih baik sesuai dengan syariah, yaitu dengan ditemani muhrim dari sisi wanita. Mengenai hal ini Rasulullah memperingatkan, “Barangsiapa yang beriman pada Allah dan hari akhir, maka janganlah berduaan seorang laki-laki dengan wanita yang bukan muhrimnya, sebab yang ketiga adalah syetan.” (Hadis)
Jika dalam pertemuan itu tertarik pada wanita tersebut, maka ia dapat membuat persetujuan untuk pernikahan. Tetapi jika ternyata ia tidak senang pada wanita tersebut, maka tidak dibenarkan menghina kedudukan wanita itu, atau menyebar-nyebarkan kekurangannya. Sebab walau si wanita tidak disukai pelamar, maka kemungkinan akan ada laki-laki lain yang akan menyenanginya.
Begitulah anjuran Rasulullah untuk melihat terlebih dahulu secara langsung kondisi calon istri, karena hanya dengan membaca biodata dan melihat foto semata masih belum cukup menggambarkan keadaan yang sesungguhnya. Namun pertemuan satu atau dua kali saja pun sudah cukup, sehingga tak perlu dilakukan berulang-ulang, apalagi hingga keluar dari batas syariah yang diijinkan. Semoga, Anda bisa memperoleh pasangan yang tepat dan menggembirakan.
Surat al-Kahfi: 83-85 Berjuangpun harus mengikuti perhitungan yang logis
"Mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Dzulqarnain. Katakanlah: Aku akan bacakan kepadamu cerita tentangnya. Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya (di muka) bumi, dan telah Kami datangkan kepadanya sebab segala sesuatu, dan diapun mengikuti sebab-sebab itu."
Mukaddimah
Bukan nabi juga bukan rasul, tetapi kisah hidupnya diceritakan secara panjang lebar oleh Allah dalam al-Qur'an. Ia tidak lain adalah Dzul Qarnain, seorang yang sangat berkuasa, yang kekuasannya meliputi timur dan barat. Dzul Qarnain adalah seorang penakluk. Dia telah menang dalam beberapa pertempuran dalam waktu yang amat singkat. Dalam setiap kali bertempur, ia dan pasukannya selalu keluar sebagai pemenang. Begitu gemilangnya kemenangan yang diraihnya sehingga tidak seorang pahlawanpun, dari dulu hingga masa kini yang mampu menandinginya. Orang Barat menyebutnya Alexander the Great.
Pengungkapan kisah ini tentu saja bukan tanpa target. Allah secara sengaja mengungkap kisah di atas agar dijadikan pelajaran oleh ummat Islam yang rajin membaca dan pandai mencari ibrah atas segala peristiwa sejarah. Apalagi kemudian Allah sendiri dalam ayat di atas mengungkapkan rahasia di balik sukses besar yang dicapai oleh Dzul Qarnain. Apa rahasia kemenangan spektakulernya? Letak kemenangannya adalah pada pengetahuannya tentang sebab musabab. Pendek kata, ia jauh lebih pintar dibanding manusia sezamannya.
Ibnu Katsir ketika membahas ayat di atas meriwayatkan atsar dari Jabir bin Ammar, dia berkata: "Pada suatu kali aku bersama Ali ra. Seseorang bertanya kepadanya bagaimana Dzul Qarnain mampu sampai ke timur dan barat. Beliau menjawab, 'Maha suci Allah yang telah menundukkan awan baginya, memberinya sabab musabab, dan telah memanjangkan tangannya.'"
Hamba yang shaleh
Manusia telah ditunjuk oleh Allah menjadi khalifah-Nya di muka bumi. Tugas khalifah adalah memakurkannya, sebagaimana yang difirmankan dalam Al-Qur'an. Penunjukaan manusia menjadi khalifah di muka bumi sempat mengundang protes para malaikat. Mereka merasa lebih berhak ditunjuk sebagai pengelola bumi dibandingkan dengan makhluk baru yang bernama manusia. Dalam catatan belum pernah sekalipun para malaikat melakukan desersi atau pelanggaran. Semua titah dan perintah Allah dilaksanakan tanpa mengurangi titik komanya. Akan tetapi Allah mempunyai alasan lain atas penunjukan ini. Allah yang Maha Mencipta tentu Maha Mengetahui atas segala ciptaan-Nya. Dia tahu bahwa untuk mengelola bumi tidak cukup dengan modal ketaatan saja. Di samping ketaatan, harus dilengkapi dengan pengetahuan yang cukup tentang alam. Itulah sebabnya sebelum dilantik menjadi khalifah, Nabi Adam dibekali tentang nama-nama. Para ahli tafsir sepakat memberi makna nama-nama itu dengan pengetahuan tentang unsur-unsur yang terkandung pada setiap benda-benda alam.
Pengetahuan itu tentu saja tidak datang secara tiba-tiba, tapi melalui proses penelitian dan pengkajian yang panjang dan mendalam. Pada masyarakat yang masih primitif tentu pengetahuannya tentang alam sangat minim sehingga mereka hanya mampu memanfaatkan dan mengekplorasi secara minim pula. Sebaliknya pada masyarakat modern, di mana pengetahuan dan pemahamannya mengenai alam sudah begitu canggihnya, maka eksplorasi, bahkan eksploitasi alam terjadi secara besar-besaran.
Pada dasarnya Allah telah menundukkan alam sebagai fasilitas hidup bagi manusia. Asal mereka mampu mengungkap rahasia yang terkandung di dalamnya, mereka pasti mampu menguasainya. Seorang ahli botani yang menguasai rahasia tanah akan mampu menguasai tanah untuk berbagai kepentingan, utamanya yang berkaitan dengan pertanian dan perkebunan. Seorang insinyur sipil, dengan disiplin ilmunya bisa mendirikan bangunan hingga tingkat 100 lebih. Seseorang yang menguasai hukum-hukum ekonomi, tentu ia akan mampu menguasai sektor ekonomi. Dalam kaitan ini tidak ada syarat, apakah orang tersebut telah
beriman atau kafir. Siapa saja yang mampu membuka misteri alam dan fenomenanya, mereka akan dapat menguasainya. Dalam bidang apa saja, termasuk bidang politik, berlaku hukum yang sama, siapa yang menguasai ilmunya dan menerapkan sesuai dengan ilmunya, maka akan berkuasa. Setidaknya mereka akan dominan. Dengan demikian, kekuasaan politik, kekuasaan ekonomi, dan kekuasaan alam sepenuhnya dimenangkan oleh mereka yang memahami dan menerapkannya sesuai dengan rahasia-rahasia yang terkandung di dalamnya. Dalam bahasa yang lebih pas, Allah menyebutkan bahwa penguasaan bumi itu akan diwariskan kepada hamba-Nya yang shalih, sebagaimana firman-Nya: "Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa." (QS. An-Nuur: 55)
Shalih dalam pengertian ayat ini adalah siapa saja yang berlaku dan bersikap sesuai dengan sunnatullah di alam raya. Sebagai ilustrasi, di suatu malam di masjid yang megah, telah berkumpul ratusan orang yang tenggelam dalam dzikir-dzikir panjang. Masjid itu tinggi sekali melebihi bangunan yang lain. Para pengurusnya lupa memasang penangkal petir. Sedikit agak jauh dari mesjid itu ada bangunan yang tak kalah menariknya. Di bangunan ini berkumpul ratusan muda-mudi sedang menikmati pesta dansa. Mereka tenggelam dalam alunan musik yang menghentak-hentak, sambil tak lupa menelan pil ekstasi, koplo, dan aneka minuman keras. Pemilik bangunan ini sudah tahu bahaya yang akan timbul jika sewaktu-waktu ada petir, sehingga ia memasang penangkal petir di atas bangunannya. Maka bila esoknya ternyata yang tersambar petir justru bangunan masjid, tak perlu heran. Mereka yang 'menyalahkan takdir' dan bertanya kenapa rumah ibadah yang hancur berarti kurang menyadari bahwa keshalihan itu berkaitan dengan ketundukan manusia pada hukum-hukum alam alias sunnatullah.
Hukum sebab-akibat
Al-Qur'an memberi porsi perhatian yang sangat besar pada peristiwa-periistiwa masa lalu. Kisah-kisah tokoh bersama kaumnya disebut-sebut al-Qur'an di berbagai tempat agar kita mau meperhatikan bagaimana nasib mereka setelah melakuan perbuatan tertentu. Allah mengajak kita memperhatikan bahwa masyarakat manusia dikendalikan oleh sunnah dan hukum tertentu yang menentukan nasib akhir mereka. Sunnatullah adalah hukum-hukum yang berlaku secara relatif atau mutlak yang menentukan gerak kehidupan dan mahkluk hidup, yang mengatur perjalanan sejarah dan jatuh-bangunnya sebuah peradaban. Untuk itulah kita diperintahkan untuk melakukan perjalanan di muka bumi guna melihat berbagai kejadian sebagai akibat dari suatu tindakan, baik yang dilakukan oleh perorangan maupun oleh sebuah bangsa. Tidak cukup hanya menelusuri kehidupan manusia masa kini, bahkan kita diperintahkan juga melakukan berjalanan balik ke masa lalu, dengan melihat sejarah bangsa-bangsa terdahulu. Allah berfirman: "Katakanlah, berjalanlah kamu di muka bumi, perhatikanlah bagaimana kesudahan nasib orang-orang terdahulu." (QS ar-Ruum: 42)
Kita diperintahkan untuk memperhatikan sikap-sikap sombongnya Fir'aun, penguasa tiran yang sangat berkuasa. Melalui figur Fir'an kita diperintah mempelajari, bagaimana nasib akhirnya orang yang berlaku sombang dan memerintah sebuah negara secara otoriter. Selama ini banyak yang mengira bahwa sunnatullah yang eksak itu hanya mengenai alam, sementara dalam bidang sosial tidak terjadi hal itu. Padahal sama saja, baik ilmu alam maupun ilmu sosial itu sifatnya eksak atau pasti. Hanya saja dalam ilmu-ilmu sosial faktornya banyak sekali sehingga terasa sulit menemukan kepastiannya. Meskipun demikian kita tetap diperintah Allah untuk mengembangkan penelitian sosial, sehingga pada akhirnya kita dapat memahami hukum-hukum sosial yang berlaku secara umum.
Kesalahan ummat Islam sehingga mengalami kemunduan sekian lama, salah satunya adalah akibat dari sikap mereka yang kurang menghargai proses dan masalah sebab-akibat. Mereka merasa dengan beriman saja sudah cukup. Seolah-olah dengan iman itu mereka menjadi hamba-Nya yang istimewa, sehingga hukum sebab-akibat itu tidak mengenai dirinya. Sikap seperti inilah yang menghancurkan bangsa Yahudi dahulu, yang merasa mendapatkan perlakuan istimewa, bahkan menyebut dirinya mengaku sebagai anak-anak Tuhan. Perlu diketahui bahwa tidak ada orang yang diistimewakan sehingga ia terbebas dari hukumnya. Sebagai hamba Allah yang menyandang sifat khilaf dan lupa, tak pantas kita merasa diistimewakan Allah. Sikap seperti itu merupakan sifat kaum Yahudi yang mengaku sebagai kekasih-Nya, padahal Allah telah menantang mereka agar minta mati supaya bertemu dengan-Nya. Akan tetapi sungguh mereka takut juga menghadapi kematian.
Rasulullah adalah orang yang paling dekat hubungannya dengan Allah. Beliau adalah Nabi dan kekasih-Nya. Akan tetapi dalam hal ini Nabi Muhammad tetap memperhatikan hukum sebab akibat dalam urusan perjuangan memenangkan Islam. Contoh yang paling dekat adalah dalam peristiwa hijrah. Meskipun beliau yakin terhadap ayat di bawah ini: "Jika kamu tidak menolongnya, Allah sungguh menolongnya." (QS at-Taubah: 40). Juga percaya bahwa Allah memberi perlindungan penuh kepadanya atas semua gangguan manusia, sebagaimana yang difirmankan-Nya, "Allah memeliharamu dari manusia." (al-Ma-idah: 67). Akan tetapi Rasulullah tetap mengikuti jalan sunnatullah ketika berupaya menyelamatkan diri dari serangan musuh. Beliau tidak mengandalkan pertolongan dan perlindungan Allah semata. Beliau mengerahkan segala daya dan upaya sebagai ikhtiar manusia untuk melindungi diri. Itulah sebabnya Nabi melakukan persiapan yang sangat matang untuk mengelabuhi musuh-musuhnya. Beliau datangi rumah Abu Bakar di siang terik matahari, tidak sebagaimana biasanya. Ketika di rumah Abu Bakar, semua penghuni rumah tidak diperkenankan mendengarkan rencana perjalanannya. Yang tahu rencana hijrahnya hanya tiga orang saja, yaitu Nabi sendiri, Abu Bakar, dan Ali bin Abi Thalib. Abu Bakar mempersiapkan kendaraan berikut pemandunya. Perjalanan yang ditempuh tidak sebagaimana lazimnya. Ini semua merupakan usaha maksimal yang manusiawi untuk melindungi diri dari serangan musuh. Persiapan apa lagi yang kurang dari Rasulullah?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar