Mencontoh Keridhaan Ibrahim AS
Oleh: Marhadi Muhayar, Lc., M.A.
بِسْمِ اللهِ أَكْبَرُ اللهِ أَكْبَرُ اللهِ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ، اَلْحَمْدُ ِللهِ الْعَزِيْزِ الْغَفُوْرِ، اَلَّذِيْ جَعَلَ فِي اْلإِسْلاَمِ الْحَنِيْفِ الْهُدَي وَالنُّوْرِ، اَلَّذِيْ قَالَ: ] وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُوْرِ[، نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَي حَمْدَ مَنْ نَظَرَ فَاعْتَبَر، وَكَفَّ عَنِ الْمَسَاوِيءِ وازْدَجَر، وعَلِمَ أَنَّ الدُّنْيَا لَيْسَتْ بِدَارِ مَقََرٍّ. َأَشْهَدُ أَن لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَي حَبِيْبِنَا وَشَفِيْعِنَا وَمَوْلَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأصَحابهِ اْلأَخْيَارِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillâhilhamd…
Ma’asyirol muslimin jamaah shalat idul Adha mesjid Al-Hidayah yang dimuliakan oleh Allah SWT…
Di hari yang penuh berkah ini… jutaan manusia dari berbagai etnik, suku, dan bangsa di seluruh penjuru dunia, di utara dan di selatan, di timur dan di barat, merayakan hari yang sangat mulia di sisi Allah SWT… suatu hari di mana Allah SWT menurunkan rahmatnya kepada seluruh penghuni bumi ini dikarenakan kaum muslimin beramai-ramai berwukuf di padang arafah (kapan?) untuk memenuhi panggilan-Nya. Memuji dan bertasbih kepada Allah SWT… Labbaikallohumma labbaik.. labbaika laasyarikalak..,
Suatu hari di mana para malaikat Allah turun berbondong-bondong ke bumi yang kita huni ini untuk turut bertasbih dan bertakbir mengagungkan kebesaran nama-Nya. Suatu hari besar yang lebih mulia dari hari-hari besar Islam yang lain, lebih mulia dari hari idul fitri, lebih mulia dari hari asyura, dan lebih mulia dari peringatan isra dan mi’raj…
Suatu hari dimana dahulu Nabi Ibrahim As diperintahkan Allah SWT untuk mengorbankan putra kesayangannya yang masih belia, Ismail As, sehingga hari ini dikenal juga dengan hari Idul Qurban. Kita diperintahkan pada hari ini, bagi yang mampu, untuk menyembelih hewan qurban yang dagingnya dibagikan kepada orang-orang yang membutuhkan dari para fakir-miskin.
Allaohu Akbar 3X… walillahilhamd…
Sudara-sudara kaum muslimin rahimakumullah…
Sejarah telah membuktikan, bahwa Nabi Ibrahim As telah melaksanakan perintah Allah SWT ini dengan penuh keyakinan, ketundukan, ketabahan hati, keikhlasan, dan kesabaran, semata-mata hanya karena mengharapkan ridha Allah SWT.
Inilah salah satu contoh pengorbanan yang amat tinggi dalam sejarah hidup manusia yang telah ditunjukan oleh Nabi Ibrahim As dan Nabi Ismail As. Karena Kepatuhan, ketabahan hati, keikhlasan, dan kesabaran Nabi Ibrahim As ini, maka Allah SWT menggolongkan beliau ke dalam golongan Ulul Azmi di antara para nabi dan rasul-Nya. Suatu golongan yang sangat tinggi derajatnya di sisi Allah SWT. Bahkan Alah SWT memujinya dengan firman Allah SWT:
$oYø.t�s?ur Ïmø‹n=tã ’Îû tûïÌ�ÅzFy$# ÇÊÉÑÈ
“Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang Kemudian.” (Ash-Shaffat: 108).
Ketika Nabi Ibrahim As rela mengorbankan putera kesayangannya yang masih teramat kecil, di sini ada akhlak yang diajarkan oleh Islam kepada kita yaitu ridha dengan segala apa yang Allah SWT gariskan. Nabi Ibrahim ridha dengan segala apa yang telah Allah takdirkan untuknya, Nabi Ibrahim ridha dengan segala apa yang Allah berikan kepadanya.
Kenapa Nabi Ibrahim As begitu mudah untuk ridha dengan segala apa yang Allah gariskan untuknya? Dengan segala apa yang telah Allah takdirkan kepadanya? Karena beliau sadar betul bahwa ridha adalah pintu Allah yang teramat agung. Beliau sadar betul, bahwa dengan keridhaan itu akan mengangkat derajatnya ke tempat yang sangat tinggi di sisi Allah SWT.
Lantas, ketika keridhaan ini menjadi landasan ibadah haji dan qurban yang sangat agung, yang sangat mulia di mata Allah SWT, dan ketika الرضا هو باب الله الأعظم : Ridha adalah pintu surga-Nya Allah yang sangat agung di akhirat nanti, apakah kita juga ridha dengan segala apa yang telah Allah berikan kepada kita? Ridha dengan segala apa yang telah Allah gariskan untuk kita dalam kehidupan ini. Apakah kita ridha kepada Allah, ikhlas, ketika kita ditakdirkan untuk hidup susah? Susah mencari uang, susah mencari pekerjaan, susah mencari jodoh. Apakah kita ridha diberikan suami yang terkadang makan hati? Apakah kita ridha memiliki isteri yang kurang cantik? Apakah kita juga ridha ketika diberikan penyakit yang tak kunjung sembuh? Apakah kita ridha kepada Allah dalam menjalani kehidupan selama di dunia ini?
Ada sebuah Hadis Qudsi yang mengajarkan kita untuk selalu ridha dengan segala apa yang Allah SWT berikan kepada kita, apakah itu berupa susah ataupun senang, manis ataupun pahit, yang kita sukai ataupun tidak. Rasulullah SAW bersabda:
قال الله عز وجل : عبدي خلقتك لعبادتي فلا تلعب Allah SWT berfirman, “Wahai hambaku, aku menciptakanmu agar engkau beribadah kepada-Ku. Dan Aku telah menanggung untukmu rizkimu, janganlah kamu bersusah payah.
Maksud jangan bersusah payah disini adalah, jangan sampai dunia ini menjadikan kita terlena, sehingga kita diperbudak oleh dunia. Kita menjadi lelah dan cape’ hanya karena memikirkan dunia. Kita terlalu memikirkan dan cemas, bagaimana makan anak saya, bagaimana sekolahnya, bagaimana jodohnya, bagaimana dan bagaimana… padahal itu semua telah diatur dan ditanggung oleh Allah SWT. Jelas-jelas Allah mengatakan, وكفلت لك رزقك فلا تتعب.
إن قل فلا تحزن Jika sedikit, janganlah kalian bersedih. وإن كثر فلا تفرح Dan jika banyak, janganlah kalian terlalu bergembira.
Harta yang sedikit atau banyak pada hakikatnya sama saja di sisi Allah SWT. Itu semua adalah ujian dan cobaan. Kalau sedikit, mampukan ia bersabar dan ridha dengan segala apa yang telah Allah berikan ini. Jika banyak, mampukan ia mengemban amanat harta ini untuk dijaga dan disalurkan kepada yang berhak. Semestinya kita bersyukur jika diberi miskin, karena itulah yang akan memudahkan kita untuk masuk ke dalam surga-Nya Allah SWT. Barangkali kita tidak mampu mengemban amanat jika kita sebagai orang kaya. Barangkali kita akan susah untuk masuk surga jika kita banyak harta. Hadirin yang berbagia, perlu kita bersyukur dan bangga bahwa penghuni surga nanti adalah para orang-orang miskin. Orang kaya yang masuk surga, sangat dan sangat sedikit. Makanya tidak heran kalau para sahabat Nabi dulu berlomba-lomba untuk miskin, berlomba-lomba untuk menyedekahkan sebagian besar hartanya di jalan Allah, karena mereka tidak mau masuk neraka. Karena penghuni surga didominasi oleh mayoritas orang-orang miskin.
Sehingga sering Rasulullah SAW berdoa:
"اللهم أحييني مسكينا وأمتني مسكينا واجمعني في زمرة المساكين"
Allah SWT tentu Mahatau dengan kondisi hamba-Nya, sehingga seseorang diberikan miskin. Allah tentu Maha adil kepada hamba-Nya kenapa dia berikan sedikit harta. Justru karena Allah SWT sangat sayang kepada hamba-Nya. dengan modal kemiskinannya itu, pintu surga menjadi sangat dekat kepada hamba-Nya itu. Allah ingin hamba-Nya masuk surga melalui pintu kemiskinan. Asalkan dia ridha dengan segala apa yang telah Allah berikan kepadanya. Yakinlah pintu surga sudah teramat dekat.
إن أنت رضيت بما قسمته لك Jika kamu ridha dengan apa yang telah aku berikan, أرحت بدنك وعقلك itu membuat badanmu nyaman, وعقلك otakmu tenang, dan yang terpenting adalah وكنت عندي محمودا “dan derajatmu di sisi-Ku terpuji”. Kamu mulia dimata-Ku, kata Allah. Tapi sebaliknya, وإن لم ترض بما قسمته لك jika kamu tidak ridha dengan apa yang telah aku berikan, أتعبت بدنك itu hanya menjadikan badanmu letih, وعقلك pikiranmu lelah, وكنت عندي مذموما dan derajatmu di mata-Ku cela. Bayangkan kita cela, kita hina dihadapan Allah SWT. Na’udzubillah tsumma n a’udzubillah. Kita udah miskin, cela! Ya Allah! Jangan sampe!
وعزتي وجلالي Demi kemulian dan keagungan-Ku, لأسلطن عليك الدنيا sungguh aku akan menjadikan kamu dikuasai dunia, فانقدو فيها وقد الوحوش في الفلاة sehingga kamu berlari ke sana-ke mari, ngerisngsek ke kanan dan ke kiri seperti binatang buas yang ada di tengah hutan belantara yang begitu luas, ga ada cape’nya mencari harta dunia. Pergi pagi pulang sore, banting tulang. ثم لايصيبها منها إلا ما كتبته لك Kemudian dia tidak akan mendapatkan apa-apa dari dunia yang dia cari itu kecuali apa yang telah aku gariskan untuknya, kecuali apa yang telah Aku tetapkan untuknya.
Hadirin sekalian, ketika Allah SWT telah menjamin rizki kita masing-masing, kenapa kita terkadang terlalu cemas, takut, dan kuatir dengan kondisi kita di dunia ini, yang hanya sementara? Bahkan kadang kita berpikir, bagaimana makan untuk besok hari, minggu besok, bulan besok? Boleh kita memikirkan tapi jangan sampai itu membuat kita cemas, takut, gelisah, sehingga membuat diri kita stress. Janganlah kita mempersulit diri. Bukankah kita esok hari saja belum tentu masih hidup? Kenapa kita telalu memikirkan hal-hal yang jauh dari hari-hari kita? Yang terpenting adalah berusaha sekuat tenaga. Setelah berusaha, barulah kita tawakkal kepada Allah SWT karena memang sebesar itulah rizki yang telah ditetapkan oleh Allah SWT untuk kita. Allah SWT berfirman di dalam surat Fushshilat ayat 7-8:
خلق الأرضَ في يومين - وقدّر فيها أقواتَها (فصلت: 8-9)
Lebih tegas lagi Allah SWT mengatakan di dalam surat Al-Hadid ayat 22:
!$tB z>$|¹r& `ÏB 7pt6ŠÅÁ•B ’Îû ÇÚö‘F{$# Ÿwur þ’Îû öNä3Å¡àÿRr& žwÎ) ’Îû 5=»tGÅ2 `ÏiB È@ö6s% br& !$ydr&uŽö9¯R 4 ¨bÎ) š�Ï9ºsŒ ’n?tã «!$# ׎�Å¡o„ ÇËËÈ
22. tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.
Allaohu Akbar 3X… walillahilhamd…
Ma’asyirol muslimin rahimakumullah…
Sangat banyak contoh yang dapat kita jadikan pelajaran dalam hal ridha dengan segala apa yang telah Allah berikan. Mari kita coba simak beberapa kisah para sahabat Rasulullah SAW dan Tabiin tentang ridha mereka yang begitu besar kepada Allah SWT yang harus kita contoh, di antaranya adalah:
1. Imran bin Hussein
Imran bin Hussein adalah salah seorang sahabat Nabi SAW yang selalu ikut dalam peperangan membela agama Islam. Dia seorang prajurit yang gagah perkasa, tangguh dan sangat pemberani. Setelah Rasulullah SAW wafat, Imran bin Hussein ditimpa suatu sakit. Dia ga bisa ngapa-ngapain kecuali terbaring di atas tempat tidur. Sampai-sampai kalu mau buang air kecil dibuatkan saluran semacam pipa untuk dia kencing. Kalu mau shalat diambilkan air untuk berwudhunya. Kalu zaman sekarang barangkali semisal stroke. Dia tergolek lemah di atas tempat tidur selama 30 tahun sampai akhir hayatnya. Orang-orang di sekelilingnya sangat sedih, dan kasihan melihatnya. Seorang sahabat mulia, yang dahulunya gagah, yang pemberani, sekarang terbaring sakit di atas tempat tidur tidak mampu berbuat apa-apa selama lebih dari 30 tahun? Tapi kalimat apa yang terucap dari mulutnya?
أنتم تبكون أما أنا فما أحبه الله أحببته. والله إني لعلي سريري هذا لكأني أسمع دويّ الملائكة وهي تذكر الله عز وجل. فأعلم أنما يحدث لي ليس غضبا من الله ولكن اختبارا لرضائي عن ربي. اللهم فاشهد أني راض عنك!
“Kamu sekalian menangis, sedangkan aku, apa yang Allah suka aku menyukainya. Demi Allah, sesungguhnya aku di atas kasurku ini seakan aku mendengar malaikat berputar sambil berzikir menyebut nama Allah SWT, sehingga aku tau apa yang terjadi pada diriku bukan murka dari Allah melainkan ujian atas keridhaanku kepada tuhanku, (apakah aku ridha kepada-Nya?) Ya Allah, saksikanlah bahwa aku ridha kepada-Mu!”.
Coba kalu kita bagaimna, baru dikasi sakit sedikit aja udah ogah shalat. Baru dikasi sulit nyari duit udah jauh dari tuhan!
2. Sa’ad bin Abi Waqqash
Saad adalah salah seorang sahabat Rasulullah SAW. Dia peimimpin perang Qadisiah dalam peperangan di Irak. Dia yang pernah berkata kepada Rasulullah SAW , فداك أبي وأمي (Hidupku hanya untukmu wahai Rasulullah SAW demi ayah dan ibuku!) Rasulullah SAW pernah berdoa untuknya اللهم سدد رميته وأجب دعوته (Yaa Allah tepatkanlah lemparan panahnya dan kabulkanlah doanya). Saad dalam setipa peperangan selalu tepat sasaran dalam memanah. Dia asal lempar aja. Sambil merem dia lempar, tapi tepat kena sasaran, karena telah didoakan oleh Rasulullah SAW. Sepeninggal Rasulullah SAW. Setelah peperangan Qadisiah, matanya diberi ujian buta oleh Allah SWT. Dia selalu mendoakan orang lain jika diminta. Kalu ada yang minta doa, wahai sa’ad doakan agar usahaku lancar, didoakan, terkabul. Wahai saad, doaakan aku gampang jodoh, terkabul. Wahai Sa’ad doakan penyakitku lekas sembuh, terkabul. Orang lantas heran, kenapa saad tidak berdoa untuk kesembuhan dirinya? Padahal doanya mustajab, selalu dikabulkan oleh Allah SWT. Apa yang dikatakan oleh Sa’ad bin Abi Waqqash:
يا بنيّ أيرضاه الله لي ولا أرضي لنفسي؟
Wahai anakku, Allah telah meridhai hal itu untukku, kenapa aku tidak meridhainya untuk diriku?
3. ‘Urwah bin Zubair
‘Urwah bin Zubair adalah sahabat Rasulullah SAW terkemuka. Dia pamannya Siti Aisyah Ra. Apa yang dia ucapakan ketika anak kesayangannya wafat dan pada hari yang sama kakinya mesti dipotong karena penyakit berbahaya?
اللهم لك الحمد كان عندي سبعة عيال فأخذت واحدا وتركت لي ستة، وكان عندي أربعة أعضاء فأخذت واحدا وتركت لي ثلاثة. فإن كنت أخذت فقد أبقيت، وإن كنت منعت فقد أعطيت.
“Segala puji bagimu ya Allah… dulu aku punya 7 anak, Engkau ambil satu dan Engkau sisakan enam. Dulu aku punya empat anggota tubuh, Engkau ambil satu dan Engkau sisakan tiga. Jika itu Engkau ambil, sesungguhnya itu telah pernah Engkau karuniakan, jika Engkau cegah, sesungguhnya itu telah pernah Engkau berikan”.
Ketika Urwah bin Zubair dia akan wafat, dia mengatakan:
اللهم لك الحمد حمدا كثيرا طيبا مباركا فيه أن جعلت شيئا من جسدي يسبقني الي الجنة.
Segala puji bagimu ya Allah, pujian yang banyak yang baik yang diberkahi, karena Engkau menjadikan salah satu anggota tubuhku telah mendahuluiku masuk ke dalam surga-Mu”.
4. Begitu juga dengan Nabi Ibrahim As. Dia ridha dengan segala apa yang telah Allah gariskan untuknya. Ketika harus dibakar oleh raja Namrud dia ridha, ketika harus menyembelih anaknya dia ridha, ketika harus meninggalkan Siti Hajar dan bayinya, nabi Ismail, di padang pasir yang tandus, dia ridha.
يقول النبي صلي الله عليه وسلم: لو كان لابن آدم وادي من ذهب لتمني أن يكون له واديان ولن يملأ فم ابن آدم إلا التراب.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
KHUTBAH KE II
اَلْحَمْدُ ِللهِ اللهِ أَكْبَرُ اللهِ أَكْبَرُ اللهِ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ. اَلْحَمْدُ ِللهِ الْمَلِكِ الْحَقِّ الْمُبِيْنِ، الَّذِي حَبَانَا بِالْإِيْمَانِ واليقينِ، وقال للنبي: (وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ). أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّد،ٍ خاتم الأنبياء والمرسلين، وعلي آله الطيبين، وأصحابه الأخيار أجمعين، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَي سَيِّدِنَا مُحَمَّد وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ. اللّهُمَّ اغْفِرْ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الأحياء منهم والأموات. اللّهُمَّ َأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنَهُمْ وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ وَاجْعَل فِي قُلُوْبِهِم الإِيْمَانَ وَالْحِكْمَةَ وَثَبِّتْهُمْ عَلَى مِلَّةِ رَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ.
Ya Allah, ampunilah kaum muslimin dan muslimat, kaum mukminin dan mukminat, baikyang masih hidup maupun yang sudah tiada. Ya Allah perbaikilah di antara mereka, lembutkanlah hati mereka. Ciptakanlah di dalam hati mereka iman dan hikmah, dan kokohkanlah mereka di atas agama Rasul-Mu Nabi Muhammad SAW.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنا دِيْنَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنا وَأَصْلِحْ لنا دُنْيَانا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لنا آخِرَتنا الَّتِي فِيهَا مَعَادُنا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لنا فِي كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لنا مِنْ كُلِّ شَرٍّ.
Ya Allah, perbaikilah keagamaan kami yang merupakan benteng segala urusan kami. Perbaikilah dunia kami yang merupakan tempat kehidupan kami. Perbaikilah akhirat kami yang merupakan tempat kembali kami. Jadikanlah hidup kami di dunia sebagai tambahan bagi kami untuk selalu berbuat baik. Jadikanlah kematian kami sebagai tempat istirahat bagi kami dari setiap keburukan.
اللّهمَّ حَبِّبْ إلَيْنَا الإيمَانَ وَزَيِّنْهُ فِي قُلُوْبِنَا وَكَرِّهْ إلَيْنَا الْكُفْرَ وَالْفُسُوْقَ وَالْعِصْيَانَ وَاجْعَلْنَا مِنَ الرَّاشِدِيْنَ.
Ya Allah, jadikanlah kami mencintai keimanan dan hiasilah keimanan tersebut di dalam hati kami. Jadikanlah kami membenci kekufuruan, kefasikan dan kemaksiatan, dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk.
اللهمَّ ارْزُقْنَا الصَّبْرَ عَلى الحَقِّ وَالثَّبَاتَ على الأَمْرِ والعَاقِبَةَ الحَسَنَةَ والعَافِيَةَ مِنْ كُلِّ بَلِيَّةٍ والسَّلاَمَةَ مِنْ كلِّ إِثْمٍ والغَنِيْمَةَ مِنْ كل بِرٍّ والفَوْزَ بِالجَنَّةِ والنَّجَاةَ مِنَ النَّارِ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
Ya Allah, berikanlah kesabaran kepada kami atas kebenaran, keteguhan dalam menjalankan perintah, akhir kesudahan yang baik dan ‘afiyah dari setiap musibah, bebas dari segala dosa, keuntungan dari setiap kebaikan, keberhasilah dengan surga dan selamat dari api neraka, wahai dzat yang Maha Pengasih.
رَبَّنا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الاخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار. وصَلِّ اللهمَّ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ سيدِنا مُحَمّدٍ وعلى آلِهِ وصَحْبِهِ وَسلّم والحمدُ للهِ. والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته.
Jakarta, 31 Desember 2006.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar