Selasa, Januari 13, 2009

Kumpulan kisah & cerita islami (bag1)

Bersama Pemuda & Ayahnya yang Berubah Menjadi Himar

Alam terik panas mentari yang memancar menyinari tanah Baitul Haram, seorang ulama zuhud yang bernama Muhammad Abdullah al-Mubarak keluar dari rumahnya untuk menunaikan ibadah haji. Di sana dia leka melihat seorang pemuda sedang asyik membaca selawat dalam keadaan ihram. Malah di Padang Arafah dan di Mina pemuda tersebut hanya membasahkan lidahnya dengan selawat ke atas Nabi.

“Hai saudara,” tegur Abdullah kepada pemuda tersebut. “Setiap tempat ada bacaannya tersendiri. Kenapa saudara tidak membanyakkan doa dan solat sedangkan itu yang lebih dituntut? Saya lihat saudara asyik membaca selawat saja.”

Wajah mayat bertukar jadi himar

“Saya ada alasan tersendiri,” jawab pemuda itu. “Saya meninggalkan Khurasan, tanahair saya untuk menunaikan haji bersama ayah saya. Apabila kami sampai di Kufah, tiba-tiba ayah saya sakit kuat. Dia telah menghembuskan nafas terakhir di hadapan saya sendiri. Dengan kain sarung yang ada, saya tutup mukanya. Malangnya, apabila saya membuka semula kain tersebut, rupa ayah saya telah bertukar menjadi himar. Saya malu. Bagaimana saya mahu memberitahu orang ramai tentang kematian ayah saya sedangkan wajahnya begitu hodoh (buruk) sekali?

“Saya terduduk di sisi mayat ayah saya dalam keadaan kebingungan. Akhirnya saya tertidur dan bermimpi. Dalam mimpi itu saya melihat seorang pemuda yang tampan dan baik akhlaknya. Pemuda itu memakai tutup muka. Dia lantas membuka penutup mukanya apabila melihat saya dan berkata, “Mengapa kamu susah hati dengan apa yang telah berlaku?”

“Maka saya menjawab, “Bagaimana saya tidak susah hati sedangkan dialah orang yang paling saya sayangi?”

“Pemuda itu pun mendekati ayah saya dan mengusap wajahnya sehingga ayah saya berubah wajahnya menjadi seperti sediakala. Saya segera mendekati ayah dan melihat ada cahaya dari wajahnya seperti bulan yang baru terbit pada malam bulan purnama.

“Engkau siapa?” tanya saya kepada pemuda yang baik hati itu.

“Saya yang terpilih (Muhammad).”

“Saya lantas memegang jarinya dan berkata, “Wahai tuan, beritahulah saya, mengapa peristiwa ini boleh berlaku?”

Rahsia shalawat 100 kali

“Sebenarnya ayahmu seorang pemakan harta riba. Allah telah menetapkan agar orang yang memakan harta riba akan ditukar wajahnya menjadi himar di dunia dan di akhirat. Allah telah menjatuhkan hukuman itu di dunia dan tidak di akhirat.

“Semasa hayatnya juga ayahmu seorang yang istiqamah mengamalkan selawat sebanyak seratus kali sebelum tidur. Maka ketika semua amalan umatku ditontonkan, malaikat telah memberi tahu keadaan ayahmu kepadaku. Aku telah memohon kepada Allah agar Dia mengizinkan aku memberi syafaat kepada ayahmu. Dan inilah aku datang untuk memulihkan semula keadaan ayahmu.”

Surat al-Kahfi: 83-85 Berjuangpun harus mengikuti perhitungan yang logis

"Mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Dzulqarnain. Katakanlah: Aku akan bacakan kepadamu cerita tentangnya. Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya (di muka) bumi, dan telah Kami datangkan kepadanya sebab segala sesuatu, dan diapun mengikuti sebab-sebab itu."

Mukaddimah

Bukan nabi juga bukan rasul, tetapi kisah hidupnya diceritakan secara panjang lebar oleh Allah dalam al-Qur'an. Ia tidak lain adalah Dzul Qarnain, seorang yang sangat berkuasa, yang kekuasannya meliputi timur dan barat. Dzul Qarnain adalah seorang penakluk. Dia telah menang dalam beberapa pertempuran dalam waktu yang amat singkat. Dalam setiap kali bertempur, ia dan pasukannya selalu keluar sebagai pemenang. Begitu gemilangnya kemenangan yang diraihnya sehingga tidak seorang pahlawanpun, dari dulu hingga masa kini yang mampu menandinginya. Orang Barat menyebutnya Alexander the Great.

Pengungkapan kisah ini tentu saja bukan tanpa target. Allah secara sengaja mengungkap kisah di atas agar dijadikan pelajaran oleh ummat Islam yang rajin membaca dan pandai mencari ibrah atas segala peristiwa sejarah. Apalagi kemudian Allah sendiri dalam ayat di atas mengungkapkan rahasia di balik sukses besar yang dicapai oleh Dzul Qarnain. Apa rahasia kemenangan spektakulernya? Letak kemenangannya adalah pada pengetahuannya tentang sebab musabab. Pendek kata, ia jauh lebih pintar dibanding manusia sezamannya.

Ibnu Katsir ketika membahas ayat di atas meriwayatkan atsar dari Jabir bin Ammar, dia berkata: "Pada suatu kali aku bersama Ali ra. Seseorang bertanya kepadanya bagaimana Dzul Qarnain mampu sampai ke timur dan barat. Beliau menjawab, 'Maha suci Allah yang telah menundukkan awan baginya, memberinya sabab musabab, dan telah memanjangkan tangannya.'"

Hamba yang shaleh

Manusia telah ditunjuk oleh Allah menjadi khalifah-Nya di muka bumi. Tugas khalifah adalah memakmurkannya, sebagaimana yang difirmankan dalam Al-Qur'an. Penunjukaan manusia menjadi khalifah di muka bumi sempat mengundang protes para malaikat. Mereka merasa lebih berhak ditunjuk sebagai pengelola bumi dibandingkan dengan makhluk baru yang bernama manusia. Dalam catatan belum pernah sekalipun para malaikat melakukan desersi atau pelanggaran. Semua titah dan perintah Allah dilaksanakan tanpa mengurangi titik komanya. Akan tetapi Allah mempunyai alasan lain atas penunjukan ini. Allah yang Maha Mencipta tentu Maha Mengetahui atas segala ciptaan-Nya. Dia tahu bahwa untuk mengelola bumi tidak cukup dengan modal ketaatan saja. Di samping ketaatan, harus dilengkapi dengan pengetahuan yang cukup tentang alam. Itulah sebabnya sebelum dilantik menjadi khalifah, Nabi Adam dibekali tentang nama-nama. Para ahli tafsir sepakat memberi makna nama-nama itu dengan pengetahuan tentang unsur-unsur yang terkandung pada setiap benda-benda alam.

Pengetahuan itu tentu saja tidak datang secara tiba-tiba, tapi melalui proses penelitian dan pengkajian yang panjang dan mendalam. Pada masyarakat yang masih primitif tentu pengetahuannya tentang alam sangat minim sehingga mereka hanya mampu memanfaatkan dan mengekplorasi secara minim pula. Sebaliknya pada masyarakat modern, di mana pengetahuan dan pemahamannya mengenai alam sudah begitu canggihnya, maka eksplorasi, bahkan eksploitasi alam terjadi secara besar-besaran.

Pada dasarnya Allah telah menundukkan alam sebagai fasilitas hidup bagi manusia. Asal mereka mampu mengungkap rahasia yang terkandung di dalamnya, mereka pasti mampu menguasainya. Seorang ahli botani yang menguasai rahasia tanah akan mampu menguasai tanah untuk berbagai kepentingan, utamanya yang berkaitan dengan pertanian dan perkebunan. Seorang insinyur sipil, dengan disiplin ilmunya bisa mendirikan bangunan hingga tingkat 100 lebih. Seseorang yang menguasai hukum-hukum ekonomi, tentu ia akan mampu menguasai sektor ekonomi. Dalam kaitan ini tidak ada syarat, apakah orang tersebut telah beriman atau kafir. Siapa saja yang mampu membuka misteri alam dan fenomenanya, mereka akan dapat menguasainya. Dalam bidang apa saja, termasuk bidang politik, berlaku hukum yang sama, siapa yang menguasai ilmunya dan menerapkan sesuai dengan ilmunya, maka akan berkuasa. Setidaknya mereka akan dominan. Dengan demikian, kekuasaan politik, kekuasaan ekonomi, dan kekuasaan alam sepenuhnya dimenangkan oleh mereka yang memahami dan menerapkannya sesuai dengan rahasia-rahasia yang terkandung di dalamnya. Dalam bahasa yang lebih pas, Allah menyebutkan bahwa penguasaan bumi itu akan diwariskan kepada hamba-Nya yang shalih, sebagaimana firman-Nya:

"Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa." (QS. An-Nuur: 55)

Shalih dalam pengertian ayat ini adalah siapa saja yang berlaku dan bersikap sesuai dengan sunnatullah di alam raya. Sebagai ilustrasi, di suatu malam di masjid yang megah, telah berkumpul ratusan orang yang tenggelam dalam dzikir-dzikir panjang. Masjid itu tinggi sekali melebihi bangunan yang lain. Para pengurusnya lupa memasang penangkal petir. Sedikit agak jauh dari mesjid itu ada bangunan yang tak kalah menariknya. Di bangunan ini berkumpul ratusan muda-mudi sedang menikmati pesta dansa. Mereka tenggelam dalam alunan musik yang menghentak-hentak, sambil tak lupa menelan pil ekstasi, koplo, dan aneka minuman keras. Pemilik bangunan ini sudah tahu bahaya yang akan timbul jika sewaktu-waktu ada petir, sehingga ia memasang penangkal petir di atas bangunannya. Maka bila esoknya ternyata yang tersambar petir justru bangunan masjid, tak perlu heran. Mereka yang 'menyalahkan takdir' dan bertanya kenapa rumah ibadah yang hancur berarti kurang menyadari bahwa keshalihan itu berkaitan dengan ketundukan manusia pada hukum-hukum alam alias sunnatullah.

Hukum sebab-akibat

Al-Qur'an memberi porsi perhatian yang sangat besar pada peristiwa-periistiwa masa lalu. Kisah-kisah tokoh bersama kaumnya disebut-sebut al-Qur'an di berbagai tempat agar kita mau meperhatikan bagaimana nasib mereka setelah melakuan perbuatan tertentu. Allah mengajak kita memperhatikan bahwa masyarakat manusia dikendalikan oleh sunnah dan hukum tertentu yang menentukan nasib akhir mereka. Sunnatullah adalah hukum-hukum yang berlaku secara relatif atau mutlak yang menentukan gerak kehidupan dan mahkluk hidup, yang mengatur perjalanan sejarah dan jatuh-bangunnya sebuah peradaban. Untuk itulah kita diperintahkan untuk melakukan perjalanan di muka bumi guna melihat berbagai kejadian sebagai akibat dari suatu tindakan, baik yang dilakukan oleh perorangan maupun oleh sebuah bangsa. Tidak cukup hanya menelusuri kehidupan manusia masa kini, bahkan kita diperintahkan juga melakukan berjalanan balik ke masa lalu, dengan melihat sejarah bangsa-bangsa terdahulu. Allah berfirman: "Katakanlah, berjalanlah kamu di muka bumi, perhatikanlah bagaimana kesudahan nasib orang-orang terdahulu." (QS ar-Ruum: 42)

Kita diperintahkan untuk memperhatikan sikap-sikap sombongnya Fir'aun, penguasa tiran yang sangat berkuasa. Melalui figur Fir'aun kita diperintah mempelajari, bagaimana nasib akhirnya orang yang berlaku sombang dan memerintah sebuah negara secara otoriter. Selama ini banyak yang mengira bahwa sunnatullah yang eksak itu hanya mengenai alam, sementara dalam bidang sosial tidak terjadi hal itu. Padahal sama saja, baik ilmu alam maupun ilmu sosial itu sifatnya eksak atau pasti. Hanya saja dalam ilmu-ilmu sosial faktornya banyak sekali sehingga terasa sulit menemukan kepastiannya. Meskipun demikian kita tetap diperintah Allah untuk mengembangkan penelitian sosial, sehingga pada akhirnya kita dapat memahami hukum-hukum sosial yang berlaku secara umum.

Kesalahan ummat Islam sehingga mengalami kemunduran sekian lama, salah satunya adalah akibat dari sikap mereka yang kurang menghargai proses dan masalah sebab-akibat. Mereka merasa dengan beriman saja sudah cukup. Seolah-olah dengan iman itu mereka menjadi hamba-Nya yang istimewa, sehingga hukum sebab-akibat itu tidak mengenai dirinya. Sikap seperti inilah yang menghancurkan bangsa Yahudi dahulu, yang merasa mendapatkan perlakuan istimewa, bahkan menyebut dirinya mengaku sebagai anak-anak Tuhan. Perlu diketahui bahwa tidak ada orang yang diistimewakan sehingga ia terbebas dari hukumnya. Sebagai hamba Allah yang menyandang sifat khilaf dan lupa, tak pantas kita merasa diistimewakan Allah. Sikap seperti itu merupakan sifat kaum Yahudi yang mengaku sebagai kekasih-Nya, padahal Allah telah menantang mereka agar minta mati supaya bertemu dengan-Nya. Akan tetapi sungguh mereka takut juga menghadapi kematian.

Rasulullah adalah orang yang paling dekat hubungannya dengan Allah. Beliau adalah Nabi dan kekasih-Nya. Akan tetapi dalam hal ini Nabi Muhammad tetap memperhatikan hukum sebab akibat dalam urusan perjuangan memenangkan Islam. Contoh yang paling dekat adalah dalam peristiwa hijrah. Meskipun beliau yakin terhadap ayat di bawah ini: "Jika kamu tidak menolongnya, Allah sungguh menolongnya." (QS at-Taubah: 40). Juga percaya bahwa Allah memberi perlindungan penuh kepadanya atas semua gangguan manusia, sebagaimana yang difirmankan-Nya, "Allah memeliharamu dari manusia." (al-Ma-idah: 67). Akan tetapi Rasulullah tetap mengikuti jalan sunnatullah ketika berupaya menyelamatkan diri dari serangan musuh. Beliau tidak mengandalkan pertolongan dan perlindungan Allah semata. Beliau mengerahkan segala daya dan upaya sebagai ikhtiar manusia untuk melindungi diri. Itulah sebabnya Nabi melakukan persiapan yang sangat matang untuk mengelabuhi musuh-musuhnya. Beliau datangi rumah Abu Bakar di siang terik matahari, tidak sebagaimana biasanya. Ketika di rumah Abu Bakar, semua penghuni rumah tidak diperkenankan mendengarkan rencana perjalanannya. Yang tahu rencana hijrahnya hanya tiga orang saja, yaitu Nabi sendiri, Abu Bakar, dan Ali bin Abi Thalib. Abu Bakar mempersiapkan kendaraan berikut pemandunya. Perjalanan yang ditempuh tidak sebagaimana lazimnya. Ini semua merupakan usaha maksimal yang manusiawi untuk melindungi diri dari serangan musuh. Persiapan apa lagi yang kurang dari Rasulullah?

Inilah yang kurang dipahami oleh banyak kaum muslimin sehingga mereka tidak merasa perlu mengikuti hukum manusiawi, apalagi jika mereka merasa dalam garis perjuangan menegakkan kalimah Ilahi. Mereka merasa dengan bahwa setiap pejuang mesti mendapatkan pertolongan Allah, karenanya mereka merasa tak perlu mempersiapkan diri secara logis. Bisa dimengerti jika kemudian dalam setiap fron ummat Islam mengalami banyak kekalahan.

NAIK SALAH, TURUN PUN SALAH

Pada zaman dulu di negara Arab, ramai orang menunggang kaledai sebagai kendaraan. Seorang bapa membawa anaknya ke satu tempat dengan membawa seekor kaldai. Kedua-dua mereka menaiki kaldai itu dan lalu di sebuah pekan. Keadaan ini menarik perhatian orangramai. Ada di antara mereka berkata "Ini kes aniaya. Kaldai tu dah le kecil. Dua-dua orang pulak naik. Kan tu menyeksa binatang.. Tak ada peri kemanusiaan langsung".

Si-bapa mendengar komen mereka. Lalu si bapa turun dan membiarkan anaknya sendirian di atas kaldai. Si-bapa meneruskan perjalanan sambil berjalan kaki. Mereka pun melalui sekumpulan orangramai. Sekali lagi ada yang komen, "Kurang ajar punya anak. Dia sedap-sedap naik kaldai. Bapanya dibiarkan berjalan kaki."

Si-anak mendengar komen mereka, lalu dia turun dan menyuruh bapanya pula menunggang kaldai. Si-anak berjalan kaki mengiringi bapanya di atas kaldai. Mereka pun melalui sekumpulan orang. Sekali lagi mereka mendengar rungutan "Bapa tak ada otak, dia sedap naik kaldai, anaknya dibiarkan berpeluh berjalan."

Mendengar komen itu, si-bapa pun turun dan berjalan bersama-sama anak. Kaldai itu dibiarkan berjalan sendirian. Mereka pun melalui sekumpulan orang. Masih ada yang komen "Apalah bodohnya orang tua ni. Ada kaldai tapi tak mau naik. Kalau macam ni, lebih baik tak payah bawa kaldai!"

Mendengar kata-kata ini, si-bapa pun memberitahu anaknya. "Beginilah keadaan masyarakat. Mereka hanya pandai komen. Pandai melihat kesalahan orang. Ada saja yang tak betul. Kalau kita ikut saja kata-kata mereka rosak kita. Kita tidak boleh terima pandangan mereka secara melulu. Kita kena fikirkan kesemuanya dan kita buat apa yang baik pada kita. Jangan pedulikan komen mereka.."


MORAL & IKHTIBAR

· Kebanyakan orang memang suka mencari kesalahan orang

· Pendapat dan komen mereka tidak boleh diikut melulu kecuali memang ada asas dan kebenaran.

· Pertimbangan mesti berdasarkan keadaan dan senario yang kita hadapi.

· Yang baik jadikan teladan, yang buruk jadikan sempadan

Kisah Taubat

Pada zaman dulu, ada seorang lelaki yang telah membunuh 99 orang. Dia ingin menjumpai pendita untuk meminta fatwa supaya dia dapat bertaubat dari dosanya. Sebaik saja berjumpa, dia pun menerangkan bahawa dia telah membunuh 99 orang dan bertanya sama ada dia masih ada peluang untuk bertaubat. Pendita dengan tegas mengatakan dia tidak boleh bertaubat kerana dosanya terlalu banyak. Lelaki itu mejadi marah dan terus membunuh pendita itu, menjadikannya mangsa yang ke-100. Dia masih ingin untuk bertaubat dan terus mencari kalau-kalau ada ulama yang boleh membantunya. Akhirnya dia berjumpa dengan seorang ulama. Dia menceritakan bahawa dia telah membunuh 100 orang dan bertanya sama ada Allah masih menerima taubatnya. Ulama itu menerangkan dia masih ada harapan untuk bertaubat. Seterusnya dia menyuruh lelaki itu pergi ke sebuah negeri di mana terdapat sekumpulan abid (orang beribadat). Apabila sampai di sana nanti, ulama itu menyuruhnya tinggal di sana dan beribadat bersama mereka. Ulama itu melarangnya pulang ke negeri asalnya yang penuh dengan maksiat. Lelaki itu mengucapkan terima kasih lalu terus menghala ke negeri yang diterangkan oleh ulama tadi. Sebaik saja sampai separuh perjalanan, dia jatuh sakit lalu meninggal dunia. Ketika itu terjadilah perbalahan antara dua malaikat, iaitu Malaikat Rahmat dan
Malaikat Azab. Malaikat Rahmat ingin mengambil roh lelaki itu kerana pada pendapatnya dia adalah orang baik lantaran azamnya untuk bertaubat sementara Malaikat Azab mengatakan dia mati dalam su'ul-khatimah kerana dia telah membunuh 100 orang dan masih belum membuat sebarang kebajikan. Mereka saling berebutan dan tidak dapat memutuskan keadaan lelaki itu. Allah kemudian menghantar seorang malaikat lain berupa manusia untuk mengadili perbalahan mereka berdua. Dia menyuruh malaikat itu mengukur jarak tempat kejadian itu dengan kedua-dua tempat; adakah tempat kejadian itu lebih dekat dengan tempat kebajikan yang hendak dituju atau lebih dekat dengan tempat dia mula bertolak. Sekiranya jaraknya lebih dekat dengan
tempat kebajikan, dia kepunyaan Malaikat Rahmat. Setelah diukur, didapati jarak ke negeri kebajikan melebihi kadar sejengkal saja. Lalu roh lelaki itu terus diambil oleh Malaikat Rahmat. Lelaki itu akhirnya mendapat pengampunan Allah.

Golongan yang masuk Syurga

Sebuah hadis diriwayatkan daripada 'Auf bin Malik bahawa Baginda S.A.W. bersabda

Maksudnya: "Orang-orang Yahudi telah berpecah kepada tujuh puluh satu golongan (ihda wa sab'ina firqatan). Satu golongan daripada mereka itu dalam syurga dan yang tujuh puluhnya dalam neraka. Orang-orang Nasara pula berpecah menjadi tujuh puluh dua golongan, tujuh puluh satu golongan mereka dalam neraka, dan satu golongan dalam syurga. Demi Tuhan yang diri Muhammad berada dalam tangan kekuasaannya, benar-benar umatku akan berpecah kepada tujuh puluh tiga golongan, satu golongan berada dalam syurga dan tujuh puluh dua dari mereka dalam neraka'

Baginda ditanya: Siapakah mereka (yang masuk syurga) itu?". Jawab Baginda "Jama'ah".

Termasuk ke dalam golongan yang selamat ini ialah jumhur ummat Islam dan golongan terbanyaknya (al-sawad al-a'zam) yang terdiri daripada para pengikut Imam-imam Malik, Shafie, Abu Hanifah Auza'i, Thauri dan Daud Zahiri.

Dalam Bughyatu'I-Mustarshidin 32 disebutkan bahawa yang dikatakan tujuh puluh dua golongan yang sesat itu ialah mereka yang terdiri daripada tujuh golongan.

Pertama, kaum Syiah yang terlalu melebihi dan memuja'Ali dan keluarganya; mereka sampai tidak mengakui khalifah-khalifah Abu Bakar, 'Umar dan 'Uthman. Mereka ini berpecah menjadi dua puluh dua golongan.

Kedua, golongan Khawarij yang terlalu berlebihan dalam membenci Sayyidina 'Ali r.a. Antara mereka ada yang mengkafirkan beliau. Pada pandangan mereka, orang-orang yang melakukan dosa besar menjadi kafir. Mereka ini kemudiannya berpecah menjadi dua puluh golongan.

Ketiga, kaum Mu'tazilah yang mempunyai fahaman bahawa Allah tidak mempunyai sifat-sifatnya, dan bahawa manusia melakukan amalnya sendiri dengan bebas merdeka, dan bahawa Tuhan tidak boleh dilihat dalam syurga, dan bahawa orang-orang yang melakukan dosa besar diletakkan antara syurga dan neraka; mereka juga beranggapan bahawa Mi'raj Nabi S.A.W. adalah dengan roh sahaja. Kemudiannya mereka ini berpecah menjadi dua puluh golongan.

Keempatnya ialah kaum Murji'ah (seperti paham kristen) yang mempunyai pegangan bahawa sesiapa yang melakukan dosa, maka itu tidak mendatangkan mudarat bila ia sudah beriman, sebagaimana katanya bila seseorang itu kafir maka kebajikan yang bagaimanapun dilakukan tidak memberi manfaat juga. Mereka ini kemudiannya berpecah kepada lima golongan.

Kelimanya ialah golongan Najjariyah yang mempunyai pegangan bahawa perbuatan manusia dijadikan oleh Tuhan dan Tuhan tidak mempunyai sifat-sifat. Mereka berpecah kepada tiga aliran.

Keenamnya ialah kaum Jabbariyah yang mempunyai keyakinan bahawa manusia tidak terdaya apa-apa; usaha atau ikhtiar manusia tidak ada sama sekali. Mereka terdiri daripada satu golongan sahaja.

Ketujuhnya ialah kaum Musyabbihah, iaitu kaum yang mempunyai pegangan bahawa Tuhan mempunyai sifat-sifat sebagaimana yang ada pada manusia, umpamanya Tuhan ada tangan, ada kaki, duduk atas 'Arsy, naik tangga dan turun tangga dan sebagainya. Mereka terdiri dari satu golongan sahaja. Dengan itu maka jumlah mereka semua adalah tujuh puluh dua golongan.

Golongan yang selamat ialah golongan yang satu sahaja iaitu golongan Ahli' Sunnah wal-Jama'ah.

Sebagai reaksi daripada apa yang timbul itu yang membawa kepada timbulnya berbagai firqah itu, maka timbullah golongan Ahli's-Sunnah wal-Jama'ah yang diketuai oleh dua orang ulama' besar dalam Usulu'd-din iaitu Syaikh Abu'l Hasan al-Ash'ari radiya'Llahu 'anhu dan Syaikh Abu Mansur al-Maturidi radiya'Llahu 'anhu. Dari segi 'aqidah seseorang itu boleh dipanggil Sunni sahaja, yang menunjukkan bahawa ianya adalah tergolong ke dalam golongan Ahli's-Sunnah; ataupun ia boleh dipanggilkan
Asy'ari atau Asya'irah.

Lihatlah golongan ke-7.. apa pendapat saudara....??? Pintu taubat masih terbuka. Jgn saudara termasuk dlm golongan ke-7 di atas.

Taubatnya Seorang Laki-laki Pendosa Ditangan Puteri Kecilnya

Dia tinggal di Riyadh, hidup dalam kesesatan dan tidak mengenals Allah kecuali hanya sedikit.

Bertahun-tahun tidak pernak masuk masjid dan tidak pernah bersujud kepada Allah meski hanya sekali. Allah menghendaki taubatnya ditangan puteri kecilnya.

Dia menceritakan kisahnya:

Aku biasa begadang sampai pagi bersama teman-temanku untuk beramain-main dan bersenda gurau. Aku tinggalkan isteriku dalam kesendirian dan kesusahannya yang hanya Allah yang mengetahuinya. Isteriku yang setia tak mempu lagi menasehatiku yang sudah tak mempan lagi diberi nasehat.

Pada suatu malam, aku baru pulang dari begadang, jarum jam menunjukkan pukul 03.00 pagi, aku lihat isteri dan puteri kecilku terlelap tidur. Lalu aku masuk ke kamar sebelah untuk menghabiskan sisa-sisa malam dengan melihat film-film porno melalui video, waktu itu, waktu dimana Allah azza wajalla turun dan berkata: "Adakah orang yang berdoa sehingga aku mengabulkannya?. Adakah orang yang meminta ampun sehingga aku mengampuninya?, Adakah orang yang meminta kepadaku sehingga aku memberinya".

Tiba-tiba pintu kamar terbuka dan kulihat puteriku yang belum genap berusia 5 tahun. Dia melihatku dan berkata: "Bapak, ini suatu aib bagimu, takutlah kepada Allah", dan mengulanginya tiga kali kemudian menutup pintu dan pergi. Aku terkejut lalu aku matikan video. Aku duduk termenung dan kata-katanya terngiang-ngiang ditelingaku dan hampir membinasakanku, lalu aku keluar mengikutinya tapi dia sudah kembali lagi ketempat tidurnya.

Aku seperti gila, tidak tahu apa yang baru saja menimpaku waktu itu. Tak lama kemudian terdengar suara adzan dari masjid dekat rumah yang memecah kegelapan malam, menyeru untuk shalat subuh.

Aku berwudlu lalu pergi kemasjid. Aku tidak bersemangat untuk shalat, hanya saja karena kata-kata puteriku membuatku gelisah.

Shalat dimulai, imam bertakbir dan membaca beberapa ayat Al-Qur'an. Ketika dia bersujud, akupun bersujud dibelakangnya dan meletakkan dahiku di atas tanah sampai aku menangis keras tanpa kuketahui sebabnya. Inilah sujud pertama kali kulakukan kepada Allah azza wajalla sejak tujuh tahun yang lalu.

Tangisan itu adalah pembuka kebaikan bagiku, tangisan itu telah mengeluarkan apa yang ada dalam hatiku berupa kekafiran, kemunafikan dan kerusakan. Aku merasakan butir-butir keimanan mulai meresap kedalam jiwaku.

Setelah shalat aku pergi bekerja. Ketika bertemu dengan temanku, dia heran melihatku datang cepat padahal biasanya selalu terlambat akibat begadang sepanjang malam. Ketika dia menanyakan penyebabnya, aku menceritakan apa yang kualami tadi malam. Kemudian dia berkata: "Bersyukurlah kepada Allah yang telah menggerakkan anak kecil itu sehingga menyadarkanmu dari kelalaianmu sebelum datang kematianmu." Setelah tiba waktu dzuhur, aku merasa cukup lelah karena belum tidur sejak malam. Lalu aku minta kepada temanku untuk menggantikan tugasku, dan aku pulang ke rumah untuk beristirahat. Aku ingin cepat-cepat melihat puteriku yang menjadi sebab hidayahku dan kembaliku kepada Allah.

Aku masuk kerumah dan disambut oleh isteriku sambil menangis, lalu aku bertanya, "Ada apa denganmu, isteriku?", jawaban yang keluar darinya laksana halilintar. "Puterimu telah meninggal dunia".

Aku tak bisa mengendalikan diri dan menangis. Setelah jiwaku tenang, aku sadar bahwa apa yang menimpaku semata-mata ujian dari Allah azza wajalla untuk menguji imanku. Aku bersyukur kepada Allah azza wajalla. Aku mengangkat gagang dan menghubungi temanku. Aku memintanya datang untuk membantuku.

Temanku datang dan membawa puteriku, memandikannya dan mengafaninya lalu kami menshalatkannya dan membawanya kepemakaman, temanku berkata: "Tidak ada yang pantas memasukkannya ke liang kubur kecuali engkau", lalu aku mengangkatnya dengan berlinang air mata dan meletakkannya di liang kubur. Aku tidak mengubur puteriku, tapi mengubur cahaya yang telah menerangi jalan hidupku. Aku bermohon kepada Allah SWT agar menjadikannya penghalang bagiku dari api neraka dan memberi balasan kebaikan kepada isteriku yang penyabar.

Dikutip dari : Hakikat Taubat.

Kisah Uqa'il Dengan Rasulullah s.a.w.

Pada suatu hari Uqa'il bin Abi Thalib telah pergi bersama-sama dengan Nabi Muhammad s.a.w. Pada waktu itu Uqa'il telah melihat peristiwa ajaib yang menjadikan hatinya bertambah kuat di dalam Islam dengan sebab tiga perkara tersebut. Peristiwa pertama adalah, bahawa Rasulullah s.a.w. akan mendatangi hajat yakni mebuang air besar dan di hadapannya terdapat beberapa batang pohon. Maka baginda s.a.w. berkata kepada Uqa'il, "Hai Uqa'il teruslah engkau berjalan sampai ke pohon itu, dan katalah kepadanya, bahawa sesungguhnya Rasulullah berkata; Agar kamu semua datang kepadanya untuk menjadi aling-aling atau penutup baginya, kerana sesungguhnya baginda akan mengambil air wuduk dan buang air besar."

Uqa'il pun keluar dan pergi mendapatkan pohon-pohon itu dan sebelum dia menyelesaikan tugas itu ternyata pohon-pohon sudah tumbang dari akarnya serta sudah mengelilingi di sekitar baginda s.a.w. Peristiwa kedua adalah, bahawa Uqa'il berasa haus dan setelah mencari air ke mana pun jua namun tidak ditemui. Maka baginda s.a.w. berkata kepada Uqa'il bin Abi Thalib, "Hai Uqa'il, dakilah gunung itu, dan sampaikanlah salamku kepadanya serta katakan, "Jika padamu ada air, berilah aku minum!". Uqa'il lalu pergilah mendaki gunung itu dan berkata kepadanya sebagaimana yang telah disabdakan baginda itu. Maka sebelum ia selesai berkata, gunung itu berkata dengan fasihnya, "Katakanlah kepada Rasulullah, bahawa aku sejak Allah S.W.T menurunkan ayat yang bermaksud : ("Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu beserta keluargamu dari (seksa) api neraka yang umpannya (bahan bakar) dari manusia dan batu)." "Aku menangis dari sebab takut kalau aku menjadi batu itu maka tidak ada lagi air padaku."

Peristiwa yang ketiga ialah, bahawa ketika Uqa'il sedang berjalan dengan Nabi, tiba-tiba ada seekor unta yang meloncat dan lari ke hadapan rasulullah, maka unta itu lalu berkata, "Ya Rasulullah, aku minta perlindungan darimu." Unta masih belum selesai mengadukan halnya, tiba-tiba datanglah dari belakang seorang Arab kampung dengan membawa pedang terhunus. Melihat orang Arab kampung dengan membawa pedang terhunus, Nabi Muhammad s.a.w. berkata, "Hendak mengapakah kamu terhadap unta itu ?" Jawab orang kampung itu, "Wahai Rasulullah, aku telah membelinya dengan harga yang mahal, tetapi dia tidak mahu taat atau tidak mahu jinak, maka akan kupotong saja dan akan ku manfaatkan dagingnya (kuberikan kepada orang-orang yang memerlukan)." Rasulullah s.a.w. bertanya, "Mengapa engkau mendurhakai dia ?" Jawab unta itu, "Wahai Rasulullah, sungguh aku tidak mendurhakainya dari satu pekerjaan, akan tetapi aku menderhakainya dari sebab perbuatannya yang buruk. Kerana kabilah yang dia termasuk di dalam golongannya, sama-sama tidur meninggalkan solat Isya'. Kalau sekiranya dia mahu berjanji kepada engkau akan mengerjakan solat Isya' itu, maka aku berjanji tidak akan menderhakainya lagi. Sebab aku takut kalau Allah menurunkan seksa-Nya kepada mereka sedang aku berada di antara mereka."

Akhirnya Nabi Muhammad s.a.w. mengambil perjanjian orang Arab kampung itu, bahawa dia tidak akan meninggalkan solat Isya'. Dan baginda Nabi Muhammad s.a.w. menyerahkan unta itu kepadanya. Dan dia pun kembali kepada keluarganya

Dosa Besar dan Ampunan Allah bila Bertaubat

Seri ke-240, Rabu, 28 November 2001


Pertanyaan:

Assalamualaikum wr. wb.

Ijinkan saya bercerita terlebih dahulu tentang masa lalu. Saya dibesarkan di lingkungan yang cukup menjunjung nilai-nilai Islam, mempelajari kitab-kitab kuning dan 'nyantri' di pesantren. Setelah bekerja di Jakarta, rupanya saya terbawa arus kehidupan metropolis, sehingga apa yang diharamkan oleh agama sudah pernah saya lakukan seperti: minum khamar, narkoba, ke diskotik, sampai-sampai mengunjungi tempat prostitusi (berkedok diskotik) hingga suatu kali saya terjerumus untuk melakukannya (berzina) dalam keadaan setengah sadar. Saya tentu menyesal yang teramat dalam telah terjerumus oleh ajakan syetan. Hingga saat ini, saya merahasiakan perbuatan ini kepada orang tua dan kerabat.


Sekarang saya telah berkeluarga dan hanya kepada dia (istri) saya ceritakan masa lalu yang busuk itu. Karena masa lalu seperti itu saya malu untuk bergaul/aktif di lingkungan keagamaan sehingga cenderung menutup diri.


Yang ingin saya tanyakan:

1. Ridhakah Allah swt dengan penyesalan dan taubat saya sebelum dilaksanakan hukum rajam karena telah berzina.

2. Selain lingkungan, pergaulan, kestabilan iman dan kekhilafan, faktor apakah yang mungkin menyebabkan saya sampai bisa terjerumus ke ladang maksiat seperti itu.

3. Perlukah menceritakan masa lalu saya ini kepada orang tua (ibu) dan pantaskah saya menutup diri.


Wassalamu'alaikum wr. wb.

Santri Virtual

Jawaban:

Assalamu'alaikum wr. wb.

Santri yang kami cintai,

Pintu taubat selalu terbuka kapan pun sebelum ajal tiba, bahkan untuk dosa sebesar apa pun. Dalam al-Qur'an Allah bersabda, "Sesungguhnya Allah menyukai orang yang banyak bertobat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri" (al-Baqarah).

Saudara bisa bertaubat dengan kembali ke jalan yang benar dan meninggalkan perbuatan maksiat itu serta berniat untuk tidak kembali melakukannya.

Hukum rajam baru akan ditegakkan kalau permasalahan telah diangkat ke pengadilan. Itu pun kalau terbukti dan telah ada pengakuan yang kuat serta ada pengadilan yang melaksanakannya. Bila tidak ada seperti di Indonesia, anda cukup bertaubat dengan taubat yang sesungguhnya.

Saudara juga tidak sebaiknya menceritakan kepada orang tua, karena yang melarang perbuatan zina dan maksiat lainnya bukanlah orang tua anda, namun Allah swt. Anda juga tidak patut lagi untuk berpanjang-panjang menutup diri. Tiada orang yang mulia di sisi Allah, kecuali ketakwaan dan keimanannya. Dan tiada orang yang bersih di sisi Allah bila belum bertaubat. Ceritakanlah kepada Allah yang telah melarangnya dengan tulus dan akui perbuatan itu dan berjanjilah untuk tidak melakukan kembali, insya Allah dengan kesungguh-sungguhan dan niat yang tulus, taubat anda akan diterima. Lebih khusus di bulan Maghfirah, Ramadhan yang penuh pengampunan ini. Di dalamnya, tiap detik, menit dan jam, tumpahkan diri Anda dalam lautan kesungguh-sungguhan untuk selalu berserah dan meminta kepada Allah atas segala kesalahan di masa lampau, apa pun bentuk dan besar. Insya Allah, seperti yang telah dijanjikan-Nya, kita dapat terlahir suci bila memang kita bersungguh-sungguh. Amin.

SEMERBAK IMAN MASYITA

Bercakap fasal iman, saban tahun kita mendengar peristiwa 'israk dan mikraj' khususnya tentang kehebatan iman Masyita, tukang sisir rambut anak Firaun.

Firaun menjadi sombong dan angkuh kerana kebesaran empayarnya dan kehebatan pengaruhnya di kalangan rakyat Mesir. Dia mengaku sebagai tuhan yang agung dan memusuhi sesiapa saja yang bertuhankan selain dirinya. Malahan dia akan membunuh mereka yang tidak mengaku Firaun sebagai tuhan.

Masyita walaupun bekerja di istana Firaun, namun di dalam hati kecilnya tetap bertuhankan Allah yang Maha Berkuasa dan Dialah juga yang menjadikan segala makhluk di muka bumi ini termasuk Firaun yang mengaku dirinya sebagai Tuhan. Kepercayaan ini dirahsiakannya supaya tidak diketahui oleh Firaun dan sekutunya.

Pada suatu hari, sedang dia menyisir rambut anak Firaun, sikat di tangannya terjatuh. Masyita terlatah dan berkata "Mampus Firaun! " Apabila anak Firaun mendengar kata-kata penghinaan terhadap bapanya, dia berkata, "Kenapa kau berkata begitu terhadap bapaku? Adakah tuhan lain selain bapaku?"

"Memang benar! Tuhanku dan tuhan bapamu ialah Allah." Mendengar kata-kata itu, anak Firaun menjadi marah. "Baik kamu bertaubat, kalau tidak aku akan beritahu bapaku." Masyita bertegas dan mengatakan, "Pergilah kau beritahu bapa kau. Aku tetap dengan pendirianku bahawa tuhan yang sebenarnya ialah Allah."

Sebaik saja Firaun diberitahu oleh anaknya tentang Masyita, dia menjadi murka dan memanggil Masyita. Dia bertanya sama ada benar apa yang dikatakan oleh anaknya itu. Masyita tetap mengatakan Tuhannya ialah Allah. Firaun mengugut untuk membunuh Masyita dan keluarganya sekiranya dia tidak mengubah pendiriannya.

Keesokannya keluarga Masyita dibawa ke satu tempat lapang, berhadapan dengan sebuah kawah besar yang berisi dengan minyak yang sangat panas. Firaun hendak memasukkan kesemua keluarga Masyita termasuk anaknya yang masih kecil ke dalam minyak panas sekiranya Masyita tidak mengaku Firaun sebagai tuhan. Keimanan Masyita tidak luntur meskipun berhadapan dengan ancaman maut.

Melihatkan iman Masyita yang tidak berganjak, Firaun menyuruh askarnya mencampakkan keluarga Masyita seorang demi seorang ke dalam kawah yang besar itu. Apabila sampai giliran anaknya yang kecil, perasaan Masyita menjadi belas dan sebak. Hati siapa tidak sedih melihatkan anak yang disayangi akan dilontar ke dalam kawah yang membuak-buak dengan minyak panas. Masyita meminta supaya dia dicampakkan dulu sebagai ganti kepada anaknya. Tiba-tiba dengan kuasa Tuhan, anaknya yang kecil itu membuka mulut dan berkata, "Ibu, jangan bersedih. Teruskan! Biarkan saya dicampak ke dalam kawah itu." Masyita dan orang-orang di sekeliling terperanjat melihat seorang bayi boleh berkata-kata.

Mendengar kata-kata anaknya itu, Masyita menjadi semakin yakin dan tabah. Dia menghulurkan anaknya untuk dicampakkan ke dalam kawah. Tanpa belas kesihan askar Firaun terus melontarkan anak Masyita ke dalam minyak panas. Selepas itu barulah Masyita dibawa ke tepi kawah yang panas itu lalu dicampakkan ke dalamnya.

Demikianlah hebatnya Masyita mempertahankan kebenaran aqidah sehingga dia dan keluarganya terkorban dibunuh oleh Firaun. Keberanian seorang wanita memperjuangkan kebenaran dan keimanan ini dirakam dan diingati setiap tahun oleh seluruh manusia. Dalam peristiwa Israk Mikraj, Nabi sampai di satu tempat yang sangat harum. Malaikat Jibril menerangkan bahawa tempat itu ialah tempat bersemadinya Masyita dan keluarganya.

Awas! Mana-mana pemimpin yang bongkak dan mengaku kehebatannya sebagai pemimpin, takbur, sombong dan berlagak sebagai superman yang kuku besi, nyatalah ciri-ciri Firaun yang terkutuk itu sudah diwarisinya. Nauzubillah!

MORAL & IKHTIBAR

· Orang yang mengorbankan jiwa dan raganya demi menegakkan kebenaran diberikan kedudukan yang tinggi di sisi Allah.

· Bukan lelaki saja yang mempunyai semangat yang kental dan tinggi dalam memperjuangkan kebenaran. Golongan wanita yang dianggap kaum yang lemah juga mempunyai keberanian dengan izin Allah

· Allah menetapkan hati hamba yang mencari keredhaanNya sehingga seorang bayi mampu bercakap dalam usia yang paling muda. Anak Masyita adalah salah seorang bayi yang boleh bercakap semasa kecil lagi. Contoh lain ialah anak Siti Mariam yang menafikan ibunya melahirkan anak haram.

· Orang yang Allah tidak kehendaki keimanannya dibiarkan mereka hidup dalam kezaliman sehingga menyangka keburukan sebagai kebaikan dan kebaikan pula dipandang sebagai kejahatan.

· Manusia jangan menyangka mereka mudah saja dibalas dengan syurga selagi tidak diduga dengan pelbagai musibah dan kesusahan.

· Dunia adalah tempat bersusah-payah, manakala akhirat ialah tempat kesenangan abadi.

· Prinsip dan pegangan hidup orang tua-tua, "Bersusah-susah dahulu, bersenang-senang kemudian" seharusnya dijadikan pedoman hidup bagi kita.

· Manusia yang senang kehidupannya tanpa diduga oleh Allah belum lagi diiktiraf keselamatannya di akhirat

· Kesenangan di dunia belum boleh dijadikan bukti sebagai tanda Allah menyayangi mereka. Begitu juga kesusahan di dunia bukan menjadi bukti bahawa Allah membenci mereka.

· Kesenangan di dunia bukan menjadi kayu pengukur kepada kesenangan di akhirat. Kesusahan di dunia pula bukan menjadi kayu pengukur kepada kesusahan di akhirat.

SUCI ZAHIR BATIN

Peristiwa Israk Mikraj adalah rentetan pengalaman Nabi yang sepatutnya menjadi teladan dalam usaha menuju ke jalan Allah. Pada permulaan perjalanan yang penuh mistik ini, Nabi Muhammad dibawa oleh Malaikat Jibril ke telaga zam-zam. Di sana Nabi Muhammad menjalani proses pembedahan. Hatinya dicuci dengan air zam-zam dan kemudian dimasukkan semula bersama dengan iman dan hikmah.

Setelah tamat peringkat penyucian ini, barulah perjalanan israk dan mikraj dimulakan. Sepanjang perjalanan Israk, Nabi menempuh pelbagai pengalaman penuh misteri yang kesemuanya dilaluinya dengan jaya sehinggalah berlaku pertemuan dengan jemaah Nabi dari Adam hinggalah ke akhirnya. Nabi diiktiraf sebagai penghulu segala Nabi apabila beliau terpilih sebagai imam dalam solat jemaah yang didirikan di Baitul Maqdis.

Begitu juga dalam perjalanan Mikraj dari Baitul Maqdis naik hingga ke Sidratul Muntaha melalui tujuh lapisan langit, Nabi berjaya menempuh pelbagai ujian dan rintangan sehingga ke Mustawa. Di sini Malaikat Jibril berhenti kerana tidak mampu melangkah lebih jauh lagi. Nabi Muhammad meneruskan perjalanan bersendirian hingga ke 'Arasy. Inilah kemuncak yang paling agung, di mana Nabi Muhammad menerima perintah solat 50 waktu sehari semalam. Atas nasihat Nabi Musa, Nabi Muhammad merayu kepada Allah untuk dikurangkan sehinggalah menjadi 5 kali sehari semalam.

Inilah mukjizat terbesar yang dikurniakan kepada Nabi Muhammad saw. sebagai satu pengiktirafan Allah kepada Nabi dan Rasul teragung sepanjang zaman.

MORAL & IKHTIBAR

· Syarat penting untuk menuju ke hadrat Allah ialah penyucian diri zahir dan batin.

· Pembedahan ini adalah simbolik kepada proses pembersihan jasmani dan rohani. Untuk memulakan sesuatu ibadat perlulah terlebih dahulu bertaubat dari sebarang dosa. Apabila diri bersih dari dosa, barulah segala ibadat diterima Allah.

· Dalam ibadat solat, misalnya, perkara pertama ialah penyucian dari hadas besar dan kecil. Ini adalah penyucian secara lahir. Dari aspek batin, seseorang perlu bertaubat dan menjauhkan diri dari sifat-sifat mazmumah yang boleh mencederakan pahala ibadat.

· Untuk memulakan perjalanan menuju kepada Allah, mestilah mendapat bimbingan guru yang mursyid. Mereka merupakan pakar rujuk dalam memberikan bimbingan ke jalan yang lurus.

· Dalam usaha merawat penyakit lahir, kita sering berjumpa doktor atau tabib. Penyakit lahir hanya membahayakan selagi nyawa ada di badan. Tetapi penyakit yang lebih bahaya ialah penyakit batin seperti ria', takbur, bangga diri, sombong, cinta dunia dan sebagainya yang perlu diberikan rawatan intensif dan segera kerana bahayanya bukan setakat di dunia malah berpanjangan hingga akhirat. Untuk merawat penyakit batin ini, kita perlu merujuk kepada para ustaz, ulama' dan guru yang mursyid. Mereka adalah doktor penyakit batin

ISRA MI’RAJ

Maha Suci Allah yang memperjalankan hambaNya (Nabi Muhammad) pada satu malam dari Masjid Haram ke Masjid Aqsa yang kami berkati sekelilingnya, untuk kami perlihatkan kepadanya tanda-tanda Kami. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat.

(Surah Bani Israil: 1)

Sempena bulan Rejab yang mulia ini, saya ingin merakamkan kisah yang sangat bermakna lagi simbolik dalam sejarah kemanusiaan iaitu Israk dan Mikraj. Kisah ini merupakan rentetan peristiwa yang berlaku ke atas Nabi Muhammad saw. secara real sebagai satu anugerah dan penghormatan Allah kepada baginda untuk memberikan satu pengiktirafan yang teragung kepada Penghulu segala nabi dan rasul. Ia juga merupakan satu mukjizat yang tidak diberi kepada mana-mana rasul sebelum ini. Selain itu, ia juga adalah merupakan satu perutusan diraja untuk penyampaian anugerah yang paling agung iaitu solat. Kesemua ibadat seperti zakat, puasa atau haji disampaikan melalui malaikat Jibril, tetapi solat oleh sebab ketinggian darjatnya, ia disampaikan secara langsung melalui satu peristiwa gemilang lagi kudus di antara Rabbul Jalil dengan Nabi Muhammad saw. Inilah detik teragung dan pengalaman yang paling manis buat Nabi Muhammad setelah mengalami tekanan perasaan apabila dua orang penyokong kuatnya iaitu Siti Khadijah dan bapa saudaranya Abu Talib meninggal dunia.

Perlu dinyatakan di sini bahwa oleh kerana kejadian ini berlaku secara 'luarbiasa', kita jangan sekali-kali mempertikaikan kesahehannya. Ia mesti dipandang sebagai satu kebenaran sebab ia adalah mukjizat Allah dan juga termaktub di dalam Al-Quran, sebagaimana yang tercatat di atas. Sebenarnya Israk Mikraj menguji keimanan kita. Mereka yang percaya adalah manusia pilihan Allah manakala yang meragui kebenaran ini termasuk dalam kumpulan Abu Jahal yang mendustakannya. Manusia pertama yang percaya bulat-bulat 100% ialah Saidinia Abu Bakar. Lantas dia digelar As-Siddiq. Perjalanan misteri ini adalah melibatkan jasad dan ruh Nabi Muhammad bukannya ruh saja (seperti dalam mimpi) sepertimana yang didakwa oleh orientalis. Dalam kesempatan ini saya perturunkan kisah tersebut secara agak detail supaya dapat dikongsi bersama dan dijadikan bahan renungan untuk dijadikan iktibar. Yang baik kita jadikan teladan manakala yang buruk kita jadikan sempadan.

Kejadian Isra' (perjalanan dari Mekah ke Masjid Al-Aqsa di Baitul Maqdis) dan Mikraj (perjalanan dari alam bumi ke alam langit hingga ke Sidratul Muntaha) ini berlaku pada malam 27 Rejab setahun sebelum hijrah. Ketika itu Nabi sedang berbaring-baring bersama Saidina Hamzah dan Saidina Ja'afar di Hijr Ismail (Masjidil Haram), tiba-tiba datang malaikat Jibril dan Mikail mengangkat Nabi ke telaga Zamzam. Di sana Nabi ditelentangkan dan berlakulah pembedahan di mana dada Nabi dibedah untuk dikeluarkan hatinya. Hati nabi dicuci dengan air zamzam. Kemudian dimasukkan semula bersama unsur ruhani iman dan hikmat. Setelah itu dadanya dijahit dan dimatrikan dengan khatimin nubuwwah. (Kejadian ini menjelaskan kepada kita bahawa peringkat pertama untuk berjalan menuju Allah ialah pembersihan diri dari segi jasmani dan rohani).

Selesai Nabi Muhammad menjalani operasi pembersihan jasmani dan rohani, baginda dipersilakan oleh Jibril untuk menunggang sejenis kenderaan yang amat canggih iaitu Buraq (seekor binatang dari alam malakut yang mempunyai pergerakan yang teramat laju). Mengikut satu riwayat Buraq yang dipilih oleh Jibril ini merupakan satu-satunya haiwan yang mempunyai ciri teristimewa kerana sejak mendengar nama Nabi Muhammad, ia tidak tahan menanggung rindu sehingga tidak lalu untuk makan dan minum, bahkan saban masa duduk menangis tersedu-sedu. (Peristiwa ini menggambarkan kepada kita sedangkan seekor haiwan mempunyai rasa hormat yang amat tinggi terhadap Nabi Muhammad, betapa hal dengan diri kita yang mengaku sebagai umat Muhammad)

Buraq yang dibawa oleh Jibril itu agak liar tetapi bila Jibril mengatakan yang Nabi Muhammad akan naik di belakangnya, badannya berpeluh dan dengan rasa malu merendahkan badannya untuk ditunggang oleh Nabi. Buraq terus membawa Nabi dengan diiringi oleh Jibril di sebelah kanan dan Mikail di sebelah kiri. Maka bermulalah perjalanan yang amat bersejarah.

Beberapa minit perjalanan, sampailah di suatu tempat bernama Thaibah (Medina). Di sini Jibril menyuruh Nabi berhenti untuk melakukan solat 2 rakaat dan memberitahu di sinilah kelak Nabi akan melakukan hijrah. Kemudian perjalanan diteruskan lagi hingga sampai di satu tempat iaitu Bukit Tursina, iaitu tempat di mana Nabi Musa menerima wahyu. Di sini Nabi berhenti untuk melakukan solat dua rakaat. Perhentian seterusnya ialah di Baitul Laham, tempat kelahiran Nabi Isa, di mana Nabi sekali lagi mengerjakan solat. (Peristiwa ini menggambarkan kepada kita tentang perlunya mengerjakan solat sunat apabila singgah di masjid atau di tempat-tempat yang mulia)

Perjalanan diteruskan lagi. Dalam perjalanan ke Baitul Maqdis, Nabi diperlihatkan dengan pelbagai peristiwa simbolik yang ganjil-ganjil. Setiap kali melihatnya, Jibril menerangkan hakikat sebenar peristiwa tersebut. Di antaranya adalah:

Jin Ifrit membawa obor (api) sambil mengejar Nabi dari belakang Malaikat Jibril ajarkan doa menagkis serangan jin. Apabila Nabi membacanya, jin tersungkur

Sekumpulan manusia memecahkan kepala sendiri. Apabila bercantum dipecahkan lagi tanpa henti. Balasan bagi orang yang tidak mengerjakan sembahyang

Sekumpulan manusia memakai cawat dihalau untuk makan buah berduri yang amat pahit atau api neraka. Balasan bagi mereka yang tidak mengeluarkan zakat

Sekumpulan manusia dihidangkan dengan 2 mangkuk berisi daging masak dan daging mentah yang busuk. Mereka memilih daging mentah Gambaran manusia yang berzina sedangkan mereka mempunyai pasangan yang sah.

Beberapa orang tidak berdaya mengangkat seberkas kayu tetapi menambahkan lagi bebanan Gambaran orang yang diamanahkan sesuatu tugas, walaupun tidak mampu melaksanakannya tapi menerima amanah/tugas lain.

Beberapa orang menggunting lidah dan bibir sendiri dengan gunting besi. Apabila bersambung semula digunting lagi tanpa henti. Perbandingan orang yang menyuruh orang lain berbuat baik tapi dia sendiri tidak melakukannya.

Sekumpulan orang berkuku tembaga menggaru muka dan dadanya sendiri sehingga habis daging, namun masih menggaru lagi. Gambaran orang yang mengumpat dan membuka rahsia orang kepada orang lain serta menjatuhkan maruah mereka.

Seekor lembu keluar dari satu lubang yang sempit, kemudian cuba masuk semula ke lubang itu tetapi tidak boleh. Gambaran pasangan lelaki dan perempuan asing berbual perkara lucah, kemudian menyesal tapi tidak mampu menarik perkataannya.

Seorang lelaki datang dari arah kanan Nabi meminta Nabi berhenti seolah-olah hendak bertanya sesuatu. Seruan orang Yahudi. Jibril menerangkan jika Nabi melayan, nescaya ramai umatnya menjadi Yahudi

Seorang lagi datang dari arah kiri merayu Nabi supaya berhenti Seruan orang Nasrani menghalang sebaran Islam

Seorang wanita dengan perhiasan yang sarat meminta Nabi berhenti Gambaran tipu daya dunia. Jika Nabi menjawab ramai akan terpesona dengan keduniaan.

Orang tua duduk di tepi jalan seraya menyuruh Nabi berhenti Seruan Iblis cuba menghalang usaha dakwah

Seorang wanita bongkok tiga menahan Nabi untuk bertanya sesuatu Gambaran umur dunia yang sangat tua dan tunggu saat untuk kiamat

Nabi tercium bau yang amat harum Tempat Mashitah dibunuh kerana mempertahankan keimanannya sehingga dia dan keluarga menjadi mangsa kepada Firaun.

Kayu merentangi jalan sehingga menyukakan orang lalu-lalang Gambaran orang yang suka berpeleseran dan melepak

Sekumpulan orang berenang di dalam sungai darah. Mereka dilempar dengan batu. Batu-batu itu diambil dan dimakannya. Gambaran orang yang makan riba'

Sekumpulan manusia menanam gandum. Sesaat kemudian berbuah dan dituai. Gambaran orang yang suka membelanjakan harta untuk perjuangan menegakkan kalimah Allah.

Selepas menyaksikan pelbagai jenis panorama, akhirnya sampailah mereka di Baitul Maqdis. Di sana telah menanti satu jemaah para nabi terdahulu. Nabi Muhammad saw solat tahyatul masjid dan Jibril menyuruh Nabi mengimami solat bersama barisan nabi terdahulu.

Kemudian Nabi dihidangkan dengan tiga gelas minuman berisi susu, arak dan madu. Nabi memilih gelas berisi susu, minuman fitrah manusia.

Selesai upacara Israk, sampai ketika Nabi Muhammad diMikrajkan. Sejenis tangga yang canggih seakan escalator membawa Nabi ke angkasa. Maka bermulalah episod mikraj dari langit pertama hingga ke tujuh dan kemudiannya ke Sidaratul Muntaha. Setiap kali melalui lapisan langit, Jibril memberi salam dan sebaik Malaikat penjaga langit membuka pintu, Nabi Muhammad saw diperkenalkan dengan nabi yang sedia menunggu di situ. Kesemua nabi mendoakan kesejahteraan ke atas Nabi Muhammad.

Langit pertama Nabi berjumpa Nabi Adam, bapa segala manusia.

Langit kedua Berjumpa dengan Nabi Isa dan Yahya.

Langit ketiga Berjumpa dengan Nabi Yusof

Langit keempat Berjumpa dengan Nabi Idris

Langit kelima Berjumpa dengan Nabi Harun

Langit keenam Berjumpa dengan Nabi Musa

Langit ketujuh Berjumpa dengan Nabi Ibrahim

Pengajaran dari Israk (2)
SOLAT TAHYAT MASJID


Selepas Jibril melakukan pembedahan ke atas Nabi, maka bermulalah perjalanan yang amat bersejarah. Sebentar kemudian, Nabi pun sampai di Kota Thaibah yang sekarang dipanggil Madinah.

Di sini baginda bersama Jibril turun untuk melakukan solat sunat dua rakaat. Jibril menerangkan bahawa di sinilah tempat Nabi Muhammad akan berhijrah. Seterusnya baginda berhenti di Madain, tempat Nabi Musa mendengar kalam Allah yang qadim. Selepas itu Nabi Muhammad berhenti di Baitul Laham, tempat Nabi Isa dilahirkan.

Begitu juga apabila sampai di Baitul Maqdis, Nabi Muhammad bersua dengan para nabi terdahulu. Nabi Muhammad diberi kehormatan mengimami solat jemaah.

MORAL & IKHTIBAR

· Jika kita dalam musafir seeloknya kita singgah di masjid-masjid untuk mengambil keberkatan. Masjid adalah 'rumah Allah' yang merupakan tempat turunnya rahmat Allah. Melakukan solat sunat tahiyatul masjid adalah untuk memuliakannya.

· Adalah sunat bagi musafir memulakan perjalanan dari masjid dan semasa kembali singgah di masjid untuk melakukan solat tahyat masjid sebelum balik ke rumah.

· Menziarahi orang-orang soleh adalah satu amal kebajikan kerana para solihin dan aulia adalah kekasih Allah.

· Sekiranya hendak bermusafir, eloklah jangan bersendirian. Carilah kawan untuk dijadikan teman perjalanan.

NABI MUHAMMAD SAW MAKHLUK TERAGUNG

Nabi Muhammad saw meskipun sama kejadiannya dengan manusia lain di muka bumi ini, namun bentuk lahiriah dan rohaniahnya tidak sama. Baginda mempunyai keistimewaan yang sama sekali tidak terdapat pada manusia-manusia biasa.

Sebagai manusia yang terbaik di muka bumi ini, Baginda dianugerahkan dengan keperibadian dan perwatakan yang istimewa kerana padanyalah terdapat contoh untuk diteladani.

Umum mengetahui keadaan yang zahir adalah gambaran yang terjelma dari unsur-unsur batin. Rupa paras seseorang boleh membantu menjelaskan keperibadian setiap individu. Ciri-ciri seperti bentuk badan, sifat fizikal dan rupa bentuk anggota adalah menggambarkan tentang akal dan akhlak seseorang. Begitulah dengan Nabi Muhammad saw. yang mempunyai bentuk badan yang indah dan segak, namun tidak dapat digambarkan oleh mana-mana pelukis potret di dunia ini. Allah mengharamkan penggambaran potret Baginda oleh sesiapa saja. Sungguhpun begitu sifat-sifat kecantikan baginda masih boleh diillusikan melalui pertuturan dan riwayat para sahabat dan tabi'in.

Begitu indahnya sifat fizikal Baginda, sehinggakan seorang ulama Yahudi yang pada pertama kalinya bersua muka dengan Baginda lantas melafazkan keIslaman dan mengaku akan kebenaran apa yang disampaikan oleh Baginda. Ulama Yahudi berkenaan terpukau dengan raut paras dan akhlak baginda yang sudah tentunya milik seorang Rasul Agung di muka bumi ini.

Para sahabat yang sentiasa bersamanya sentiasa meneliti bentuk tubuh tokoh kesayangannya secara terperinci. Di antara kata-kata appresiasi mereka yang pernah melihat baginda saw:

· Aku belum pernah melihat lelaki yang sekacak Rasulullah. Aku melihat cahaya memancar dari lidahnya.

· Seandainya kamu melihat Rasulullah, kamu akan merasa seolah-olah sedang melihat matahari terbit.

· Aku pernah melihat Rasulullah saw di bawah sinaran bulan. Aku bandingkan wajahnya dengan bulan, akhirnya aku sedari bahawa Rasulullah saw jauh lebih cantik daripada sinaran bulan.

· Rasulullah saw seumpama matahari yang bersinar. Aku belum pernah melihat lelaki setampan Rasulullah saw.

· Apabila Rasulullah saw berasa gembira, wajahnya bercahaya seperti bulan purnama dan dari situ kami mengetahui yang baginda sedang gembira.

· Kali pertama memandangnya, sudah tentu kamu akan terpesona.

· Wajahnya tidak bulat tetapi lebih cenderung kepada bulat.

· Wajahnya seperti bulan purnama.

· Dahi Baginda luas, raut kening tebal, terpisah di tengahnya. Urat darah kelihatan di antara dua kening dan nampak semakin jelas semasa marah.

· Mata Baginda hitam dengan bulu mata yang panjang.

· Garis-garis merah di bahagian putih mata, luas kelopaknya, kebiruan asli di bahagian sudut.

· Hidungnya agak mancung, bercahaya penuh misteri, kelihatan luas sekali pertama kali melihatnya.

· Mulut baginda sederhana luas dan cantik.

· Giginya kecil dan bercahaya, indah tersusun, renggang di bahagian depan.

· Apabila berkata-kata cahaya kelihatan memancar dari giginya.

· Janggutnya penuh dan tebal menawan.

· Lehernya kecil dan panjang, terbentuk dengan cantik seperti arca. Warna lehernya putih seperti perak sangat indah.

· Kepalanya besar tapi terlalu elok bentuknya

· Rambutnya sedikit ikal

· Rambutnya tebal kadang-kadang menyentuh pangkal telinga dan kadang-kadang mencecah bahu tapi disisir rapi

· Rambutnya terbelah di tengah

· Di tubuhnya tidak banyak rambut kecuali satu garisan rambut menganjur dari dada ke pusat

· Dadanya bidang dan selaras dengan perut. Luas bidang antara kedua bahunya lebih daripada biasa

· Seimbang antara kedua bahunya

· Pergelangan tangannya lebar, lebar tapak tangannya , jarinya juga besar dan tersusun dengan cantik.

· Aku tidak pernah menyentuh sebarang sutera yang tipis mahupun tebal yang lebih lembut daripada tapak tangan Rasulullah saw.

· Perut betisnya tidak lembut tetapi cantik. kakinya berisi, di tapak kakinya terlalu licin sehingga tidak melekat air. Terlalu sedikit daging di bahagian tumit kakinya.

· Warna kulitnya tidak putih seperti kapur atau coklat tapi campuran antara coklat dan putih. Warna putihnya lebih banyak.

· Warna kulit Baginda putih kemerah-merahan.

· Warna kulitnya putih tapi sehat.

· Kulitnya putih lagi bercahaya.

· Binaan badannya sempurna, tulang-temulangnya besar dan kukuh.

· Badannya tidak gemuk.

· Badannya tidak tinggi dan tidak pula rendah, kecil tapi berukuran sederhana lagi kacak.

· Perutnya tidak buncit.

· Badannya cenderung kepada tinggi. Semasa berada di kalangan orang ramai, baginda kelihatan lebih tinggi daripada mereka.

· Sekalipun baginda miskin dan lapar tapi tubuhnya lebih gagah dan sihat daripada orang yang cukup makan.Aku tidak pernah melihat seorang lelaki yang lebih gagah dan berani daripada Rasulullah saw.

Begitu hebat personaliti dan ketokohan Baginda saw., makhluk terpuji dan teragung di muka bumi. Kesimpulannya Nabi Muhammad saw. adalah manusia agung yang ideal dan sebaik-baik contoh sepanjang zaman.

MORAL & IKHTIBAR

· Nabi Muhammad saw. adalah manusia terbaik pilihan Allah.

· Sifatnya yang terpuji merangkumi aspek fizikal dan rohani.

· Atas sifatnya yang superior inilah baginda dilantik menjadi pemimpin seluruh manusia di dunia ini.

· Baginda adalah manusia mithali yang serba lengkap dan serba kamil dan layaklah baginda tidak disentuh sebarang dosa lagi bersifat dengan maksum.

· Kepimpinan Baginda sepatutnya menjadi contoh teladan kepada semua manusia di muka bumi ini. Barangsiapa mentaati Allah tanpa mengakui kerasulan Nabi saw, nescaya Allah tidak menerima keimanannya.

REJAB BULAN Allah (Isra dan Mi’raj)

Rejab digelar bulan Allah. Dikatakan begitu kerana ia adalah satu bulan yang mulia di mana Allah telah bermurah hati mengampunkan dosa-dosa hamba-hambaNya, mengangkatkan darjat mereka serta melipatgandakan pahala mereka yang melakukan amal ibadat dalam bulan ini. Sekiranya dalam bulan-bulan biasa, satu kebajikan dibalas dengan 10, tetapi dalam bulan Rejab setiap kebajikan dibalas dengan 70. Dalam bulan ini juga Allah telah menjalankan Nabi Muhammad saw dalam peristiwa Isra' dan Mi'raj iaitu dari Masjidil Haram (Mekah) ke Masjid Aqsa dan dari sana pula dibawa ke Sidratul Muntaha, untuk menerima kewajiban solat 5 waktu sehari semalam.

Sempena bulan Rejab yang mulia ini, saya ingin membawa satu kisah untuk kita renungkan bersama.

Setiap kali kedatangan bulan Rejab, seorang abidah (waniita yang kuat beribadat) mewiridkan bacaan 'Qulhuwallahu Ahad' sebanyak 11 kali selepas solat Subuh. Ini dilakukannya setiap hari sepanjang Rejab pada tiap-tiap tahun. Usaha ini dilakukannya sebagai tanda memuliakan Bulan Rejab. Selain itu, wanita ini akan memakai pakaian yang kasar menggantikan pakaian biasa yang dipakainya pada bulan-bulan lain.

Suatu hari, dia jatuh sakit. Sebelum menghembuskan nafas terakhir, wanita itu sempat berwasiat kepada anak-anaknya jika dia mati kafankannya dengan kain kasar yang dipakainya. Dalam keadaan yang tenang, wanita itu menghembuskan nafasnya yang akhir. Semasa mengkafankan jenazah ibunya, anak-anaknya terasa aib untuk menggunakan kain kapan yang sudah uzur dan lusuh, lalu menggantikannya dengan kain kafan yang baru.

Pada malam itu, anaknya bermimpi berjumpa ibunya. Ibunya bertanya mengapa mereka tidak mematuhi wasiatnya. Perbuatan mengkafannya dengan kain baik menyebabkan ibunya tidak meredhai mereka. Sebaik saja anaknya terjaga, dia berasa amat sedih dan menyesal atas perbuatannya. Dia segera ke kubur pada malam itu juga lalu menggali kubur ibunya untuk menggantikan dengan kain kafan yang lusuh. Alangkah terperanjatnya apabila mendapati mayat ibunya tidak ada di situ.

Anaknya berasa amat hairan. Tiba-tiba kedengaran satu suara 'Hai anak! Tidakkah kau tahu bahawa orang yang memuliakan bulan Rejab tidak akan bersendirian di dalam kubur.' Mendengar suara itu, anaknya segera faham. Dia pun menimbus semula kubur yang digalinya lalu beredar dari situ.

MORAL & IKHTIBAR

· Sesiapa yang memuliakan bulan Rejab akan dimuliakan Allah.

· Allah lebih suka melihat hambaNya yang beramal sedikit tetapi berkekalan daripada mereka yang beramal banyak tetapi tidak kekal.

· Kita hendaklah mencari keredhaan ibu kerana keredhaan Allah bergantung pada keredhaannya.

· Syurga di bawah tapak kaki ibu. Dalam kata-kata lain salah satu syarat untuk memasuki syurga ialah mentaati kedua ibu bapa.

· Anak yang taat akan segera meminta keampunan daripada ibubapa jika dia melakukan kesalahan.

· Orang yang memuliakan bulan Rejab akan dimasukkan ke dalam syurga.

· Liang lahad (tanah perkuburan) menjadi pintu syurga bagi mereka yang beramal soleh. Sebaliknya akan bertukar menjadi pintu neraka bagi mereka yang kufur dengan Allah.

· Liang lahad menjadi amat luas dipenuhi dengan taman syurga untuk mereka yang taat kepada Allah dan RasulNya.

· Liang lahad juga menjadi amat sempit dengan dipenuhi dengan ular dan kala jengking yang sentiasa menyeksa mayat yang kufur dan sentiasa membuat maksiat di dunia ini.

· Kejadian ini berlaku adalah kerana Allah hendak membukakan rahsia balasan Allah kepada orang yang memuliakan bulan Rejab.

· Setiap sesuatu yang berlaku di dunia ini tidak berlaku secara sia-sia. Bahkan ada sesuatu yang tersirat di sebaliknya. Inilah yang perlu kita fikirkan untuk diambil iktibar.

· Amal ibadat semasa hidup menjadi teman sejati semasa di kubur. Harta kekayaan yang dikumpul semasa di dunia belum tentu menjamin kebahagiaan di akhirat.


Wallahu 'Alam.

TAKHTA BERNILAI SECANGKIR MINUMAN

Seorang Sufi, Ibnu Sammak mengadap raja dengan membawa secangkir minuman. Raja itu meminta sedikit nasihat daripada Ibnu Sammak. Ibnu Sammak bertanya raja, "Katakanlah tuanku dalam kehausan yang amat sangat dan hanya terdapat secangkir minuman yang ada di tangan saya ini. Relakah tuanku membayar secangkir minuman ini dengan seluruh harta benda tuanku?" Raja itu mengatakan, "Sudah tentu."

Orang sufi itu meneruskan, "Kalau tuanku terpaksa menyerahkan takhta kerajaan tuanku untuk menghilangkan kehausan itu, bagaimana, bolehkah tuanku serahkan?". Raja menjawab, "Sudah tentu aku serahkan!"

Ibnu Sammak lantas berkata, "Nah tuanku, janganlah tuanku bergembira dengan takhta kerajaan yang nilainya hanya seteguk minuman!"

MORAL & IKHTIBAR

· Seorang yang bagaimana tinggi sekalipun pangkatnya perlu merujuk kepada ulama untuk kebahagiaan dan keselamaatn di akhirat

· Kurniaan Tuhan berupa secangkir air untuk menghilangkan dahaga saja lebih besar nilainya daripada takhta kerajaan seluas bumi

· Janganlah sombong dan bongkak dengan apa yang ada pada kita kerana itu juga adalah kurniaan Allah.

· Setiap nikmat dan kurniaan perlulah kita syukuri dan lahirkan kesyukuran kepada Allah yang mengurniakannya.

· Sekiranya kita bersyukur atas nikmat Allah, nescaya akan diberikan tambahan nikmat. Sebalinya jika tidak bersyukur, azab Allah yang amat pedih menunggu kita di akhirat nanti.

SATU AMALAN NILAINYA SYURGA

Di padang Mahsyar segala amalan manusia ditimbang oleh Allah. Mana yang lebih banyak pahala dimasukkan ke syurga sementara yang berat timbangan dosa dihumban ke neraka. Seorang hamba Allah didapati kurang satu amalan (mata) saja untuk melayakkan dia masuk ke syurga. Jika mengikut perkiraan, dia adalah calon neraka tapi Allah Maha Penyayang akan hambanya. Allah memerintahkan orang itu mencari satu lagi mata untuk melayakkan dia ke syurga. Puas dia merayau dan mengemis dari seorang ke seorang untuk mendapatkan satu kebajikan saja namun hampa. Masing-masing memerlukan walau satu kebajikan. Kesemuanya mengatakan nasib mereka belum menentu, bagaimana hendak memberikan satu pahala.

Namun dia tidak berputus asa. Akhirnya berjumpa dengan seorang hamba Allah yang bersimpati dengannya. Dia mengatakan hidupnya bergelumang dengan dosa dan sepanjang hidupnya hanya membuat satu kebajikan saja. Padanya satu pahala itu tidak membawa sebarang makna, kerana menyangkakan dia akan masuk ke neraka akhirnya. Oleh sebab simpatinya kepada orang itu, dia memberikan satu pahala itu kepadanya. Dengan gembira yang tidak terhingga dia kembali menghadap Allah membawa pahala tersebut. Dia menerangkan apa yang berlaku. Oleh sebab sikap penderma yang pemurah itu, Allah menyuruh orang itu mencari penderma berkenaan untuk dimasukkan bersamanya ke dalam syurga.

MORAL & IKHTIBAR

o Allah bersifat dengan AR-RAHIM

o Jangan remehkan kebajikan walaupun hanya amalan sunat

o Satu kebajikan amat berat timbangan di sisi Allah Satu amalan boleh meletakkan diri sama ada syurga atau neraka

o Di padang mahsyar semuanya nafsi-nafsi; masing-masing mau melepaskan diri dari azab yang pedih

o Orang yang pemurah akan dirahmati Allah yang bersifat dengan Pemurah

o Penghakiman di akhirat amat teliti serta berlandaskan keadilan yang hakiki

Saiyidina Hassan Dan Pemuda Badwi

Saiyidina Hassan bin Ali r.a., adalah seorang tokoh Islam yang sangat dicintai oleh umat Islam. Sebagai seorang cucu Rasulullah s.a.w. beliau adalah ibarat permata di zaman hidupnya kerana memiliki budi pekerti yang mulia dan terpuji.

Pada suatu hari sedang Saiyidina Hassan duduk di muka pintu rumahnya, tiba-tiba datang seorang pemuda badwi, lalu mencacinya dan juga kedua ibu bapanya. Anehnya, Saiyidina Hassan hanya mendengar sahaja tanpa sedikit pun berubah air mukanya, atau membalas kata-katanya itu. Saiyidina Hassan berkata kepada orang itu: "Wahai badwi, adakah engkau lapar atau dahaga? atau adakah sesuatu yang merungsingkan hati engkau?." Tanpa mempedulikan kata-kata Saiyidina Hassan, badwi itu terus memaki hamunnya. Oleh itu Saiyidina Hassan pun menyuruh pembantu rumahnya membawa uncang yang berisi wang perak lantas diberikannya kepada badwi itu dan berkata: "Wahai badwi, maafkanlah saya. Inilah sahaja yang saya miliki. Jika ada yang lebih tidak akan saya sembunyikannya dari padamu." Sikap dan layanan Saiyidina Hassan itu akhirnya berjaya melembutkan hati badwi tersebut. Badwi itu menangis teresak-esak lantas sujud di kaki Saiyidina Hassan dan berkata: "Wahai cucu baginda Rasulullah s.a.w. maafkanlah aku kerana berlaku kasar terhadapmu. Sebenarnya aku sengaja melakukan begini untuk menguji kebaikan budi pekertimu sebagai cucu baginda Rasulullah s.a.w. yang aku kasihi. Sekarang yakinlah aku bahawa engkau mempunyai budi pekerti yang mulia sekali."

SI-BUTA DAN GAJAH

Dalam suatu negeri terdapat sekumpulan orang buta. Mereka mendengar berita satu sarkis datang ke tempatnya dengan membawa bersama seekor haiwan ajaib bernama gajah. Naluri ingin tahu mereka melonjak kerana selama ini mereka belum pernah melihat rupa atau mengenalinya bahkan nama gajah pun mereka belum pernah dengar.

Kata sepakat diambil untuk menghantar wakil ke tempat itu. Salah seorang berkata meskipun kita buta tapi kita masih boleh mengenalinya dengan cara meraba. Perwaklilan yang dilantik terus ke tempat itu. Sebaik saja sampai, masing-masing terus memainkan peranan. Ada yang terpegang kaki gajah, ada yang terpegang gading dan sebahagian lain memegang telinga gajah.

Setelah puas meraba, mereka pun kembali ke kampungnya. Mereka dihujani dengan pelbagai pertanyaan oleh orang-orang buta yang tidak pergi dan ingin mengetahui bentuk gajah ajaib itu. Orang yang terpegang kaki gajah mengatakan gajah itu seperti tiang besar, kesat tapi lembut pada sentuhan. Kenyataan ini dibantah keras oleh orang yang terpegang gajah pada gading. Dia mengatakan gajah tidak kesat, tidak lembut dan jauh sekali dari berbentuk seperti tiang seperti yang dilaporkan oleh orang pertama tu, sebaliknya katanya gajah keras dan licin dan hanya sebesar galah saja. Kenyataan ini disanggah oleh pelapor ketiga yang memegang gajah pada telinga. Dia bersetuju dengan pelapor pertama yang mengatakan gajah itu kesat dan lembut tetapi tidak bersetuju bentuknya seperti tiang atau galah. Dia menegaskan bahawa gajah itu kesat, lembut dan saiznya hanya seperti kulit terkembang yang tebal sebesar dulang.

Orang-orang buta lain yang ingin mendengar cerita mengenai bentuk gajah itu melopong kebingungan.

MORAL & IKHTIBAR

o Naluri ingin tahu yang ada pada setiap orang mendorong mereka untuk menyelidik

o Penggunaan satu deria saja tidak memadai untuk mengetahui sesuatu fakta secara syumul dan terperinci

o Pendapat seseorang mengenai sesuatu perkara adalah betul dari satu persepsi/sudut saja

o Penguasaan ilmu perlu menggunakan teknik gabungan pelbagai media dan juga melalui 'brainstorming'

o Jangan lekehkan pandangan orang lain kerana ia adalah betul dari sudut pandangannya

o Melekehkan pendapat orang menyekat diri kita dari menguasai ilmu secara global

o Dapatkan fakta atau maklumat mengenai sesuatu dari banyak sumber dan cara

o Maklumat yang diperolehi secara 'second-hand' belum dapat dipastikan kesahihan; jauh sekali untuk dijadikan dalil atau hujah.

ANAK KECIL YANG TAKUT API NERAKA


Dalam sebuah riwayat menyatakan bahwa ada seorang lelaki tua sedang berjalan-jalan di tepi sungai, ketika dia berjalan-jalan dia terlihat seorang anak kecil sedang mengambil wudhu' sambil menangis. Apabila orang tua itu melihat anak kecil tadi menangis, dia pun berkata, "Wahai anak kecil kenapa kamu menangis?"
Maka berkata anak kecil itu, "Wahai kakek saya telah membaca ayat al-Qur'an sehingga sampai kepada ayat yang berbunyi, "Yaa ayyuhal ladziina aamanuu quu anfusakum" yang bermaksud, " Wahai orang-orang yang beriman, jagalah olehmu sekalian akan dirimu." Saya menangis sebab saya takut akan dimasukkan ke dalam api neraka." Berkata orang tua itu, "Wahai anak, janganlah kamu takut, sesungguhnya kamu terpelihara dan kamu tidak akan dimasukkan ke dalm api neraka." Berkata anak kecil itu, "Wahai kakek, kakek adalah orang yang berakal, tidakkah kakek lihat kalau orang menyalakan api maka yang pertama sekali yang mereka akan letakkan ialah ranting-ranting kayu yang kecil dahulu kemudian baru mereka letakkan yang besar. Jadi tentulah saya yang kecil ini akan dibakar dahulu sebelum dibakar orang dewasa." Berkata orang tua itu, sambil menangis, "Sesungguh anak kecil ini lebih takut kepada neraka daripada orang yang dewasa maka bagaimanakah keadaan kami nanti?"

SAKIT MATA SEMBUH DENGAN WUDLU

Suatu hari Junaid Al-Baghdadi sakit mata. Ia diberitahu oleh seorang tabib, jika ingin cepat sembuh jangan sampai matanya terkena air.

Ketika tabib itu pergi, ia nekad berwudhu membasuh mukanya untuk sholat kemudian tidur. Anehnya, sakit matanya malah menjadi sembuh. Saat itu terdengar suara "Junaid menjadi sembuh matanya kerana ia lebih ridha kepada-Ku". Seandainya ahli neraka minta kepada-Ku dengan semangat Junaid niscaya Aku luluskan permintaannya." Kata suara itu. Tabib yang melihat mata Junaid sembuh itu menjadi keheranan, "Apa yang telah engkau lakukan?" "Aku telah membasuh muka dan mataku kemudian sholat", ujarnya." Tabib itu memang beragama Nashrani, dan setelah melihat peristiwa itu, dia beriman. "Itu obat dari Tuhan yang menciptakan sakit itu. Dia pulalah yang menciptakan obatnya. Aku ini sebenarnya yang sakit mata hatiku, dan Junaidlah tabibnya."

RESIPI MENJAUHKAN TABIB

Seorang tabib diantar oleh penguasa Mesir ke Medinah sebagai menunjukkan tanda persahabatan. Sepanjang dua tahun tabib itu berada di sana, tidak ada seorangpun yang datang untuk mendapatkan rawatan perubatan. Tabib menjadi hairan dan bosan kerana tidak dapat memberikan perkhidmatan apa-apa kepada penduduk Medinah.

Tabib itu berjumpa Nabi Muhammad saw untuk mendapatkan kepastian. Dia bertanya Nabi, "Adakah penduduk sini takut untuk berjumpa tabib?" Nabi menjawab "Tidak! Dengan musuh mereka tidak takut, apatah lagi dengan tabib." Tabib bertanya lagi, "Tapi mengapa sepanjang 2 tahun saya di sini, seorang pun tidak berubat dengan saya?" Nabi menjelaskan "Sebab penduduk Medinah tidak ada yang sakit." Tabib itu kurang mempercayai Nabi dan berkata, "Masakan tidak ada satu orang pun yang sakit." Melihat keraguan tabib itu, Nabi mempersilakan tabib itu menjelajah ke merata pelusuk Medinah untuk membuktikan kebenaran kata-katanya.

Tabib itu beredar dan menjelajah ke pelusuk Medinah. Puas dia mencari pesakit tetapi tidak menjumpai walau seorangpun. Terbuktilah kepadanya kebenaran kata-kata Nabi itu.

Didorong oleh perasaan ingin tahu dan kekagumannya, tabib itu sekali lagi berjumpa Nabi saw. lalu berkata, "Benar seperti kata-kata baginda. Apakah petuahnya sehingga semua penduduk Medinah sihat-sihat belaka?" Nabi menerangkan, "Kami adalah satu kaum yang tidak akan makan jika tidak lapar. Dan jika kami makan, kami tidak makan sehingga terlalu kenyang. Itulah petuah untuk kesihatan. Yakinilah makanan yang halal dan baik. Makanlah untuk bertaqwa kepada Allah bukan sekadar memuaskan hawa nafsu."

MORAL & IKHTIBAR

· Petua untuk sihat: Makan ketika lapar. Berhenti sebelum kenyang

· Agama Islam suatu agama yang syumul; ia mencakupi bidang jasmani dan rohani

· Semua kata-kata Nabi adalah BENAR belaka; tidak boleh mempertikannya.

· Berpegang kepada ajaran Nabi membawa keselamatan bukan saja di akhirat malahan di dunia juga.

· Bertawakkal kepada Allah menjauhkan diri dari menyerahkan nasib kepada selain Allah

· Menyendatkan perut dengan pelbagai makanan yang banyak menyebabkan kesihatan terganggu dan mengurangkan kecerdasan otak dan jiwa.

· Sebaliknya mengosongkan perut dengan amalan puasa boleh melahirkan ketajaman otak dan kejernihan jiwa.

· Para Nabi dan orang-orang soleh memilih lapar di dunia supaya kenyang di akhirat.

ANTARA SABAR DAN MENGELUH

Pada zaman dahulu ada seorang yang bernama Abul Hassan yang pergi haji di Baitul Haram. Diwaktu tawaf tiba-tiba ia melihat seorang wanita yang bersinar dan berseri wajahnya. "Demi Allah, belum pernah aku melihat wajah secantik dan secerah wanita itu, tidak lain kerana itu pasti kerana tidak pernah risau dan bersedih hati."
Tiba-tiba wanita itu mendengar ucapan Abul Hassan lalu ia bertanya, "Apakah katamu hai saudaraku ? Demi Allah aku tetap terbelenggu oleh perasaan dukacita dan luka hati kerana risau, dan seorang pun yang menyekutuinya aku dalam hal ini."

Abu Hassan bertanya, "Bagaimana hal yang merisaukanmu ?"
Wanita itu menjawab, "Pada suatu hari ketika suamiku sedang menyembelih kambing korban, dan pada aku mempunyai dua orang anak yang sudah boleh bermain dan yang satu masih menyusu, dan ketika aku bangun untuk membuat makanan, tiba-tiba anakku yang agak besar berkata pada adiknya, "Hai adikku, sukakah aku tunjukkan padamu bagaimana ayah menyembelih kambing ?"
Jawab adiknya, "Baiklah kalau begitu ?"
Lalu disuruh adiknya baring dan disembelihkannya leher adiknya itu. Kemudian dia merasa ketakutan setelah melihat darah memancut keluar dan lari ke bukit yang mana di sana ia dimakan oleh serigala, lalu ayahnya pergi mencari anaknya itu sehingga mati kehausan dan ketika aku letakkan bayiku untuk keluar mencari suamiku, tiba-tiba bayiku merangkak menuju ke periuk yang berisi air panas, ditariknya periuk tersebut dan tumpahlah air panas terkena ke badannya habis melecur kulit badannya. Berita ini terdengar kepada anakku yang telah berkahwin dan tinggal di daerah lain, maka ia jatuh pengsan hingga sampai menuju ajalnya. Dan kini aku tinggal sebatang kara di antara mereka semua."

Lalu Abul Hassan bertanya, "Bagaimanakah kesabaranmu menghadapi semua musibah yang sangat hebat itu ?"
Wanita itu menjawab, "Tiada seorang pun yang dapat membedakan antara sabar dengan mengeluh melainkan ia menemukan di antara keduanya ada jalan yang berbeda. Adapun sabar dengan memperbaiki yang lahir, maka hal itu baik dan terpuji akibatnya. Dan adapun mengeluh, maka orangnya tidak mendapat ganti yakni sia-sia belaka."

Demikianlah cerita di atas, satu cerita yang dapat dijadikan tauladan di mana kesabaran sangat digalakkan oleh agama dan harus dimiliki oleh setiap orang yang mengaku beriman kepada Allah dalam setiap terkena musibah dan dugaan dari Allah. Kerana itu Rasulullah s.a.w bersabda dalam firman Allah dalam sebuah hadith Qudsi,: " Tidak ada balasan bagi hamba-Ku yang Mukmin, jika Aku ambil kekasihnya dari ahli dunia kemudian ia sabar, melainkan syurga baginya." Begitu juga mengeluh. Perbuatan ini sangat dikutuk oleh agama dan hukumnya haram. Kerana itu Rasulullah s.a.w bersabda,: "Tiga macam daripada tanda kekafiran terhadap Allah, merobek baju, mengeluh dan menghina nasab orang."
Dan sabdanya pula, " Mengeluh itu termasuk kebiasaan Jahiliyyah, dan orang yang mengeluh, jika ia mati sebelum taubat, maka Allah akan memotongnya bagai pakaian dari wap api neraka." (Riwayat oleh Imam Majah) Semoga kita dijadikan sebagai hamba Tuhan yang sabar dalam menghadapi segala musibah.

SAIDINA ALI DAN PEMINTA SEDEKAH

Siti Fatimah, isteri Saidina Ali didatangi seorang peminta sedekah. Ketika itu Saidina Ali mempunyai 50 dirham. Setelah menerima wang, pengemis itu pun balik. Di tengah jalan, Saidina Ali bertanya berapa banyak yang diberi oleh Saidatina Fatimah. Apabila diberitahu 25 dirham, Saidina Ali menyuruh pengemis itu pergi sekali lagi ke rumahnya. Pengemis itu pun pergi dan Fatimah memberikan baki 25 dirham kepada pengemis itu.

Selang beberapa hari, datang seorang hamba Allah berjumpa Saidina Ali dengan membawa seekor unta. Orang itu mengadu dalam kesusahan dan ingin menjualkan untanya. Saidina Ali tanpa berlengah menyatakan kesanggupan untuk membelinya, meskipun ketika itu dia tidak berwang. Dia berjanji akan membayar harga unta itu dalam masa beberapa hari.

Dalam perjalanan pulang, Saidina Ali berjumpa dengan seorang lelaki yang ingin membeli unta itu dengan harga yang lebih tinggi daripada harga asal. Saidina Ali pun menjualkan unta itu kepada orang itu. Setelah mendapat wang, Saidina Ali pun menjelaskan hutangnya kepada penjual unta.

Beberapa hari kemudian, Rasulullah saw berjumpa Saidina Ali lalu bertanya "Ya Ali, tahukah kamu siapakah yang menjual dan membeli unta itu?" Apabila Saidina Ali mengatakan tidak tahu, Nabi menerangkan yang menjual itu ialah Jibril dan yang membelinya ialah Mikail.

MORAL & IKHTIBAR

o Allah membalas atau memberi ganjaran berlipat ganda jika kita menolong orang yang dalam kesusahan.

o Memberikan bantuan kepada orang yang susah merupakan satu aset yang balasannya akan diterima di dunia lagi.

o Berikanlah bantuan kepada orang yang berada di dalam kesempitan kelak Allah akan melepaskan kita semasa kita berada dalam kesusahan.

Keyakinan kepada balasan baik Allah merangsang kita untuk melakukan amalan dan kebajikan dengan lebih banyak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar