blog ini berasal dari berbagai sumber, berisi artikel, makalah, khutbah Jumat, e-book, dan informasi keislaman lainnya. Semoga Allah selalu menunjuki kita jalan kebenaran dan mampu mengikutinya. Amin. Semoga Bermanfaat.
Senin, September 24, 2018
Kamis, Agustus 21, 2014
Kuthbah Jumat (cara berinteraksi dengan alqur'an)
CARA BERINTERAKSI DENGAN AL-QUR’AN
Oleh: H. Marhadi Muhayar, Lc, M.A.
إِنَّ الْحَمْدَ
لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَسْتَهْدِيْهِ وَنَعُوذُ
بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ
إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ
الْقِيَامَةِ.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ
بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ
الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ
وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وَقَالَ تَعَالَى أَيْضًا: يَا أَيُّهَا النَّاسُ
اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا
زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ
الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ
رَقِيْبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً
سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ
يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا. أَمَّا بَعْدُ؛
Jamaah
shalat Jumat rahimakumullah…
Memahami dan mengamalkan al-Qur’an
dalam menjalankan kehidupan sehari-hari bagi umat Islam suatu kewajiban yang
tidak bisa dihindari, jika dia ingin selamat didunia. Sebab al-Qur’an yang
diturunkan melalui Rasulullah merupakan firman Allah yang begitu luas maknanya
yang tersurat maupun tersirat.
Apabila
kita bertanya dimanakah letaknya keindahan, kebesaran, serta keagungan Islam? jawabanya
semua keindahan, semua kebesaran, dan semua keagungan terletak didalam kitabnya
umat Islam yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril yakni
al-Qur’anul karim. Semakin banyak orang memahami, semakin orang mendalami
tentang isi al-Qur’anul karim, maka dia akan semakin merasakan betapa
indahnya keagungan serta kebesaran
daripada al-Qur’an itu. Oleh karena itu, banyak sebagian umat non Islam mereka
selanjutnya masuk ke dalam Islam, karena mereka tahu tentang kandungan, keagungan
serta kebesaran dari pada bacaan ayat-ayat yang terdapat dalam al-Quran, sehingga
para pemikir, tokoh-tokoh yang memeluk pada ajaran Islam, mereka mengatakan : “Segala
puji bagi Allah yang menunjukan kami kepada Islam sebelum kami mengenal kepada
orang Islam” Artinya , seandainya jika
mereka melihat kondisi umat Islam ini, mereka tidak pernah akan menemukan petunjuk
dari Allah swt karena umat Islam di anggap oleh mereka tidak mencerminkan dari
pada isi al-Quran .
Oleh
karena itu, betapa pentingnya kita
mempersiapkan, membangun satu generasi umat yang mengarahkan kepada al-Quran,
karena dari al-Quran ini mereka akan betul-betul mendapatkan satu keyakinan.
Rasulullah saw bersabda “Didiklah, tanamkanlah kepada putra-putrimu untuk
mencintai Al-Qur’an” dalam tiga hal
:
1. Al-Qur’an Hubban, al-Qur’an sebagai Kekasih.
1. Al-Qur’an Hubban, al-Qur’an sebagai Kekasih.
Bagaimana kita menanamkan rasa cinta kepada al-Qur’an?
yang pertama kali adalah mengenalkan al-Qur’an
kepada anak. Maka kenalkanlah al-Qur’an terhadap generasi kita, karena dengan
mengenal al-Qur’an selanjutnya akan mempunyai kecintaan terhadap Al-Qur’an.
Tentunya yang pertama kali kita mengenalkan bahwa al-Qur’an adalah Kalamullah
( firman Allah ). Kalau sudah
firman Allah berarti sifat-sifat Allah, kalau sudah sifat al-Qur’an berarti al-Qur’an
itu kekal, al-Qur’an itu artinya atau terjemahannya tidak akan hancur dan tidak
akan musnah, karena sifat-sifat Allah tersebut yang berarti kekal. Allah swt
berfirman yang artinya “ Sesungguhnya
kami menurunkan al-Qur’an dan kamilah yang akan menjaganya “. Maka jelas
Allah akan menjaga al-Qur’an itu
sendiri baik bacaannya, lafadznya, maupun ejaannya Allahlah yang memelihara, Allah
jaga keasliannya dan kemurniannya tentang keutuhan al-Qur’an. Kecantikan al-Qur’an
secara lafadznya, Allah menjaganya melalui dada orang-orang yang hafal al-Qur’an.
Dalam memelihara al-Qur’an juga Allah menanamkan kesadaran terhadap orang Islam
sehingga mereka berlomba-lomba untuk mencetak al-Qur’an dalam bentuk seindah
mungkin. Hal yang terbiasa bukan hanya orang Islam saja yang mencetak al-Qur’an,
dengan lidah orang kafir pun ikut mencetaknya dengan indah, dimana di Perancis,
di Inggris, Jerman, mereka mencetak al-Qur’an dengan indah dengan tulisan emas
tanpa sedikitpun di kurangi kadar keemasannya dan satu huruf pun tidak ada yang
di kurangi, mereka tidak menyadari kalau sebetulnya mereka juga ikut menjaga
keutuhan akan al-Qur’an tersebut.
Oleh karena
itu al-Qur’an adalah kalamullah, tentu bahasa yang digunakan dalam al-Qur’an di
luar dari pada kemampuan manusia. Ketika al-Qur’an di turunkan, bangsa Arab
yang pintar akan karya sastra, begitu juga karya sastra yang mereka kuasai sehingga
ada beberapa syair-syair yang kita kenal : yaitu syair tujuh orang yang telah
lolos dari pada penyisihan lalu di gantungkan di tembok-tembok ka’bah, kemudian
al-Qur’an datang pada mereka. Ketika mereka melihat, mendengar dan membaca dari
pada isi al-Qur’an, mereka
berkesimpulan, ini bukan bahasa manusia, kalau seorang pengajar dengan syairnya
akan memuaskan pembacanya dan pendengarnya, kalau kita mendengar bahasanya
seorang Filosofis, kita akan puas dengan logika yang mereka pakai, tapi
perasaanya tidak pernah puas, ketika kita membaca syair, perasaan kita puas
tapi logika kita tidak akan puas. Berbeda dengan al-Qur’an, ketika kita membaca
bukan saja perasaan kita yang begitu tersentuh, tetapi logika kita juga ikut
merasa puas, karena al-Qur’an bukan bahasa penyair, bukan bahasa
Filosofis, tapi al-Qur’an adalah kalamullah, tentu kita tidak akan kecewakan
indahnya, nikmatnya perasaan kepuasan ketika membaca al-Qur’an kalau kita tidak
sambil memahami dari pada bacaan dalam al-Qur’an tersebut.
2. Al-Qur’an
Mu'jizatan, al-Qur’an sebagai Mukjizat
Mukjizat yang Allah
berikan kepada Nabi Muhammad Saw, setiap Rasul Allah berikan mukjizat sesuai
dengan rintangan yang Allah berikan kepada mereka. Diantaranya Nabi Musa Allah
berikan mukjizat dengan tongkatnya, Nabi Isa Allah berikan mukjizat dengan bisa
mengobati orang-orang yang sakit yang orang lain tidak bisa mengobatinya serta
Nabi Isa bisa menghidupkan orang mati, tetapi semua apa yang mereka dapatkan,
Allah tidak mewariskannya kepada umat-umat mereka. Tongkat Nabi Musa setelah
Nabi Musa wafat tongkatnyapun di ambil oleh Allah Swt. Nabi Isa sebagai Dokter,
maka ketika Nabi Isa di angkat oleh Allah semua kedokterannya pun di angkat
karena mukjizat yang Allah berikan kepada Nabi-Nabi hanya bersifat lokal,
bersifat temporal ( sementara ) kecuali mukjizat yang di berikan kepada Nabi
Muhammad Saw selain mukjizat dalam bentuk kauniah sementara, tetapi juga di
berikan mukjizat yang sifatnya lokal, yang tidak akan pernah berubah adalah al-Qur’anul
karim. Ketika Nabi Muhammad menghadap kepada Allah Swt, al-Qur’an tersebut di
wariskan Nabi kepada umatnya. Ini artinya yang memperoleh mukjizat dari Allah bukan
hanya Nabi Muhammad Saw, tetapi semua umatnya pun mendapatkannya yakni al-Qur’anul
karim. Akan tetapi betapa bodohnya kita, betapa lalainya kita, ketika
memperoleh sesuatu yang berharga yang tiada taranya, tetapi kita sia-siakan
dengan hanya memakai hawa nafsu saja tanpa memikirkan akherat kelak. kita menyia-nyiakan al-Qur’an, padahal kita
tahu bahwa al-Quran adalah mukjizat yang apabila kita baca dengan
sungguh-sungguh kita pahami, serta kita peraktekan dan kita amalkan dalam
kehidupan sehari-hari, maka sama dengan memperoleh mukjizat dari Allah Swt.
Seandainya kita termasuk
orang yang Iman melaksanakan al-Qur’an, katakanlah tidak seluruhnya daripada al-Qur’an
kita amalkan, misal hanya satu kata saja, maka kita termasuk orang-orang yang
mendapat petunjuk dari Allah SWT, karena dengan satu kata itu akan tercermiin
semua aktifitas kehidupan kita ke jalan yang diridloi Allah swt.
Firman yang pertama kali
Allah turunkan kepada Nabi Muhammad adalah surat al-Alaq yaitu “Iqra”
yang artinya adalah bacalah, Baca disini bukan hanya membaca yang berupa
tulisan saja, tetapi termasuk juga meneliti, merenungkan dengan melakukan
observasi terhadap keadaan sekarang ini, apakah sesuai dengan apa yang
diharuskan oleh al-Qur’an tersebut atau tidak? apapun kapasitas kita, apakah
sebagai pedagang, apabila mendengar pesan Allah “Iqra” maka dia harus
pandai membaca agar dagangannya lancar dan sukses, tentunya membaca kondisi, membaca
harga, membaca barang yang akan dijual, baik itu jenis produknya, jenis barangnya.
Membaca watak konsumen. Seorang pemimpinpun demikian harus pandai membaca
kondisi rakyatnya, negaranya, kekayaan negaranya, maju mundur negara,
kemiskinan dalam negaranya sebab akibat
yang ditimbulkan. Dengan “Iqra” maka kita akan meraih kesuksesan. Karena
al-Qur’an merupakan mukjizat yang didalamnya berupa cara-cara dalam hidup yang
akan membimbing kita baik dalam usaha sampai masalah ajalnya, dan termasuk
orang yang beruntung tentunya dengan petunjuk al-Qur’an tersebut.
3.
Al-Qur’an hudan, al-Qur’an
sebagai Petunjuk.
Didalam surat al-Baqarah
Allah berfirman yang Artinya : “Bulan Ramadhan yang diturunkan didalamnya al-Qur’an
petunjuk bagi manusia”. Diakui atau tidak bahwa kemajuan yang dicapai umat
manusia sekarang ini ternyata tidak lepas daripada petunjuk al-Qur’an. Kemajuan
teknologi yang dicapai oleh bangsa Amerika tidak lepas daripada isyarat al-Qur’an,
contoh : Dalam surat aL-Mulk Allah menjelaskan “ Apakah mereka tidak
melihat bagaimana burung-burung itu bisa terbang diangkasa, bisa melepaskan
sayapnya”. Padahal kita selaku orang Islam hanya dapat membacanya saja,
tapi yang memperaktekannya justru orang non muslim. Dari ayat-ayat ini
orang-orang non muslim berfikir bagaimana menciptakan sesuatu yang bisa terbang
dengan teknologi tinggi, dan dengan pemikiran yang sangat mendalam, akhirnya
mereka mampu menciptakan suatu pesawat yang bisa terbang, maka terciptalah
pesawat terbang, oleh karena itu kemajuan teknologi dalam aspek kehidupan ini
tidak bisa lepas daripada al-Qur’an.
Al-Qur’an merupakan petunjuk
bagi mereka yang bertakwa. Bagi orang yang bertakwa terdapat tiga Fungsi daripada
al-Qur’an :
1. Petunjuk dalam
masalah keyakinan. Bagaimana seharusnya manusia memahami dan meyakini akan
hakikat keberadaan Allah SWT sebagai Tuhannya, semua tertera dalam al-Qur’an.
2. Petunjuk tentang
syariat dalam agama dan juga tentang persoalan-persoalan hubungan manusia dengan
Allah, serta manusia dengan manusia.
3. Petunjuk masalah
Akhlak. Bagi orang yang beriman yang percaya kepada Allah maka dimanivestasikan
dalam perilaku yang sesuai dengan ajaran Islam.
Oleh karena itu kita berharap mudah-mudahan putra-putri kita termasuk orang
yang mencintai al-Qur’an. Karena dengan memupuk kecintaan terhadap al-Qur’an,
mereka akan selalu ingin membacanya dan mengamalkannya karena al-Qur’an
merupakan sumber kesuksesan serta kebahagiaan di dunia dan akherat. Mudah-mudahan
Allah SWT selalu memberikan taufik dan hidayahnya kepada kita, dan menanamkan
rasa cinta terhadap al-Qur’anul karim.
بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ
فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الآيَاتِ
وَالِّذكْرِ الْحَكِيمِ ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ
السَّمِيعُ الْعَلِيمُ ، أَقُولُ قَوْلِي هذَا وَأَسْتَغْفِرُ الله الْعَظِيمَ لِي
وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ ، وَالْمُؤْمِنِينَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوهُ فَيَا فَوْزَ الْمُسْتَغْفِرِينَ وَيَا نَجَاةَ
التَّائِبِين، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Jumat Kedua
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ
نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَسْتًهْدِيْهِ وَنَعُوذُ بِاللهِ
مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ
فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ
إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى
آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.
أَمَّا بَعْدُ؛
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ
عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَارْضَ عَنْ سَادَاتِنَا أَصْحَابِ رَسُوْلِكَ
صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ اِلَي يَوْمِ
الدِّيْنِ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ إِنَّا
نَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ.
اَللَّهُمَ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ وَآمِنْهُمْ فِيْ أَوْطَانِهِمْ. رَبَّنَا
آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ
النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ
يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى
عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ
فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.وَأَقِمِ الصَّلاَةِ!
Khutbah Jumat (Makrifat Melalui Akal)
BERMAKRIFAT MELALUI AKAL
Oleh : H. Marhadi Muhayar, Lc., M.A.
إِنَّ الْحَمْدَ
لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَسْتَهْدِيْهِ وَنَعُوذُ
بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ
إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ
الْقِيَامَةِ.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ
بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ
الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ
وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وَقَالَ تَعَالَى أَيْضًا: يَا أَيُّهَا النَّاسُ
اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا
زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ
الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ
رَقِيْبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً
سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ
يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا. أَمَّا بَعْدُ؛
Jamaah
shalat Jumat rahimakumullah…
Sebagai seorang muslim, kita selalu diarahkan oleh
al-Qur’an dan al-Sunnah agar senantiasa meningkatkan makrifat atau pengenalan
diri kita kepada Dzat Pemelihara alam semesta, Allah swt. Bermakrifat kepada
Allah merupakan salah satu bagian dari ibadah /yang paling mulia dan luhur bagi setiap muslim. Mengenal
Allah dengan makrifat yang sempurna merupakan pondasi yang teramat kokoh bagi
seluruh keyakinan dan kehidupan rohani seseorang.
Bermakrifat kepada Allah merupakan sumber dari
kepercayaan dan keimanan yang diajarkan Islam, seperti kepercayaan kepada
malaikat, para nabi dan rasul, kitab-kitab suci, hari akhirat dan kepercayaan
lain yang harus diyakini oleh setiap pribadi mukmin. Mengenal Allah swt bisa dilaksanakan
dengan dua cara, yaitu dengan cara memahami asma (nama-nama) Allah yang mulia
dan agung, yang biasa dikenal dengan sebutan al-asma al-husna, atau
bermakrifat dengan menggunakan akal fikiran.
Manusia sebagai makhluk yang paling sempurna dibekali
akal dan fikiran oleh Allah swt diarahkan agar selalu menggunakan karunia yang
agung ini sesuai dengan fungsinya yang sangat dominan. Seluruh anggota tubuh
manusia mempunyai tugas masing-masing yang berbeda (job description). Tugas
tersebut harus terus dipikul oleh setiap insan dan tidak pernah berhenti selama
hayat masih dikandung badan.
Tugas akal fikiran adalah memikirkan, menganalisa,
memeriksa, mengamati, dan meneliti hal-hal yang perlu diperhatikan. Apabila
akal dan fikiran yang kita miliki dan amat berharga itu tidak digunakan dengan
semestinya, maka akan sia-sialah karunia yang mulia itu, sehingga akan
menyebabkan kebekuan dan kejumudan dalam menjalani rona-rona kehidupan.
Ajaran Islam menghendaki agar akal yang dimiliki setiap
insan itu digunakan sebaik-baiknya, segera bekerja melepaskan belenggu yang
mengekangnya, cepat bangkit dari tidur nyenyaknya, kemudian mulai memikirkan,
menganalisis, memperhatikan, dan meneliti setiap hal yang ada di sekitarnya.
Kegiatan seperti ini termasuk dalam inti peribadatan yang bermutu terhadap
Allah swt, sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya, “Katakanlah,
perhatikanlah olehmu segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi...” (QS.
Yunus, 10:101).
Seorang mukmin dibimbing oleh al-Qur’an agar selalu
mengadakan pemikiran terhadap segala sesuatu yang dijumpainya, kemudian dari
pemikiran itu akan diperoleh pelajaran-pelajaran yang berharga bagi dirinya dan
bagi masyarakatnya. Di samping mengadakan penyelidikan dan penelitian dalam
segala bidang kehidupan, seorang mukmin juga diharapkan agar menyertakan niat
yang tulus dan ikhlas untuk beribadah kepada Allah selama dalam proses
penelitian tersebut. Dengan demikian, seorang mukmin yang diridhai oleh Allah
adalah orang yang senantiasa menjaga keseimbangan (balance) antara
beribadah dan berfikir. Setiap orang yang senantiasa menjaga keseimbangan
antara berfikir, beribadah (mahdhah), dan beraktifitas, ia akan
menjumpai bahwa kegiatan-kegiatan yang rutin dilakukannya itu ada yang bersifat
ta’abbudi (ritual) dan ta’aqquli (rasional). Allah swt
berfirman, “Katakanlah: "Sesungguhnya aku hendak memperingatkan
kepadamu suatu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas)
berdua-dua atau sendiri-sendiri; kemudian kamu fikirkan (tentang Muhammad)
tidak ada penyakit gila sedikitpun pada kawanmu itu. Dia tidak lain hanyalah
pemberi peringatan bagi kamu sebelum (menghadapi) azab yang keras.” (QS.
Saba, 34:46)
Orang-orang yang mengingkari karunia akal dan fikiran
yang agung itu dengan tidak menggunakannya sebaik mungkin, maka mereka akan
tercampakkan dalam lembah kehinaan dan kenistaan. Kerendahan dan kehancuran
akan menimpa mereka dalam kehidupan di dunia sekarang ini, lebih-lebih di
akhirat nanti. Manusia yang berkarakter seperti di atas sungguh sangat dicela
oleh al-Qur’an yang mengemban nilai-nilai kebenaran. Di samping itu mereka pun
akan dicemooh dan disingkirkan oleh orang-orang cerdik-cendekia karena sudah
tidak sejalan dengan nilai-nilai peradaban yang semakin berkembang. Dalam hal
ini, Allah berfirman, “Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di
langit dan di bumi yang mereka lewati, tetapi mereka tidak memperhatikannya.”
(QS. Yusuf, 12:105)
Dalam realita yang terjadi di tengah-tengah masyarakat
sekarang ini, banyak dijumpai orang-orang yang berpaling dari tanda-tanda
kekuasaan dan kebesaran Allah, padahal
tanda-tanda tersebut sering bahkan selalu mereka dapati dengan jelas di depan
mata. Kendati peringatan demi peringatan terus berkali-kali diarahkan, mereka
tetap saja tidak mau menolehnya. Mata hati mereka telah tertutup dengan
kesombongan, dosa, dan kemunafikan. Inilah maksud ayat al-Qur’an yang berbunyi,
“Dan sekali-kali tiada datang kepada mereka suatu tanda dari tanda-tanda
kekuasaan Tuhan mereka, melainkan mereka selalu berpaling daripadanya.”
(QS. Yasin, 36:46)
Tidak berfungsinya akal fikiran seseorang menurut cara
yang semestinya, akan menjadikan status dan kedudukan manusia sebagai makhluk
yang berakal menurun, dari makhluk yang terpuji menjadi makhluk yang paling
rendah dan hina, sebagaimana yang disinggung dalam ayat al-Qur’an, “Demi
(buah) Tin dan (buah) Zaitun, dan demi bukit Sinai, dan demi kota (Mekah) ini
yang aman, sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang
sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya
(neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka
bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.” (QS. al-Tin, 95:1-6)
Apabila seorang manusia tidak beriman kepada Allah dan
selalu berbuat kerusakan di muka bumi, maka ia sungguh akan menjadi ‘monster’
yang paling berbahaya dibanding dengan makhluk apapun di muka bumi ini.
Kerusakan dan kejahatan yang ditimbulkan oleh orang seperti ini akan menjadi
bumerang bagi kelangsungan tatanan hidup yang sudah tertanam beradab-abad tahun
lamanya. Asumsi tersebut diperkuat oleh adanya bukti-bukti yang terjadi di masa
sekarang ataupun di masa-masa yang telah lampau. Oleh karena itu, kita tidak
merasa heran jika tindakan mereka brutal, tanpa perikemanusiaan, dan membabi
buta untuk melampiaskan nafsu duniawi sesaat, tanpa berpikir atau memikirkan
dampak yang timbul dari perilakunya. Dalam al-Qur’an, mereka dianggap seperti
hewan yang tidak menggunakan akal dan fikiran dalam mengambil tindakan, bahkan
mereka lebih sesat lagi. Sebab binatang berkelakuan amoral karena tidak
dikarunia akal dan fikiran, sementara manusia yang amoral itu karena mereka
tidak menggunakan akal dan fikiran yang telah dikaruniakan kepada mereka. Dalam
hal ini, Allah swt berfirman, “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi
neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati, tetapi
tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), mereka mempunyai mata
(tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan
mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar
(ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih
sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf, 7:179)
Bermakrifat kepada Allah dengan akal fikiran artinya
adalah bahwa kita harus meningkatkan daya mengenal kita kepada Sang Pencipta (al-Khaliq)
dengan memikirkan ayat-ayatnya, baik yang tertulis (yaitu al-Qur’an) maupun
yang terhampar (yaitu segala ciptaan-Nya di muka bumi ini). Dengan memikirkan,
menganalisis, memperhatikan, meneliti, dan mengkaji itu semua, kita akan
memperoleh makrifat atau pengenalan kepada Allah swt yang lebih sempurna.
Kita tidak bisa memikirkan Dzat Allah karena hal itu
berada di luar jangkauan akal manusia. Apabila seseorang memikirkan Dzat Allah,
maka ia akan tersesat dan terjerembab dalam noda-noda syirik. Sebuah riwayat
yang diabadikan oleh al-Qur’an tentang keinginan Nabi Musa as untuk melihat
Tuhannya menggambarkan bahwa manusia, hatta setingkat Nabi, tidak akan
mampu menjangkau Dzat Tuhannya secara kongkrit. Lebih lengkapnya, ayat
al-Qur’an yang bercerita tentang hal ini adalah sebagai berikut, “Dan
tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami
tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa:
"Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat
kepada-Mu". Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup
melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya
(sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Tuhannya
menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan
Musapun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha
Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama
beriman". (QS. al-A’raf, 7:143).
Alangkah baiknya jika kita mencontoh sosok Nabi Ibrahim
dalam petualangannya untuk bermakrifat kepada Allah, sebagaimana dilukiskan
dalam al-Qur’an, “Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim
tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi, dan (Kami
memperlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin. Ketika
malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata:
"Inilah Tuhanku" Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata:
"Saya tidak suka kepada yang tenggelam". Kemudian tatkala dia melihat
bulan terbit dia berkata: "Inilah Tuhanku". Tetapi setelah bulan itu
terbenam dia berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk
kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat". Kemudian tatkala
dia melihat matahari terbit, dia berkata: "Inilah Tuhanku, ini yang lebih
besar", maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata: "Hai
kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.
Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan
bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk
orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” (QS. al-An’am, 6:76-79). Hal ini
diperkuat oleh sebuah hadits yang berbunyi, “Renungkanlah semua makhluk
Allah dan jangan sesekali memikirkan Dzat-Nya, karena akal fikiranmu tidak akan
mampu menjangkau-Nya.”
Makrifat Menuntun Manusia Untuk Bersyukur
Setiap insan yang mempergunakan akalnya untuk bermakrifat
kepada Allah, maka kualitas imannya akan lebih sempurna dan lebih tinggi dari
iman yang dimiliki orang awam. Seorang dokter yang memahami secara detail
bagaimana fungsi dari organ-organ tubuh manusia, ia akan merasakan keagungan
dan kekuasaan Allah begitu kuat dalam dirinya. Dengan menghayati keagungan dan
kekuasaan Allah itu, maka kualitas imannya akan semakin sempurna. Demikian juga
para ilmuwan lainnya dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan, seperti ahli
biologi, geologi, astronomi, fisika, teknologi, dan sebagainya, mereka akan
menyelami makrifat kepada Allah dengan melalui bidang ilmu yang ditekuninya.
Dan tentu saja ilmu mereka, jika digunakan semestinya, akan mengantarkan
kualitas iman mereka pada tingkat yang lebih sempurna.
Orang yang tidak memiliki ilmu dan tidak mau menggunakan
akal fikirannya dengan baik, akan sedikit sekali mensyukuri nikmat dan karunia
yang telah diberikan oleh Allah kepadanya. Bahkan sebaliknya, mereka sering
mengeluh terhadap semua hal yang dialaminya dalam menjalani hidup ini. Ketika
hujan turun, mereka mengeluh karena beberapa pekerjaannya terbengkalai. Begitu
pula ketika ada terik panas matahari, mereka mengeluhkannya karena panasnya terasa
menyengat kulit. Bahkan ketika mereka menemukan buah-buahan yang rasanya asam,
maka mereka langsung memaki-makinya, tanpa berfikir bahwa semuanya itu adalah
hasil kreasi Allah Sang Maha Pencipta.
Orang yang beriman dan menggunakan akal fikirannya tidak
akan berbuat seperti itu. Mereka tidak banyak mengeluhkan hal-hal yang mereka
jumpai di alam ini, bahkan mereka selalu menanggapinya dengan penuh bersyukur
kepada-Nya. Di saat orang yang berilmu itu menjumpai panas, ia akan merasakan
dan mengetahui betapa banyaknya manfaat dari panas matahari itu untuk manusia.
Ia menganggap hal itu sebagai karunia Allah yang sangat berharga. Oleh karena
itu, ia memanfaatkanya sehingga dapat menghasilkan sumber energi tenaga surya,
pertanian, dan manfaat lainnya yang sangat berguna bagi manusia. Ketika ia
menjumpai hujan, hal itu ia rasakan sebagai suatu karunia Allah, karena dengan
curah hujan tersebut, kelangsungan hidup semua makhluk dapat terjamin dengan
baik. Bahkan ketika ia menemukan buah jeruk yang asam sekalipun, ia cepat-cepat
bersyukur dan mengetahui betapa banyaknya kandungan vitamin C yang ada di
dalamnya, dan hal itu sangat bermanfaat bagi kesehatan manusia.
Semua yang disebutkan di atas sekedar contoh saja, masih
banyak lagi contoh-contoh dan perumpamaan-perumpamaan lainnya di muka bumi ini
yang bisa digali dan diselami dari berbagai peristiwa yang sering dijumpai
dalam kehidupan kita sehari-hari, untuk dicarikan manfaat dari penciptaan itu
semua. Yang jelas, sungguh tidak sama antara orang yang berilmu dengan orang
yang awam, juga antara mereka yang mempergunakan akalnya dengan yang tidak
menggunakannya.
Khutbah Jumat Kedua
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ
نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَسْتًهْدِيْهِ وَنَعُوذُ بِاللهِ
مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ
فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ
إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى
آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.
أَمَّا بَعْدُ؛
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ
عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَارْضَ عَنْ سَادَاتِنَا أَصْحَابِ رَسُوْلِكَ
صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ اِلَي يَوْمِ
الدِّيْنِ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ إِنَّا
نَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ.
اَللَّهُمَ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ وَآمِنْهُمْ فِيْ أَوْطَانِهِمْ. رَبَّنَا
آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ
النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ
يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى
عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ
فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.وَأَقِمِ الصَّلاَةِ!
Khutbah Jumat (Hikmah Kemerdekaan RI)
Hikmah Kemerdekaan Republik Indonesia
Oleh : H. Marhadi Muhayar, Lc., M.A.
إِنَّ الْحَمْدَ
لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَسْتَهْدِيْهِ وَنَعُوذُ
بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ
إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ
الْقِيَامَةِ.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ
بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ
الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ
وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وَقَالَ تَعَالَى أَيْضًا: يَا أَيُّهَا النَّاسُ
اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا
زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ
الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ
رَقِيْبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً
سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ
يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا. أَمَّا بَعْدُ؛
Jamaah shalat Jumat rahimakumullah…
Pada saat
Republik ini lahir dengan mukaddimah UUD 1945nya, yang ketika itu masih berbunyi “Negara berdasarkan ketuhanan dengan
kewajiban menjalankan menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya’
jadi ketika diproklamirkan masih seperti itu kalimah dengan kewajiban
menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya masih tercantum. Baru pada
keesokan harinya pada tanggal 18 Agusatus 1945, apa yang di kenal dengan 7 kata
( dengan menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya ) itu kemudian di
hapus, ini merupakan awal malapetaka, sejak itu kemudian digantilah dengan
berdasarkan Ketuhanan yang maha esa.
60 tahun dengan 6 presiden, mulai dari presiden Soekarno,
Soeharto, BJ Habibie, Gusdur, Megawati, Susilo Bambang Yudoyono. Ada sesuatu
yang perlu kita ambil hikmah dari perjalanan panjang 6 dasa warsa itu, Apa yang
kurang dari sosok presiden Soekarno ?, Dia berhasil mengangkat martabat bangsa
ini di forum internsaional, dia menampilkan diri sebagai seorang pemimpin yang
revolusioner, membawa bangsa ini ke panggung sejarah. Di selengarakannya
konfrensi Asia Afrika. Kemudian konnfrensi ini menjadi pendorong kemerdekaan
negara-negara di Asia Afrika. Besar jasanya bung Karno bagi negara ini, tapi
kekeliruannyapun tidak luput dari sejarah. Dari seorang tokoh yang demokrat
ketika pemerintahan yang parlementer dari 1945-1959. Pemerintahan kita berjalan
dengan meletakan kedaulatan di atas tangan rakyat. Tapi dari tahun 1959-1965
beliau tampil sebagai sosok yang bukan demokrat, tapi beliau terkesan menguasai
semua kekuasaan kenegaraan. Ada yang menyebut beliau berubah dari seorang
demokrat menjadi diktator. Ahirnya takdir Allah berlaku. Bung karno tumbang
sesudah terjadinya peristiwa G 30 SPKI. Ketika beliau berkuasa teman-teman
sejawatnya banyak yang di tangkap dan di jebloskan ke penjara. Pancasila
kemudian di peras –peras menjadi trisila, dari trisila menjadi ekasila,
porosnya Nasakom, kemudian nasakom sampai-sampai dinyanyikan oleh anak-anak di
sekolah rakyat, “ nasakom jiwaku “ lahir undang-undang Subversi dan sebagainya.
Ahirnya bung Karno seolah-olah berada di atas hukum. Seharusnya suatu negara
berada dengan memberlakukan The rule of the law tapi yang berlaku the law of
the rule. Jadi sang penguasa berada di atas hukum bukan hukum di atas penguasa.
Inilah awal sejarah bangsa tentang jatuhnya seorang presiden dari kursinya.
Kemudian naiklah presiden Soeharto. Pak Hartopun pada awal
pemerintahannya sangat demokratis, memperhatikan aspirasi-aspirasi rakyatnya.
Pembangunanpun berhasil meskipun meninggalkan hutang yang tidak kecil, tapi
rakyat menikmati hasil pembangunan. Tetapi badai menerpa Indonesia. Kita
mengalami krisis moneter tahun 1997, di susul dengan krisis ekonomi kemudian krisis politik dan ahirnya krisis
kepemimpinan nasional. Kembali kita menyaksikan sejarah tumbangnya seorang
presiden. Pak Harto tumbang dan digantikan oleh Presiden Habi bie. Berapa lama
Bung Karno berkuasa ? Bung karno berkuasa selama 21 tahuin, Pak Harto berkuasa
selama 32 tahun, kalau sekarang negara kita akan 60 tahun, maka 53 tahun
kekuasaan hanya di tangan dua sosok presiden, sisa tujuh tahun. Habibie 518
hari, Gusdur tidak sampai 22 bulan selebihnya Megawati dan Susilo. Pak Susilo
pemerintahannya belum genap satu tahun, nanti pada 20 Oktober baru genap satu
tahun. Inilah sejarah perjalanan suatu bangsa. Rakyat belum menikmati secara
merata pembangunan-pembangunan baik di pusat maupun di daerah-daerah. Lebih
dari 40 juta hidup dibawah garis kemiskinan,
SDM kita rendah tarap pendidikan kita rendah, SDM kita peringkat 77
bandingkan dengan vietnam peringkat 76. Malaysia peringkat 45 dan Singapura
peringkat 35 negara kita jauh tertinggal. Yang sangat memprihatinkan kita
justru pada hal-hal buruk Indonesia berada di depan, contohnya pornograpi
indonesia menempati posisi ke dua menurut The
asosiated press setelah swedia. Aborsi Indonesia sangat tinggi, setiap
tahun sangat tinggi, setiap tahun Aborsi diperkirakan mencapai 3 juta jiwa dan
20 % pelakunya puteri-puteri remaja yang belum menikah. Korupsi kita parah
sekali, untuk tingkat Asia kita nomor satu, untuk tingkat dunia kita peringkat
ke lima. Itulah sebabnya presiden SBY bertekad untuk mengurangi korupsi dan
tidak ada hentinya kata beliau untuk memberantas korupsi, saya rasa rakyat akan
memberikan dukungan penuh dalam upaya-upaya menjadikan pemerintahan ini bersih
dari korupsi
Ketika berbicara tentang kekuasaan, ada satu Amanah Allah
di dalam Al-Qur’an yang merupakan ciri seorang mukmin yaitu Amanah. Kekuasaan
itu Amanah, salah satu kriteria Mukmin Allah tegaskan dalam QS.Al- Mukminun : “Walladziinahum
liamaanatihim wa’ahdihim raa’uun”
Apa yang
di sebut Mukmin itu ? Salah satu cirinya adalah orang
–orang yang memelihara amanah yang dipikulnya dan janji-janjinya. Kekuasaan itu
amanah. Presiden kita yang dulu tumbang, baik Bung Karno, Pak Harto,Abdurrahman
Wahid, tidak lepas dari firman Allah tadi, marilah kita renungkan, kalau semua
birokrat kita sadar akan amanah, mulai dari presiden sampai ketua RT mau
memegang amanah, Subhanallah Indonesia akan menjadi Negara makmur dan
sejahtera. Salah satu ciri Iman dan takwa adalah Amanah, sebagaimana firman
firman Allah :
“ Walau anna ahlal quro aamanu wattakau lafatahna alaihim barokatim minassamaai
wal ardi, walakin kadzzabu fa akhodathum bimaa kaanuu yaksibuun.”
Seandainya penduduk negeri ini
beriman dan bertakwa, sungguh akan aku
limpahkan berkah dari langit dan bumi, tetapi jika mereka dustakan
firman-firman kami, maka akan kami siksa mereka sesuai dengan apa yang mereka
kerjakan.
Memelihara hidup yang bersih dari
korupsi, sogok, suap menyuap. Lihatlah berapa Gubernur dalam proses peradilan,
berapa orang dari kalangan DPR di beberapa daerah juga sedang di adili. Kita
menyaksikan KPU dari mulai ketuanya sampai ke bawah berurusan dengan peradilan.
Kenapa bisa terjadi ?, karena korupsi. Lembaga-lembaga terhormat yang untuk
masuk dan duduk begitu sulit seleksinya, ternyata di tengah perjalanan mereka
tidak melakukan apa yang Allah sebutkan dalam Al-Qur’an, yaitu tidak Amanah
dalam dalam tugasnya.
Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam
Ghozali. Imam Ghozali menitipkan kepada kita pilosofi Wudlu, baru wudlu saja
seharusnya orang itu menjadi baik, kalau kita berwudlu dengan sepenuh hati,
kita pahami makna wudlu, betapa dahsyatnya wudlu itu. Bagaimana mungkin kata
Imam Ghozali tangan yang suci karena wudlu mau mengambil yang bukan haknya.
Bagaimana mungkin tangan yang suci karena wudlu mau melakukan
perbuatan-perbuatan dosa. Memark up harga-harga yang harusnya satu juta di buat
tiga juta, itulah yang terjadi di Negara kita. Bagaimana mungkin kaki yang suci
mau melangkah ke tempat maksiat. Itu baru manfaat wudlu apalaghi sholat. Tapi
sekarang kita menyaksikan banyak orang yang tampaknya solat, umroh, bahkan naik
haji berkali-kali, tapi sekarang duduk menjadi pesakitan, terdakwa sidang
pengadilan, mungkin ini yang di sebutkan Rosulullah : Mereka terlihat solat,
tapi sesungguhnya tidak solat, mereka
mungkin terlihat naik haji, tapi sesungguhnya tidak naik haji, dia tidak menghayati
makna solat dan haji.
Kami ingin titipkan apa yang di
sampaikan oleh Imam Syafi’i, kita telah mengetahui yang namanya Al-Qur’an,
firman Allah itu ada 114 surat, tapi kata Imam Syafi’i sungguh luar biasa
seandainya yang di sebut Al-Qur’an itu cukup satu surat, dan surat itu namanya
Al-Ashr, itupun sudah cukup bagi manusia untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia
dan diakherat. Inilah mungkin kilas balik, renungan 60 tahun, Indonesiaku, 60
tahun tanah airku merdeka, kita tidak boleh kehilangan harapan dan putus asa
karena Allah teruskan firmannya tadi ketika Allah berfirman : “Qod
kholat min qoblikum siniina fasiiru fil ardi fandzuruu kaifa kaana aakibatul
mukadziibiin”
Kita
melihat kebelakang sejarah 60 tahun perjalanan republik ini. Jatuh bangunnya suatu kekuasaan itu
suatu penjelasan yang sangat berharga bagi bangsa Indonesia.
“Haadzaa bayaanu linnaasi wahudawwamau’idzotul lilmuttakiin”
Pelajaran
berharga bagi manusia, merupakan petunjuk ( Mauidzoh ) bagi orang-orang
yang bertakwa, lalu Ayat itu di teruskan:
“Walaa tahinuu walaa tahzanuu waantumul a’launa inkuntum mukminiin”
Kita
di larang oleh Allah untuk berputus asa, kehilangan pengharapan, kehilangan
optimisme, kehilangan masa depan, sesungguhnya kalian umat yang tinggi, tapi
ada syaratnya yaitu sekiranya kalian beriman. Inilah syaratnya komitmen Iman,
hanya orang-orang yang beriman yang melahirkan sifat-sifat yang amanah, dan
Amanah itu merupakan tonggak kesatuan Republik Indonesia yang kita cintai. Wallahu
‘alam bisshawab
بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ
فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الآيَاتِ
وَالِّذكْرِ الْحَكِيمِ ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ
السَّمِيعُ الْعَلِيمُ ، أَقُولُ قَوْلِي هذَا وَأَسْتَغْفِرُ الله الْعَظِيمَ لِي
وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ ، وَالْمُؤْمِنِينَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوهُ فَيَا فَوْزَ الْمُسْتَغْفِرِينَ وَيَا نَجَاةَ
التَّائِبِين، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Jumat Kedua
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ
نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَسْتًهْدِيْهِ وَنَعُوذُ بِاللهِ
مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ
فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ
إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى
آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.
أَمَّا بَعْدُ؛
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ
عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَارْضَ عَنْ سَادَاتِنَا أَصْحَابِ رَسُوْلِكَ
صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ اِلَي يَوْمِ
الدِّيْنِ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ إِنَّا
نَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ.
اَللَّهُمَ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ وَآمِنْهُمْ فِيْ أَوْطَانِهِمْ. رَبَّنَا
آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ
النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ
يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى
عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ
فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.وَأَقِمِ الصَّلاَةِ!
Langganan:
Postingan (Atom)